Catatan, Traveling

Dari lambung kapal perang KRI Makasar, langit diatas laut Jawa begitu dekat

Jumat, 5 Februari 2016.

Saya berkesempatan ikut pelayaran di Sail Journalis yang digelar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional. Saya bersama 209 orang, menumpang KRI Makassar dari Surabaya menuju Lombok dan berangkat pukul 10.30 WIB dari Pangkalan Komando Armada RI Kawasan Timur TNI Angkatan Laut, Ujung Surabaya, Jawa Timur.

Takut. Grogi. Karena tidak banyak yang saya kenal di dalam kapal. Hanya satu orang dan kemudian dua orang. Selebihnya ya kenalan di atas kapal. Anggap saja saya agak sedikit kampungan karena terkaget-kaget karena di dalamnya ada helikopter. Belum lagi ada kapal ukuran yang lebih kecil yang tersimpan di bagian lambung kapal. Jujur saya berdecak kagum.

Saya mendapatkan tempat tidur di kamar G 10. Ad 26 ranjang susun yang dilengkapi kasur, bantal, lampu, charger, dan juga laci untuk menyimpang barang. Seluruh kamar dan ruangan juga di lengkapi dengan pendingin ruangan.Ukuran kasurnya? pas dengan ukuran tubuh saya. Saya memilih di kasur bawah dan kasur di atas saya diisi kawan perempuan jurnalis televisi. Apakah saya nyenyak? banget. Selain ber AC saya memang kelelahan sangat. Di Banyuwangi selepas ngisi materi saya harus packing dan lari larian mengejar kereta api. Tidur di kereta tidak sesuai dengan harapan karena saya lebih banyak nglamun liat jendela keluar. Alhasil tidur di dalam barak semacam acara balas dendam.

Sebelum tidur saya menyempatkan diri berkeliling kapal. Ke bagian dapur. Tempat makan. Ke atas. Ke anjungan. Ke kamar mandi yang kece karena ada air panasnya. Sempat kelaparan saat waktu makan siang karena saya sempat berpikir lebih baik makan terakhir saja dan alhasil kehabisan makanan karena masih harus menunggu masakan dimasak dan itu memakan waktu cukup lama. Catatan pentingnya, kemana-mana saya harus stok minuman dan snack di dalam tas untuk jaga-jaga jika nggak ada makanan.

Malam hari di Sail Journalis ini, longue perwira KRI Makasar digunakan untuk diskusi Kemaritiman dengan tema “Membedah Posisi Indonesia dalam Persaingan Maritim dunia” dengan mediator jurnalis senior Arswendo Atmowiloto. Pembicara yang hadir adalah Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara serta Farouk Muhammad, Wakil Ketua DPD RI. Sementara Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang juga menjadi pembicara menyusul KRI Makassar dengan helikopter setelah empat jam perjalanan.

Dan istirahat malam pun dimulai. Walaupun sebagian ada yang merasa pusing dan mabuk laut, buat saya tidak ada apa-apanya ketika saya sudah teruji di kapal cepat yang tembus laut cina selatan menuju Anambas.

Pagi saya tidak ingin kehilangan momen matahari terbit. Gusti Allah… indah sekali. Sayangnya saya lupa menyimpan file fotonya. Langit begitu dekat. Sangat dekat bahkan ketika berdiri di atas anjungan dan mengacungkan tangan ke atas, langit semacam terpegang.

Pelayaran tersebut bebas dari sampah plastik dan ada larangan keras peserta membuang sampah di laut. KRI Makassar merupakan jenis LPD (Landing Platform Dock) dan dibuat di Korea Selatan pada tahun 2007.
Kapal tersebut memiliki berat bersih 2.800 ton dan tinggi 11,3 meter, lebar 22 meter dan panjang 125 meter. Untuk normalnya, KRI Makassar bisa mengangkut 600 penumpang, termasuk juga awak kapal, 22 kendaraan tempur, 15 truk dan 3 helikopter. Kapal ini sudah mengarungi seluruh perairan di Indonesia dan difungsikan untuk operasi kemanusiaan serta penanggulangan bencana alam.

Untuk kamar mandi umum disediakan di setiap tingkat dan terpisah antara kamar mandi dan toilet. Tidak perlu khawatir, air yang digunakan di kamar mandi adalah air tawar dan juga disediakan air panas dengan pancuran di masing-masing kamar mandi yang dipisah dengan sekat dan dilengkapi dengan mesin cuci.

Sementara itu juga terdapat landasan helikopter yang difungsikan untuk sholat Jumat dan juga digunakan penumpang untuk menghirup udara bebas termasuk merokok. Iya ada aturan ketat tidak boleh merokok di dalam ruangan.

Pada malam hari, landasan helikopter disulap menjadi panggung untuk bermain musik dan stand up comedy. Sementara di geladak F khusus untuk perwira. Terdapat juga lounge perwira yang nyaman dan dilengkapi dengan televisi layar besar dan sound system yang canggih.

Sabtu, 6 Februari 2016, pengumuman dari pengeras suara terdengar di seluruh ruangan mengarahkan agar peserta Sail Journalis menuju ke bagian dek kapal dengan membawa barang bawaan karena KRI Makassar sudah berlabuh di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Setiap peserta mendapatkan life jacket dan dipersilahkan untuk masuk kapal kecil yang berada di lambung kapal yang sudah dialiri air laut. Saat lambung kapal “tenggelam”, kapak kecil yang kami naiki meluncur merapat ke Pelabuhan Lembar

Perjalanan dari tempat berlabuh KRI Makassar menuju Pelabuhan Lembar kurang dari 20 menit.

Setelah 24 jam di atas KRI Makassar akhirnya peserta Sail Journalis menginjakkan kaki di Pulau Lombok disambut dengan gendang beleq.

Selamat datang di “Pulau Seribu Masjid”.

Saat merapat di Lembar aku baca pesan mu.
“Dek kamu sampai mana”

Pesan sederhana tapi saya paham ada kekhawatiran disana. Saya menelponnya dan kamu langsung berbicara panjang menanyakan apakah saya baik baik saja.

“Seharusnya aku kan disana. Kamu janji ke lomboknya berdua”. Saya di sini mengangguk angguk dan menjanjikan kembali untuk berlibur berdua. “Kamu selalu bilang ayo liburan tapi kamunya lepas terus. Senin ini aku libur.”

Saya toh hanya kembali menjanjikan untuk cepat pulang. “Ndak pergi pergi lagi kan tapi pasti banyak kegiatan”.

Hei ingat. Saat aku menunggumu di Bandara Internasional Lombok dan kita tertawa bersama menyatakan gila karena mengejar senja sampai ke Pantai Senggigi.

“Cinta itu semacam ini Raa. Melepaskan. Mengikhlaskan”.

Senja di Senggigi saat itu. “Ayoo lariii…. mataharinya sudah tenggelam”. Saya mengarahkan kamera ke wajahmu. Kamu tersenyum. Ah itulah alasan saya memilihmu.

Menginjak kaki di Lombok dengan cara yang berbeda dan saya baru menyadari jika selama 24 jam di atas kapal saya bukan di rombongan jurnalis tapi seharusnya di rombongan Kemenpar !!!

“Pantas absennya dimasukkan ke cadangan,” kata saya sambil garuk-garuk kepala saat tanda tangan absensi di Pelabuhan Lembar. Lombok

Langit dekat sekali di laut Jawa
Coba liat jalur kapal
Kawan jurnalis seperjalanan. Salah rombongan seharusnya ikut rombongan Kemenpar
Kawan baik keliling kapal
Pagi hari sudah terang banget. Pasca shubuh
Kasurnya kecil. Saya kasur bawah
Selfie sebelum keluar kapal

Wajah selepas 24 jam lintasi laut Jawa
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *