Life Style

Detox medsos hari kedua : Biasa aja

Masuk hari kedua nggak buka media sosial. Biasa aja sih. Tapi akhirnya baru ngeh kalo ada status yang bisa di stalking di whatsapp. Dan hari ini saya membukanya. Melanggar nggak sih? kayaknya sih nggak. Kan hanya facebook dan instagram. Tapi baiklah hari ini saya berjanji nggak akan stalking status whatsapp. Selain itu seumur-umur punya whatsapp ndak pernah sekalipun saya menulis status di sana. Gonta ganti dp juga jarang kecuali beberapa minggu ini. Ada yang protes katanya ngak ikhlas. Baiklah. Pake foto seadanya yang gampang diklik di galeri.

Beberapa hari ini Banyuwangi panas luar biasa. Dan kemarin saya ke Tegalsari untuk liputan kedatangan Bu Susi, menteri kelautan dan perikanan di Pondok Pesantren Darussalam. Dalam mobil pun AC semacam tidak bekerja dengan baik. Keringat dingin terus keluar. Kedatangan Bus Susi menggunakan helikopter semacam hiburan tersendiri. Angin kencang yang menghamburkan debu dan sisa sisa rumput kering berhasil membuat badan saya semakin panas dan gerah.

Sore kembali ke Banyuwangi, menyelesaikan berita lalu pulang ke Mbak Maya karena ada kondangan. Anak mbak Tatik nikah dan semua crew Didu’s datang bersama-sama. Berapa orang? 25 orang!! Mulai Mamak sampai 6 orang bule tamu Didu’s. Rombongan, jalan kaki bersam-sama. Kadang saya mikir, kehidupan sosial saya benar-benar buruk. Saya yang sangat jarang berkumpul dengan orang banyak untuk berbicara hal yang remeh temeh. Tidak pernah berkumpul dengan keluarga ya karena memang tidak punya keluarga dekat. Selalu dianggap sebagai orang berbeda dan asing serta berpikiran berseberangan. Sebagian bahkan menganggap saya tidak bisa diajak guyon. Baiklah kadar guyon saya emang agak aneh. Rasanya benci sekali jika guyonan menggunakan perempuan sebagai objeknya, berkata kata cabul dan melecehkan, serta membuat bencana sebagai bahan bercandaan. Dan saya yang selalu protes hal tersebut? alhasil banyak orang bahkan keluarga sendiri memganggap saya orang aneh. Sok tau dan sok pintar.

Terkait tentang bab sok tau dan sok pintar saya punya pengalaman buruk. Katakanlah kekasih saya sendiri. Dia mengatakan jika saya sok tau. Sok pintar. Dia menyudutkan saya. Saya meminta maaf jika ada perkataan yang membuatnya sakit hati. Mungkin saya salah tempat dan berbicara di saat yang tidak tepat. Tapi permintaan maaf membuat dia semakin menyudutkan saya berkali-kali. Dan selalu berkata bahwa saya sok pintar. Sok tahu.

Rasanya ngenes. Hampir 36 tahun. Saya tidak pernah berhenti sedetik pun untuk belajar. Mencari tahu dari semua pertanyaan yang kadang membuat saya susah tidur. Perasaan yang tidak semua orang bisa merasakan. Bahkan saya harus membuka beberapa buku dan banyak website hanya untuk tahu apa bedanya soto dan sop. Sesuatu yang sederhana tapi kadang saya sendiri yang membuatnya rumit.

Percayalah kadang hal itu nggak asyik. Menjadi beban. Tapi ya saya jalani saja. Saya tidak suka membuat orang sakit hati, tapi saya juga bukan orang yang memilih diam saja dan mengiyakan hal-hal yang tidak saya setujui dan tidak saya sukai. Walaupun kadang hal itu membuat orang sakit hati dan kecewa.

Bu Susi kemarin bercerita di hadapan para santri, bahwa pendidikan formal itu penting. Namun yang tidak kalah penting adalah tidak pernah berhenti memintarkan diri sendiri. Membebaskan pikiran karena dia merdeka. Dengan memejamkan mata, kita bisa mendengar suara ombak dan membayangkan kamar kita kita

 

 

 

Kamu tahu? betapa membahagiakan jika jadi dirimu sendiri.

Kembali ke detox medsos hari ke dua. Secara mental saya sudah mulai terbiasa. Tapi sakit kepala tetap saja tidak berhenti. Apa karena pola makan yang berubah setelah konsumsi obat-obatan? atau saya harus terus berkacamata? atau kebanyakan tidur? atau karena cuaca panas yang luar biasa? entahlah. Padahal pijat sudah, istirahat juga berusaha dicukupkan.

Iya saya menyadari ada PR besar yang harus saya selesaikan. Bukan hanya satu, atau dua. Tapi banyak. Menyelesaikan satu persatu seorang diri bukan sebuah pekerjaan yang mudah, tapi juga bukan sesuatu yang mustahil.

Ada kesimpulan hari ini, ternyata penggunaan media sosial saya selama ini salah satunya adalah menjadi pelarian dari rasa kesepian saya.

Oh ya film apa yang kamu tonton Raa? Film animasi produksi disney pixar berjudul Coco. Film yang memceritaka tentang seorang bocah berusia 12 tahun, Muguel yang bercita cita sebagai seorang pemusik dan terjebak di alam arwah. Skip.. nanti saya menulisnya khusus.

Film yang kedua? The Shawshank Redemption. Film yang kece badai menceritakan kehidupan penjara. Ada orang yang percaya dengan harapan, ada orang yang pasrah. Sehingga saat dibebaskan, dia memilih untuk gantung diri dan mati. Sementara dia yang memiliki harapan, seorang bankir yang dituduh membunuh istri dan selingkuhannya. Dia harus menanggungnya selama 20 tahun lebih atas kejahatan yang tidak dia lakukan. Alhasil dia merdeka dengan kecerdasannya.

Gusti Allah. Tidak pernah berhenti bilang Maturnuwun atas berkah selama ini. Tolong terus beri kekuatan.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *