Catatan, Life Style

Eks Gafatar,ketika yang hilang kembali pulang

 

Hari itu, 26 Januari 2016. Banyuwangi menerima kembali 18 warganya yang konon “hilang” karena tergabung di Gafatar. Mereka dinyatakan eks. Kok ya tiba tiba saya trauma sama kata “eks” yang berarti mantan. Semacam kembali pada tahun 1965 saja.

Mereka terdiri dari 3 keluarga dan di dominasi oleh anak anak yang jumlahnya 12. Jadi hanya 6 orang dewasa diantara rombongan mereka. Saat mereka turun dari mobil saya lihat wajah wajah yang lelah. Sangat lelah mungkin. Perjalanan mereka cukup panjang. Kalimantan, Surabaya hingga di Banyuwangi. Saya ndak tahu sudah berapa banyak wawancara yang sudah mereka lakukan. Berapa pertanyaan yang harus mereka jawab.

“Kamu mau ini,” saya menyorongkan kertas lipat warna warni yang saya miliki kepada seorang anak perempuan yang berbaju merah. Rambutnya panjang tidak rapi mengingatkan saya pada anak perempuan yang tinggal di Nepal. Matanya bulat dan hidup. Mengangguk dan tersenyum. dia menyebutkan nama. Sayangnya kami hanya “berteman” tidak lebih dari dua menit.

“Mbak jangan pergi,” dia memegang tangan saya. “Mbak ndak boleh lama lama disini. Dimarahi sama bapaknya itu. Nanti mbak kesini lagi ya. Kamu suka baca?,” saya sempat mengelus pipinya.

Dia mengangguk dan saya berjanji akan kembali untuk membawakan buku bacaan untuk dia.

Buat saya yang pertama kali yan harus diselamatkan adalah anak anak. Mereka mengalami trauma. Apalagi jika mereka benar melihat rumahnnya di Kalimantan dibakar oleh warga. Mereka tidak bisa bermain main bebas karena harus di kawal oleh mereka yang berseragam. Mereka harus berpindah dengan cepat. Katakanlah mereka akan cepat beradaptasi tapi jauh dibalik itu banyak pertanyaan dari mereka yang tidak terjawab dengan tepat. Bagaimana pendidikan mereka selama pelarian yang mereka lakukan.

Mengapa dan kenapa? saya yakin pertanyaan itu muncul di pikiran mereka. Hanya saja mereka tidak bersuara.

Iya yang sering dilupakan mereka adalah pemilik masa depan negara ini.

Saya ndak tau apa yang harus saya lalukan. Melihat mata mata ana anak itu ada rasa haru yang luar biasa. Saya juga ndak nyalahkan orang tuanya. Mereka telah memilih pasti karena sebuah alasan. Iya alasan yang terkadang kita hakimi sebagai sesuatu kesalahan.

Mereka menyimpang atau apalah.

Bagaimana diri kita? diri saya? la wong sholatnya masih bolong bolong mana berani saya bilang mereka murtad. Mau bilang mereka makar? la saya aja masih suka main handphone pas nyanyi lagu Indonesia Raya saat upacara.

Paling tidak malam ini mereka tidur nyenyak di sebuah ruangan yang hangat dengan kasur empuk. Dengan stok makanan dan obat obatan yang cukup. Selangkah lagi mereka akan pulang dan benar benar pulang ke rumah mereka untuk hidup normal.

Ini masih tentang Gafatar. Masih banyak lagi kasus kasus yang belum juga diselesaikan. Apa kabar pengungsi syiah dari Madura dan apa kabar “dosa turunan” dari tahun 65?

Selamat malam Indonesia. Saya berkali kali patah hati tapi saya terus berusaha untuk terus jatuh cinta lagi dan lagi

Semoga Indonesia. Anak anakmu yang “hilang” semoga kembali datang.

 

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *