Catatan, Traveling

Do re mi dan C# (dibaca C kress)

Sore itu, seorang bapak tua menggunakan kemeja batik bertanya kepada saya, apakah tiket pembelian Jazz pantai masih dibuka? Saya bilang langsung saja ke lokasi di Pantai Boom. Bapak itu mengucapkan terimakasih dan bercerita jika baru bisa membeli tiket karena uang iuran baru terkumpul sore itu dan dia mengendarai motor dari Banyuwangi Selatan ngebut agar bisa beli tiket Jazz. “Saya disuruh nonton. Tapi nggak wes mbak. Saya nggak ngerti. Saya pulang saja yang penting beli tiket buat kedinasan,” katanya. Saya speechless dan kepikiran hingga malam hari hingga akhirnya memutuskan tidak melakukan apa-apa. Membiarkan cerita itu terendap dan meminta semesta berbaik hati agar musik Jazz benar benar ‘singgah’ di Banyuwangi.

Hingga Rum, seorang kawan baik mengirim kabar bahwa Ambassador Jazz Amerika datang ke Indonesia. Bukan hanya konser tapi juga membuat workshop jazz. “Apakah bisa di Banyuwangi?,” tanyanya. Saya bilang sangat bisa.

Maka semuanya berjalan begitu saja. Walaupun sedikit drama karena saya lebih banyak menghabiskan waktu di Alasmalang bahkan di pertemuan pertama. Kegiatan yang berbarengan dengan bejibun agenda yang kadang saya mikir, bisa nggak ya. Berbicara dengan Mbah Udiq, Mbak Rani, Bea dan memutuskan. Ayo jalan. Ini tentang pertukaran budaya Amerika dan Indonesia. Ini penting!

Maka musisi daerah yang kami pilih adalah Larasati dari Singojuruh dengan banyak pertimbangan antara lain anak anak muda yang bermain. Sinden yang dipilih pun Devi, dari Mangir. Hanya berkirim suara saja saat latihan di hari hari terakhir.

Dan Jazz akhirnya bertemu dengan C#. Nada yang digunakan dalam gamelan. Tinggi banget. Nggak nyambung memang. Tapi Gabriella dan Pat O’Leary, saat workshop selalu menekankan bahwa harmoni posisinya lebih tinggi dari melodi. Workshop yang mengajarkan bahwa musik itu universal. Kang Ju meminta Pat memainkan alatnya, dan gamelan mengikuti dan menimpali. Jazz dan swing mengalun.

Saya yang ngomong A aja fals, cuma geleng geleng kepala saat Devi dan Gaby duet lagi Impen Impenan dengan menggunakan dua bahasa yaitu Using dan Inggris. Musik gamelan juga dikawinkan dengan alat musik jazz. Ada benang merah yang menyambungkan dan saya menamakannya “feeling”.

Perkawinan musik yang bukan sekadar kawin tapi ada pergumulan penuh cinta didalamnya. Kenapa saya berani bilang semacam itu? Karena pemain Jazz dan gamelan adalah mereka yang lahir, besar dan mencintai budayanya. “Bermusik saja. Jangan terlalu berteori,” kata Gaby.

Di Banyuwangi Jazz dianggap musik yang mahal. Tahu kenapa alasannya? Karena betapa mahalnya tiket yang dijual pada festival jazz. Sampai 2 juta rupiah! Padahal Jazz lahir di Amerika dari ketidakberdayaan dan perlawanan.

100 orang yang datang menyaksikan konser secara gratis. Mereka mendaftar secara online dan benar benar serius pada musik jazz. Karena saya juga bertemu satu dua orang yang memaksakan diri ikut workshop hanya untuk eksistensi. Ada yang mendaftar beberapa orang dan nggak datang hingga akhirnya mengurangi slot peserta yang serius benar benar ingin mendaftar. Ya. Semuanya dinikmati saja prosesnya.

Gabriella dan Pat turun dari panggung. Devi juga dengan wajah berseri-seri bercerita bahwa banyak ilmu yang didapatkan dari Gabriella. Ini bukan karena mereka musisi asing tapi proses pertukaran budaya itu yang terpenting. Sama sama belajar.

Gabriella dan Pat yang ahli dengan Jazz-nya, Kang Ju dan Devi yang piawai di musik tradisionalnya. Mereka bertemu dalam satu panggung bukan untuk saling menggurui tapi saling mengisi.

Bermusik lah dengan bahagia!
Terimakasih Gusti Allah. Banyak cara mencintai negara ini.

Thanks Rum, Mbak Esti, Cristian dan kawan kawan Konjen di Surabaya serta tim Vijee yang kece. Terimakasih menjadikan saya bagian kecil perjalanan yang keren ini

Do re mi ketemu C# itu awesome!

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *