Catatan, Life Style, Traveling

Cinta Mati pada Gang Koes Plus di Banyuwangi

: Gang Koes Plus dan anak anak muda yang buat perubahan.

Tidak banyak yang tahu jika di Banyuwangi ada sebuah gang kecil yang bernama Gang Koes Plus yang berada di jalan KH Wahid Hasim dan tembus ke jalan dr Sutomo sebelah utara atau tepatnya Simpang Lima arah ke Taman Blambangan. Saya penasaran dan ingin tahu asal muasal sejarah dari gang kecil tersebut.

Gang tersebut muncul pada tahun 1970-an. Saat itu Koes Plus, grup musik Indonesia yang dibentuk pada tahun 1969 sedang moncer-moncernya dan anak-anak muda yang tinggal di “jalan tikus” tersebut sering menyanyikan lagu-lagu milik Koes Plus saat nongkrong di mulut gang.

“Sekarang masih ada beberapa anak-anak muda dulu yang masih hidup. Ada Hariyono. Itu ketuanya dulu. Kalau sekarang mungkin kategori anak nakal. Mereka usianya dibawah saya,” kata Mbok Uun, perempuan kelahiran 1948. Mbok Uun adalah mantan penyiar RKPD yang lahir dan besar di gang kecil tersebut.

Mbok Uun bercerita gang kecil tersebut diberi nama Koes Plus sebelum dia menikah pada tahun 1975. Ada kemungkinan sekitar tahun 1973. Pemberian nama dilakukan begitu saja oleh anak-anak muda tersebut dengan menulis nama “Gang Koes Plus” di kertas karton menggunakan spidol. Usianya tidak lama kurang dari seminggu karena rusak, hingga akhirnya nama gang dirubah dengan triplek agar lebih awet. Selain itu lagu Koes Plus menjadi lagu wajib saat gitaran dan nongkrong, warga di se gang kecil tersebut juga sering memutar lagu-lagu Koes Plus.

“Semuanya berjalan begitu saja hingga hari ini dikenal dengan Gang Koes Plus,” katanya. Nama Gang Koes Plus pun akhirnya digunakan untuk alamat surat menyurat untuk mereka yang tinggal disana. Mbok Uun pada tahun 2007 pindah dari Gang Koes Plus ke Kelurahan Bakungan. Namun dia mengaku masih lekat ingatannya tentang Gang Koes Plus.

Judul lagu Koes Plus “Why Do You Love Me” yang ditulis di salah satu tembok rumah milik warga di Gang Koes Plus Banyuwangi

Menurutnya, di sebelah timur Gang Koes Plus ada bekas bangunan jaman Belanda yang sering di sebut Dekrei oleh masyarakat sekitar. Dekrei kemungkinan adalah bekas bangunan percetakan. Selain itu, sekitar tahun 1976-an, Gang Koes Plus dipenuhi dengan pisang, pohon Sukun serta rumpun bambu ke wilayah selatan. Ada juga “Awu-awuan” yaitu jurang kecil untuk pembungan sekam padi dari pabrik penggilingan padi yang ada di wilayah Cungking. “Kalau dari utara masuk ke gang Koes Plus pasti lewat bambu-bambuan dan Awu-awuan,” kisahnya.

Saya menyempatkan parkir motor di depan gang Koes Plus dan jalan kaki menelusuri gang kecil tersebut. Ada sebuah tembok warga yang ditulis “Why Do you Love Me” yang diambil dari judul lagu yang sempat dipopulerkan oleh Koes Bersaudara. Saya tersenyum sendiri.

Koes Plus sering dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock ‘n rolling di Indonesia. Mereka juga pernah di penjara karena musiknya dianggap mewakili aliran politik kapitalis.

Mereka ditangkap dan sempat ditahan di penjara Glodok karena dianggap melakukan kesalahan karena memainkan lagu lagu Beatles yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu. Iya saat itu memainkan musik “ngak ngek ngok” adalah sebuah “dosa” karena mewakili imperialisme pro barat.

Mereka dilepaskan satu hari sebelum meletusnya G30S PKI tanpa ada alasan yang jelas.

Dan pada akhir 2008, Koes Plus menjelaskan bahwa dibalik penangkapan mereka, sebenarnya pemerintah Soekarno menugaskan mereka dalam sebuah operasi Kontra Intelejen untuk mendukung gerakan Ganyang Malaysia.

Berbicara Koes Plus adalah berbicara panjang sejarah Indonesia.

Dan semacam Koes Plus di Jakarta dan gang kecil ini di Banyuwangi, semuanya berasal dari anak anak muda yang berani untuk membuat perubahan.

Jadi apa kabar kamu yang bangun jam 9 terus lanjut nonton infotainment?

Selamat pagi.

Tagged , ,

1 thought on “Cinta Mati pada Gang Koes Plus di Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *