Catatan, Life Style, Traveling

Diah, penari Seblang dan cita cita menjadi dokter

Seblang dan cita cita menjadi dokter

Saya sempat bertanya kepada Diah, apa cita citanya. Dia menggelengkan kepala dan berkata, “Mong .. isin.”

Guru? Dia menggeleng. Dokter? Dia mengangguk tegas. Ada beberapa rekannya yang tertawa saat tau cita cita Diah

“Mosok onok Seblang hang dadi dokter”

Saya menyimak obrolan mereka

“Myakne wes. Kari ruwet. Hun pingin dadi dokter. Yo ro apik. Dokter hang bengen tau dadi Seblang. Yo ro isun” kata Diah

Saya mencatat cita cita Fadiah. Karena sepengetahuan saya belum ada Seblang yang melanjutkan pendidikan hingga kuliah dan menjadi Sarjana. Berhenti menari. Berhenti sekolah. Menikah.

Ini PR besar bagi pemerintah untuk memberikan akses pendidikan yang layak bagi para pelaku adat tradisi seperti Fadiah.

Saya membayangkan Fadiah menuliskan ceritanya sendiri. Saya mengistilahkan penulisnya adalah akar rumput. Bukan hanya sekedar mahasiswa, peneliti, budyawan yang hanya mengamati dan selesai pada sebuah laporan

Semoga cita citamu tercapai ya Diah . Doa tulus dan doa doa baik untukmu.

Iya. Fadiah Yulianti (11) atau Diah, gadis sebelah saya masih bersekolah kelas 4 SDN 1. Selama tiga tahun berturut turut dia dipilih sebagai penari Seblang Olehsari.

Anak kedua pasangan Misati dan Juli ini menggantikan sepupunya yang bernama Suidah yang telah menikah. Saya ingat betul, pada tahun 2014, Suidah terakhir menari Seblang padahal dia sudah menikah dan dalam kondisi hamil. Padahal kala itu tampuk penari sudah diserahkan kepada penari muda lainnya yaitu Tri Muftahul Jannnah. Sayangnya roh nenek moyang tidak masuk ke dalam tubuh Tri sehingga Seblang sempat ditunda hampir sepekan lamany dan Suidah kembali menari dalam kondisi hamil.

Dan akhirnya, Fadiah yang menggantikan Suidah sejak tahun 2015 dan seharusnya tahun ini Fadiah terakhir menari sebagai Seblang karena siklus penari Seblang adalah 3 tahun.

Badan Fadiah sedikit lebih tinggi dibandingkan tiga tahun lagi saat saya pertama bertemu dengannya. Hanya saja sekarang senyumnya lebih lebar walau masih pemalu jika berbicara dengan orang baru.

“Mbok hing pingin selfie ambi hun ta,” katanya. Saya tertawa dan mengajaknya foto bersama. “Mbok pipime podo bundere,” ujarnya kembali tertawa sambil membetulkan selendangnya.

Dia keluar dari rumah bersama rombongan para penari Seblang dan saya melihat Fadiah yang berbeda dengan Fadiah yang saya ajak bicara 5 menit lalu.

Kepalanya menunduk dan berusaha sembunyi dibelakang punggung sesepuh desa yang menuntunnya ke payung agung. Ada wajah pasrah disana.

Wajah Seblang yang setiap tahun saya sambangi selepas lebaran. Bukan lagi wajah Suidah atau Fadiah.

Wajah mereka yang teguh pada tradisi dan adat budaya yang diyakininya

Banyuwangi, Juli 2017

 

 

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *