Uncategorized

EKSPEDISI KAMPUNG ARAB – KOSEBA (KOMUNITAS PECINTA SEJARAH BLAMBANGAN)

PARA PEDAGANG YANG MENYEBARKAN ISLAM )*

 

Di halaman rumah kuni arsitektur arab – Kampung Arab – Banyuwangi

 Orang-orang Arab yag saat ini menetap di Indonesia, kebanyakan berasal
dari Hadramaut, Yaman Selatan. Awalnya mereka hanya berminat untuk
berdagang dan baru niat menetap dan memiliki komunitas mulai tahun 1750
keatas (Affandi,1999:61). Sedangkan orang arab dari negara lain seperti
Persia dan Arab Saudi memilih kembali ke negara asalnya setelah urusan
dagangnya selesai.


Penduduk Hadrahmaut terdiri dari empat kelompok utama.

1. Golongan Alawy : Golongan yang menganggap keturunan Nabi Muhammad
SAW. Contoh nama marga dari golongan Alawy antara lain Al-Haddar,
Al-Hamid, Al-Muhdar, Al-Idrus, dan Assagaf

2. Golongan Masyaikh
: Golongan yang biasa disebut Syaikh. Golongan ini merupakan golongan
yang terdiri dari orang terpelajar dan dianggap sebagai pemimpin agama.
Nama-nama marga dari golongan Masyaikh antara lain Bahanna, Basalamah,
BayaQub, Bahasuan dan Baraja

3. Golongan Qabilah : Golongan
yang memiliki kekuasaan di Hadramaut. Antara lain Abud, Abdul Azz,
Addibani, Alhadjri, Alkathiri, Al-Qa’ithi, Ba’asyir, Bafadhal, dan
Basya’i.

4. Golongan Dhuafa : Golongan ini merupakan kelompok
terendah dalam masyarakat Hadramaut. Sebagian besar golongan ini
terdiri dari rakyat jelata yang memiliki matapencaharian sebagai buruh
tani dan budak.

 
 
Namanya Kisma – Dia sahabat saya
Orang Arab diperkirakan masuk ke wilayah
Blambangan (sebelum terbentuk Kabupaten Banyuwangi) sekitar tahun 1766.
Saat itu Pelabuhan Ulu Pampang yang berada di pesisir timur Blambangan
(sekarang Muncar), menjadi salah satu pelabuhan paling sibuk di Selat
Bali dan sekitarnya. Banyak pedagang dari berbagai etnis secara regular
berkumpul di pelabuhan tersebut.
Belanda sendiri benar-benar
menguasai Blambangan pada tahun 1767. Setelah menghadapi perlawanan dari
pasukan Agung Wilis, Belanda memindahkan ibukota Blambangan ke Pampang
dengan alasan lebih dekat dengan pelabuhan sehingga mudah melakukan
pengawasan. Kemudin setelah memenangi Perang Puputan Bayu yang di
pelopori Rempeg Jogopati dan Sayu Wiwit, Belanda kembali memindahkan ibu
kota dari Pampang ke Banyuwangi pada tahun 1774.

Pada tahun
1866, Belanda memberlakukan sistem perkampungan dan kartu tanda jalan
(wijkenstelsel dan passenstelsel) yang ditopang dengan Undang-undang
Kependudukan yang tertuang dalam Indische Statsregeling, yaitu pembagian
berikut perlakuan terhadap masyarakat menurut ras masing-masing yang
terbagi menjadi : 1. Europeaanen (orang-orang Eropa), 2. Veemde
Oostrlingen (golongan Timur Asing, termasuk Arab, India, dan Cina) dan
3. Inlanders atau pribumi.
Implikasi dari kebijakan ini,
terbentuklan pemukiman berdasarkan etnisnya seperti adanya Kampung Cina,
Kampung Arab, Kampung Melayu, Kampung Mandar dan Kampung Bali. Mereka
yang akan keluar dari pemukimannya untuk mengunjungi pemukiman lain
harus mengurus surat jalan. Kebijakan pemisahan inilah yang akhirnya
mengganggu proses asimilasi antara penduduk Hadramaut dan penduduk
pribumi. 

Sejarah Al-Irsyad Al Islamiyah – Banyuwangi

Berg (2010:96-97) mencatat bahwa pada tahun 1885,
jumlah orang Arab yang bermukim di Banyuwangi sekitar 356 orang. Terdiri
dari 84 laki-laki, 25 perempuan dan anak yang lahir di Banyuwangi
sekitar 247 orang. Setiap pemukiman dipimpin oleh seorang kapten yang
setara dengan kepala desa atau lurah. Tugas kapten adalah melakukan
pendataan penduduk, menjaga stabilitas wilayah dan memudahkan pengawasan
sehingga setiap perubahannya dapat terdeteksi.

Kapten Arab
pertama kali diangkat pada tahun 1872. Beberapa Kapten Arab yang pernah
mengepalai suku Arab di wilayah Kampung Arab Banyuwangi yaitu, Datuk
Sulaeman Bauzir, Datuk Dahnan, Habib Assegaf, Ahmad Haddad
(Sholihat,2011:2).  

 
Pantai Ancol – peran perekonomian komunitas arab
 

Dulunnya kampung Arab berada di dekat
Pelabuhan Boom sehingga penduduknya bisa berdagang melalui pelabuhan
yang berada 3 kilometer di timur kota Banyuwangi yang menjadi pelabuhan
utama setelah Ulu Pampang. Setelah Indonesia terbebas dari jajahan
Belanda, kedudukan Kapten Arab dihapuskan. 

Nama Kampung Arab
kemudian diubah menjadi Kebun Jeruk, karena dulunya setiap halaman rumah
warga di penuhi oleh pohon jeruk. Mereka memperdagangkan jeruk khas
Kampung Arab yang terkenal seantero wilayah Banyuwangi dan banyak
digunakan sebagai upacara bagi orang Cina. Jeruk Kampung Arab musnah
setelah adanya bibit penyakit. Pamornya pun di gantikan dengan kehadiran
jeruk Bali.
Kebun Jeruk berganti dengan nama semula yaitu Kampung
Arab yang banyak di huni oleh keturunan-keturunan Arab. Saat ini Nama
Kampung Arab berada di wilayah Jalan Bangka Kelurahan lateng.

Menurut data Kelurahan Lateng tahun 2010, Lateng terbagi menjadi 37 RT
dan 8 RW dengan luas wilayah 70 hektare dan berpenduduk 8.775 jiwa.
Setelah kebijakan wijkenstelsel dihapuskan, banyak orang Arab yang
keluar dari pemukimannya. Terutama golongan Alawi, yang banyak bertempat
tinggal di Kelurahan Singotrunan.

Masjid Al-Hadi – Banyuwangi


  Peran komunitas Arab di Banyuwangi:

1. Penyebaran Agama Islam

Pedagang Hadrahmaut yang datang ke Blambangan menjadi salah satu
pembawa agama Islam sebelum abad 18 yang masih bercorak Hindu. Islam
baru berkembang pesat setelah VOC / Belanda yang bekerjasama dengan
Mataram menguasai Blambangan sekitar tahun 1774. Belanda berkepentingan
terhadap Islamisasi Blambangan untuk memutus Blambangan dari Bali yang
beragama Hindu. Selama ini Bali mempertahankan Blambangan karena menjadi
benteng kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa.

Di awal abad
ke-18, saat pemerintahan Bupati Pringgokusumo, seorang ulama Hadramaut,
Sayyid Datuk Abdurahim Bauzir, di tunjuk untuk menyebarkan Islam di
Banyuwangi. Menurut Hasyim (2011:4), Abdurahim Bauzir menginjakkan kaki
di bumi Nusantara tahun 1800-an. Pertama datang ia memilih Blambangan
sebagai daerah transit sebelum akhirnya melanjutkan syiar Islam ke
perkampungan Melayu, Loloan, Jembrana Bali. Di Loloan, Datuk Ibrahim
Bauzir menikahi seorang gadis setempat Zaenab dan memiliki putra pertama
bernama Syekh Sayyid bakar Bauzir. Namun anak dan istrinya meninggal
dan dimakamkan di Loloan. Datuk Ibrahim memilih kembali ke Banyuwangi
dan bertempat tinggal di Kampung Arab bersama putra keduanya Datuk
Ahmad, dan seorang sahabat karibnya Syekh Hasan hingga Datuk Ibrahim
meninggal di tahun 1876 dan dimakamkan di pemakaman khusus di Kampung
Arab Jalan Basuki Rahmat Banyuwangi.

2. Sosial dan Pendidikan.

Komunitas Arab yang tinggal turun temurun mendirikan organisasi
kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan sosial.
Organisasi yang pertama kali terbentuk adalah Jamiat Khair kemudian di
susul dengan berdirinya Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Organisasi ini berperan
penting dalam pergerakan nasional mendorong kemerdekaan Indonesia serta
mencerdaskan bangsa.
Jamiat Khair membuka cabang di Banyuwangi yang
dikenal dengan nama Al-Khairiyah oleh Hasan Abu Bakar pada tahun 1930.
Sedangkan organisasi yang kedua yang menjadi gerakan Islam modern dan
reformis yaitu Jam’iyat Al-Ishlah wal Irsyad Al-Arabiyyah yang kemudian
dikenal dengan Al-Irsyad Al-Islamiah yang berdiri di Banyuwangi pada
tahun 1927 dengan kegiatan bersifat sosial dengan konsentrasi utama pada
bidang pendidikan. 

 
Peran pendidikan – Al-Irsyad
 3. Adat dan Budaya

Bentuk
akulturasi yang paling nampak bagi orang arab dengan penduduk Banyuwangi
adalah kesenian musik Hadrah. Oraang Arab lebih dulu mengenalnya dengan
sebutan Hajir Marawis, yang digunakan untuk melakukan dakwah kepada
masyarakat Banyuwangi untuk memperkenalkan agama Islam melalui kesenian.
Namun kesenian ini mengalami perubahan dalam masyarakat Banyuwangi yang
tidak dapat langsung dipahami oleh masyarakat. Sehingga orang
Banyuwangi mengganti bacaan yang disyairkan dengan seni Diba’ dan
barzanji yaitu seni sastra puisi yang bernafaskan islam. Selain itu
dalam hal berpakaian juga mempengaruhi masyarakat sekitar yang dulunya
memakai kebaya tetapi sekarang mayoritas berpakaian muslim.

 
Pemasangan Henna / Pacar
Viva Historia!!

*Materi ini diringkas dari tulisan Jejak Bangsa Hadramaut di Banyuwangi
karya Rossi Prima Yunita yang diterbitkan dalam buku “Banyuwangi Dalam
Mozaik 2” oleh Komunitas Pecinta Sejarah Blambangan, 2013.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *