Catatan, Traveling

Daendels harus “cemburu” dengan Ki Buyut Jakso

Perhelatan Banyuwangi Ethno Carnival yang masuk dalam Top 10 Calender of Event 2018 Kementrian Pariwisata baru saja usai. Dan saya sengaja mengendapkan tulisan ini beberapa hari agar menulisnya tidak menggunakan emosi tapi pakai hati. Menyempatkan diri membaca beberapa referensi.

Saya berharap salah dengar, ketika narasi fragmen yang dibacakan saat BEC 2018 menceritakan jika Ki Buyut Jakso diminta oleh bupati pertama Banyuwangi Mas Alit untuk membantu membuka jalan Anyer Panarukan yang dilakukan oleh Daendles. Ki Buyut Jakso berhasil bermediasi dengan para jin yang menghuni gunung batu yang awalnya tidak bisa dihancurkan. Hingga para jin meminta syarat yaitu tidak semua batu dihancurkan karena akan digunakan untuk singgasana para jin, serta anak keturunan Buyut Jakso setiap setahun sekali harus mendatangi Pantai watudodol, tempat gunung batu yang dihancurkan dan kini disebut tradisi Puter Kayun. Saat itu, saya pun mengutipnya ‘mentah-mentah’ atas dasar framen yang ditampilkan pada BEC 2018 yang mengambil tema Puter Kayun.

Namun, saya berpikir ada benang merah sejarah yang tidak tersambung dalam fragmen itu yang membuat pikiran saya tidak tenang selama beberapa hari.

Kembali saya membuka artikel Mas Rosdi di Radar Banyuwangi 5 April 2013 yang berjudul “Banyuwangi Nol Kilometer Bukan di Perliman”. Saat itu terjadi polemik Nol Kilometer Banyuwangi yang ‘tiba-tiba’ berpindah di Simpang Lima. Padahal nol kiometer berada tepat di depan Toko Edison atau selatan lampu merah Lateng. (Entah kenapa juga sekarang geser sekian meter ke selatan agar dekat dengan gapura).

Penentuan titik nol kilometer itu juga bukan ‘asal bapak seneng. Daendles yang saat itu menentukan titik nol jalur Daendles di Panarukan berubah pikiran. Belanda memerintahkan dua tim berjalan dari Panarukan dari arah yang berbeda. Satu tim melewati hutan Baluran, dan satu tim lain melewati Gunung Gumitir. Kedua tim ini kemudian bertemu di titik yang sama yaitu di lingkungan Klembon Kelurahan Singonegaran Kecamatan Banyuwangi a.k.a depan toko Edison di jalan PB Sudirman. Dan peristiwa tersebut terjadi di era Bupati Pringgokusumo antara tahun 1867-1881. Beliau adalah bupati Banyuwangi ke 5.

Sementara HERMAN Willem Daendels menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda selama tiga tahun (1808-1811). Pembangunan jalan Anyer-Panarukan lebih termotivasi oleh kepentingan ekonomi, Ketika berkunjung ke Surabaya pada awal Agustus 1808, Daendels melihat bahwa jalan dari Surabaya perlu diperpanjang ke timur. Tujuannya bahwa wilayah Ujung Timur (Oosthoek) merupakan daerah yang potensial bagi produk tanaman tropis selain kopi, seperti gula dan nila. Di samping itu ada kemukinan perairan di sekitar selat Madura memberikan peluang bagi pendaratan pasukan Inggris. Untuk itu, dia memerintahkan F. Rothenbuhler, pemegang kuasa (gesaghebber) Ujung Timur sebagai penanggungjawab pembangunan jalan Surabaya sampai Ujung Timur yang dimulai pada September 1808. Titik akhir jalan di Ujung Timur terletak di Panarukan, dan tidak dibangun hingga Banyuwangi. Pertimbangannya Banyuwangi dianggap tidak memiliki potensi sebagai pelabuhan ekspor. Sedangkan Panarukan dipilih karena dekat daerah lumbung gula di Besuki dan dengan tanah-tanah partikelir yang menghasilkan produk-produk tropis penting. (Majalah Historia)

Terjawab! pembukaan jalan itu bukan di eranya Bupati Banyuwangi pertama Mas Alit atau Temenggung Wiraguna 1 yang menjabat pada tahun 1773. Tapi di era Bupati Pringgokusumo. Fix! rasa penasaran saya terjawab sudah.

Mas Rosdi masih menuliskan, jika saat itu Belanda meminta Pringgokusumo membentuk dua kelompok pekerja yang bertugas memperbaiki kondisi jalan yang akan dilalui oleh dua tim dari Belanda. Dua kelompok pekerja tersebut sebagian besar adalah orang-orang Boyolangu. Mengapa? karena Boyolangu terkenal dengan gudangnya pekerja pembuat jalan yang skilnnya diatas rata-rata. Selain itu, Boyolangu adalah salah satu pemukinan tertua di Banyuwangi yang kemudian didekatnya dibangun gedung Asisten Residen yang pembangunannya mengambil semen putih bekas dari kerajaam Macan Putih di Kabat. Bahkan sebagian penggiat kopi di Banyuwangi juga sempat kasak kusuk bahwa penananaman Kopi pertama juga di wilayah Boyolangu.

Dan entah mengapa saya meyakini bahwa Ki Buyut Jakso adalah salah satu bagian terpenting dari tim yang membangun jalan dari wilayah utara menyusuri wilayah pantai yang berbatasan dengan Selat Bali. Jangan bayangkan jalannya semacam sekarang. Saya yakin hanya jalan setapak ukuran kecil dipenuhi binatang buas. La wong saya saja pas masih kecil sering ketemu monyet dan babi hutan kalau pas ikut ibu ngajar di wilayah Wongsorejo.

Bahkan Mbah Hasnan Singodimayan secara heroik sempat bercerita, saat kependudukan Jepang, para Romusha diminta untuk menghapus angka yang terpahat di tugu penanda nol kilometer. Tugu itu kemudian dikucuri darah para pejuang Indonesia yang berhasil dibunuh oleh Jepang. Konon tugu-tugu yang dikucuri darah tersebut membentang dari Klembon hingga Sasak Tambong!

Akhirul kata, saya menutup catatan ini sebagai instropeksi kepada diri saya sendiri tentang betapa pentingnya sebuah riset walaupun katanya hanya sekedar untuk hiburan, tarian, tampilan atau apalah itu namanya. Jangan pernah menjadi generasi yang Tuna Sejarah.

Catatan ini hanya sekedar untuk merinci tentang rasa penasaran saya tentang benang merah yang hilang pada fragmen Puter Kayun pada minggu lalu. Setelah penasaran itu terjawab, ya sudah selesai. Sesederhana itu bagi orang lain. Tapi rumit bagi saya.

Dan Daendles berhak cemburu kepada Ki Buyut Jakso. Mengapa? ya karena “Ki Buyut Jakso” tetap hidup hingga detik ini. Bahkan tokoh “Ki Buyut Jakso” ikut Banyuwangi Etno Carnival hingga finish dan banyak masyarakat yang mengajak swafoto lalu diunggah di media sosial. Anak salah seorang teman saat bertemu juga saya berkata, “Kak… aku sudah kayak Ki Buyut Jakso bukan,”kata sambil bergaya dengan rambut putih panjangnya sambil merentangkan tangan. Dia nggak bilang.”Kak Iraa… aku sudah kayak Daendles belum?”.

Ki Buyut Jakso lebih populer di sini, di Banyuwangi.

Saya membayangkan, Ki Buyut Jakso dengan gagah berani mengendarai kuda memimpin masyarakat Boyolangu pergi ke pesisir pantai untuk membuka jalan dengan meruntuhkan gunung batu. Bukan pekerjaan yang mudah toh nyatanya Deandles menyerah dan angkat tangan hingga minta batuan Bupati Pringgokusumo. Walaupun banyak yang harus dikorbankan termasuk ribuan nyawa dan jalur itu kita nikmati setiap hari.

Sesekali berhentilah di jalan Watudodol. Bacakan doa atau Al-Fatiha untuk pahlawan negeri.

Jangan pernah menjadi Tuna Sejarah ya

Selesai…….

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *