Catatan

Di Jawa, matahari akan tetap terbit pertama kali di Banyuwangi

Selama menjadi jurnalis, sudah ada tiga bupati yang masanya saya ikuti. Sejak jaman Samsul hadi, ketika saya masih jadi jurnalis lugu yang cuma liputan kalau diperintahkan. Lalu Ratna Ani Lestari yang sempat saya ikuti sepak terjangannya walaupun tidak sampai selesai karena saya hijrah ke Jakarta untuk beberapa lama
Walaupun tinggal diluar kota, saya masih sangat sering pulang. Dan kepulangan saat itu berarti adalah kumpul dengan teman-teman lama. Berdiskusi ataupun sesekali membuat acara sehingga tidak ada sedikit pun isue di Banyuwangi lepas dari telinga saya
Pergantian tampuk pimpinan, demo berminggu-minggu, penahanan beberapa pejabat karena kasus korupsi di Banyuwangi sedikit sekali yang saya lewatkan. Permasalahan yang tidak akan pernah dipahami oleh mereka kids jaman now. Pemetaan potilik di Banyuwangi, ini orang siapa, kubu siapa. Gerakannya seperti apa sangat terbaca jelas. Ya.Kadang saya berpikir lebih baik saya tidak tahu apa-apa atau menjadi jurnalis yang biasa biasa saja.
Karena tahu dan memahami, membuat saya mundur perlahan dari gerakan peta politik di Banyuwangi
21 Oktober 2010. Banyuwangi memiliki bupati ke 28 yaitu Abdullah Azwar Anas berpasangan dengan Yusuf Widiatmoko. Dua tahun kemudian saya memutuskan pulang dan menetap di Banyuwangi dan kembali bergelut dengan ‘banyak hal’ yang berkaitan dengan kabupaten yang kemudian dijuluki The Sunrise Of Java. Julukan yang terinsipirasi karena matahari selalu terbit lebih dahulu dibandingkan wilayah lain di Pulau Jawa.
Pasangan tersebut menjadi petahana di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak pada tanggal 9 Desember 2015 setelah melewati tikungan terjal dan kembali dilantik menjadi bupati dan wakil bupati pada 17 Februari 2016. Hingga bulan ini berarti tepat 20 bulan lebih dua hari, duet Anas dan Yusuf memimpin Banyuwangi diperiode kedua.
Pada Minggu (15/10/2017), di kawasan Menteng Jakarta Pusat, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengumumkan Abdullah Azwar Anas menjadi calon wakil Gubernur Jawa Timur mendampingi Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai calom gubernur Jawa Timur.
Di hari itu, puluhan pesan lewat whatsap saya terima, mengabarkan hal yang sama. “Bupatimu jadi Cawagub”. Pesan yang baru saya baca setelah kehilangan sinyal karena berada di ujung paling selatan Banyuwangi. Teluk Ulupangpang. Ada satu pesan yang konyol, “jadi the next Bupati Banyuwangi Raa?”. Saya hanya membalas dua kata. “Lambe Turah”
Pro dan kontra kemudian berseliweran di linimasa mediasosial. Semua menjadi pengamat politik dadakan. Semua berkomentar.
Selama lima tahun terakhir, mungkin semua menyorot pada sosok “Kang Anas”. Menjadi figuritas dan sedikit mengabaikan dengan sosok wakilnya. Yusuf Widiatmoko.
Ada dua pengalaman yang sangat membekas dengan Pak Yusuf. Yang pertama ketika saya meminta pendapat tentang jumlah ibu rumah tangga yang terdeteksi HIV AIDS jumlahnya meningkat. Saat itu beliau hanya bilang Makan dulu. Nanti aja wawancaranya. Tanya sama yang lebih paham. Ahlinya.
Kedua di acara Indonesia Fashion Week 2017 di Jakarta pada Februari lalu. Pak Yusuf duduk di bunderan depan bersama dengan pengunjung lainnya.Sendirian. Sedangkan di ruang depannya sedang ada konfrensi pers tentang Batik Banyuwangi yang akan tampil di run way. Saya menghampirinya dan mengatakan mengapa tidak bergabung di acara. Dengan santainya dia bilang, “Disini saja santai. Kalau mulai baru kesana.” Dan tentu saja menjawabnya sambil tertawa renyah. Jauh dari protokoler.
Dan akhirya jika Kang Anas terpilih menjadi Wagub Jawa Timur, maka Pak Yusuf secara otomatis menjadi Bupati Banyuwangi, tanpa pilihan,tanpa coblosan dan semoga tanpa drama.
Tapi itu nanti. Karena Pak Anas sampai tulisan ini ditulis masih jadi Bupati Banyuwangi.
Dan akhirnya sebelum benar-benar menjadi Bupati, maka kami ber-swafoto. Khawatir jika jadi Bupati jadwalnya semakin padat sehingga tidak sempat lagi seperti ini.
Sejak jaman kerajaan Blambangan hingga detik ini, Ada yang datang dan pergi dari tanah paling timur paling Jawa ini. Tapi percayalah, matahari akan tetap terbit pertama kali di Banyuwangi, siapapun pemimpinnya.
Jadi nggak usah baper-baperan. Apalagi sambil nyanyi lagunya Armada yang judulnya “Asalkan Bahagia”.
Dan mengulang ngulang bagian reff nya.
“Katakanlah sekarang Bahwa aku tak bahagia
Aku punya ragamu Tapi tidak hatimu
Kau tak perlu berbohong
Kau masih menginginkannya
Ku rela kau dengannya
Asalkan kau bahagia”
?? Buchan
*Menulis ini hanya sebagai refreshing. Yaa. Tiap orang punya cara berbeda beda untuk bersenang senang bukan?
Banyuwangi 19 Oktober 2017
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *