Uncategorized

DEAR KAMU

Dear kamu.
Apa kabar mu hari ini? apakah kamu baik-baik saja.
Sudah berapa kita tidak berbicara? kamu yang terlalu sibuk atau aku yang
selalu menyibukkan diri ? atau kita terlalu berjarak ?
Tahukah
kamu ketika menyusuri jalan beberapa malam lalu aku menemukan sebuah
rindu. Dia aku bawa ke pantai dan mengajaknya berbicara pada pasir
secara diam diam. Lalu alu pendam rindu di dekat sebatang pohon yang
tumbang. Aku membisu dengan mata-mata berkaca.
Maka aku temukan sepi yang bisa kutuang kapan saja sepenuh hati. Lalu
bergulung gulung melewati garis pantai dan merangkum jejak jejak kita. 
Tahukah kamu? ku rapal baik-baik sebuah doa untuk kamu.
Dear Kamu. 
Apakah kamu juga merindukan aku? Jika kamu tanya aku iyaa maka aku menjawabnya. Dear kamu. Aku merindukan kamu.

Bukan sekedar rindu untuk menggenggam tangan mu. Tapi rindu sekedar
untuk bercerita bahwa sepatu ku rusak kena hujan kemarin sore. Lalu
bertanya pada mu sepatu atau sandal mana yang cocok untukku? bercerita
tentang rencana membuat kamar depan untuk menjadi rumah baca lalu
membantuku memilih rak buku dan menatanya di kamar depan. Nanti aku akan
ajak kamu membuat burung bangau dan kita rangkai di pintu dan jendela.
Atau meminta bantuanmu untuk membeli tanah pupuk untuk menanam lombok di
belakang rumah.
“Sederhananya kita sedang saling menunggu. Rumitnya kita tidak pernah saling tahu”
Dear kamu,
Tahukah kamu jika aku akan menggenapkan seribu burung bangau kertas.
Nanti aku akan tuang di pangkuan kamu. Nanti pintalah agar kelak aku
akan tetap mencintai kamu. Aku sudah mulai merangkainya karena aku takut
jika aku yang akan meninggalkan kamu.
Kamu sadar? jika selama
ini kamu yang seenaknya datang dan pergi lalu tidak peduli bagaimana
perasaan ku. Bukan aku takut kehilangan kamu, tapi hal yang paling aku
takuti adalah aku tidak lagi mencintai kamu. Karena itu Dear kamu, aku
menyiapkan seribu burung bangau kertas untuk kamu. 
Dear kamu.
Jika suatu saat kamu bertanya dan aku diam tidak menjawab tapi hanya
menggenggam tanganmu dengan erat. Maka percayalah saat itu aku ingin
mengatakan jika aku takut kehilangan kamu. Sungguh.
Abadilah kamu dalam tulisan ku. Kamu akan tetap hidup. Sejauh apapun kamu pergi. Dan aku akan tetap tinggal disini saja.
Menunggu hujan di Desember ketika aku menemukan kamu.
“Heiii nama ku Iraa”
Dan mengenangnya semacam tenggelam.
Dear kamu.
Aku perindu yang tidak perlu kamu tahu
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *