Catatan, Traveling

Drama 16 hari, mengatur pertemuan Singomanjuruh dan Putri Kala

Pernah jadi mak comblang? saya sih sering. Rasanya jingkrak-jingkrak tidak karuan. Bahagia, semacam mabuk kepayang kayak kena bunga kecubung jika skenario yang disusun berakhir dengan kata “Yes akhirnya mereka jadian”
Syahadan, Singomanjuruh ditemani Mbah Wiyu mendapatkan tugas untuk mengembalikan dunia yang gelap gulita menjadi terang benderang. Lalu dalam perjalanan dia bertemu dengan Putri Kala yang cantik jelita penjaga hutan. Atas bantuan Putri Kala, Singomanjuruh akhirnya menemukan Sang Surya yang hilang dan akhirnya dunia kembali terang benderang.
Singomanjuruh juga menepati janji kepada Putri Kala jika berhasil bertemu dengan Sang Surya, maka dia harus membuat prasasti dari berbagai elemen penting di dunia. Sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia V, prasasti adalah piagam yang tertulis pada batu, tembaga dan sebagainya. Piagam yang kadang berisi janji, atau sumpah atau cerita.

Dan proses untuk mempertemukan Singomanjuruh dan Putri Kala itu tidak mudah. Penuh intrik dan drama hampir selama 16 hari lamanya. Ada puluhan bahkan ratusan orang yang terlibat. Mulai menata skenario, menata tari, musik hingga panggung. Bahkan selama berhari hari mereka harus mendirikan tenda di pinggir lapangan RTH.
Belum lagi pertengkaran, nangis-nangisan,bingung baju apa yang dipakai Singomanjuruh dan Putri Kala. Bagaimana adegan yang harus ditata saat Singomanjuruh bertemu Putri Kala, apakah harus malu-malu seperti Rangga saat bertemu Cinta, atau pakai agenda konyol seperti pertemuan Dilan dan Milea. “Aku ramal kita bertemu lagi di kantin sekolah.” Apa iya kalimat itu yang diucapkan Siongomanjuruh saat bertemu Putri Kala?
Jika boleh copas kalimatnya Capten Tata
Tetap nekat pakai panggung tanpa atap karena pertimbangan artistik. Disaat hujan lagi senang-senangnya turun.
Team dekorasi di lapangan yg berulangkali “disapa” bapak-bapak tak berwujud
Peran ibu Sri, kepala sekolah TK Pertiwi yang bersedia meminjamkan ruang belajar untuk tempat make up dan toilet untuk tamu
Dan para pejuang gorengan, yang jadi lauk terakhir para penampil, disaat konsumsi hanya menyisakan sambal dan kerupuk
Cerita yang jadi pernak pernik. Kecil tapi berkilau. Abadi, dalam ingatan, akan kami kunci dengan rapat. Kami ceritakan kepada generasi setelah kami kelak. Cinta, bangga, haru.
I love u all almost full. Jangan full. Kita beri ruang agar cinta ini terus tumbuh.
—————
Semuanya demi menemukan Singomanjuruh dan Putri Kala untuk menemukan Sang Surya. Ini misi besar yang tidak main-main!!!!

Maka janji itu terwujud. Singomanjuruh membuat Prasasti yang terdiri dari elemen penting dunia ini. Tau apa? anak muda, kerjasama serta kebaikan
Sudah beberapa hari yang lalu Singomanjuruh bertemu dengan Putri Kala, tapi euforio pertemuan tersebut masih dirasakan hingga detik ini bahkan mungkin sampai anak cucu nanti. Mulai dari Pak Camat sampai Pak Linmas.
Dan saya menulis ini sebagai bentuk penghargaan kepada mereka yang telah memberikan kesempatan kepada saya, perempuan lebay nan galau untuk menjadi bagian dari Prasasti yang terdiri dari elemen penting dunia.
Dalam sebuah per-komunitas-an ada dua hal yang harus dipahami. Do dan Think. Ada yang bagian “Do” dan ada yang bagian “Think”. Mengerjakan dan berpikir. Merancang dan mengeksekusi. Dan dua elemen itu sama sama penting. Jangan meremehkan pawang hujan atau emaknya mas Mameth yang bantu buat milihin Lombok buat sambel makan malam. Atau mas Antok dari Cinde Sutro Kemiren yang kebagian melipat kostum pertunjukan. Ati Mimin akun Esingojuruh yang harus kehilangan kuota agar bisa live di Instagram. Semua berperan. Satu peran hilang, tidak akan pernah ada pertemuan antara Singomanjuruh dan Putri Kala di Prasasti 2.
Buat saya, walaupun di gelar di RTH yang jaraknya 20 km dari pusat kota, pagelaran prasasti 2 punya kelas yang spektakuler. Jadi ingat ibu saya yang berpesan, jangan suguhkan makanan enak pada orang yang sering makan enak, tapi suguhkan makanan paling enak untuk orang yang jarang makan enak.
Mereka yang tinggal di desa pun punya hak yang sama untuk mendapat tontonan berkualitas. Tanpa jarak. Tanpa harus intip intip di antara pagar besi dan jarak yang jauh antara yang bersepatu dan bersandal. Tontonan untuk rakyat bukan pejabat dan sekedar menyenangkan satu atau dua orang saja.
Banyak yang terlibat, 80 anak muda yang menari, bernyanyi hingga bermain musik tradisional secara langsung. 200 pemain terbang di Hadrah kolosal. Ratusan anak muda di Forum Karang Taruna Singojuruh dan ribuan warga di sekitarnya. Ini yang namanya kesenian dari akar rumput bukan instruksi atau perintah.
Ini baru permulaan kawan. Baru pertemuan. Singomanjuruh dan Putri Kala belum menikah dan tugas kita masih panjang.
Percaya dengan doa baik? Singomanjuruh sudah bertemu dengan Putri Kala dan siapa tau kau juga akan segera bertemu dengan jodohmu. Tolong aminkan karena hampir 80 persen mereka yang berperan adalah para jomblo yang berkualitas yang sangat hapal Pancasila.
Tidak ada pementasan yang sempurna tapi paling tidak kita sudah berproses dengan gembira.
Mapag Srengenge, buat saya bukan hanya sekedar pementasan, tapi juga pembelajaran bahwa kita bisa melebihi batas yang selama ini tidak pernah disangka-sangka.
Terimakasih Tuhan. Terimakasih Semesta. Terimakasih ibu bumi. Terimakasih orangtua orang tua kami yang memberikan kesempatan kepada kami untuk berproses. Terimakasih para kekasih yang memberi pengertian.
Oh ya, saya cuma menegaskan KTP saya masih Kalipuro. Konon ini yang namanya kolaborasi.
Seni untuk seni. Berkarya lah dengan gembira
Noted
Sengaja saya post banyak foto untuk berbagi kebahagiaan dan aura positif di linimasa. Ada banyak harapan dan kebanggaan di foto foto yang secara acak saya ambil dari dokumentasi panitia.

Terimakasih mas mas fotografer keren yang sudah berpugak-pugak mengambil gambar gambar kece ini
Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *