Uncategorized

CINTA DI UJUNG SENJA





Foto Iraa Rachmawati.

“Mbah itu baru menikah dua bulan lalu,” bisik pengurus Panti Lanjut Usia yang ada di Kecamatan Glenmore Banyuwangi sambil menunjuk Mbah Ismawati yang sedang bernyanyi. “Suaminya Pak Joko yang pakai kopiah warna putih,” tambahnya sekali lagi.

Saya tertarik dan menemui mereka berdua di kamar sederhana yang berisi dua dipan kecil, satu lemari kayu dan dua kursi platik. Tidak ada barang lain di dalam ruangan pengantin baru lanjut usia tersebut.
“Dulu jorok kamarnya terus saya bersihkan sedikit demi sedikit,” kata mbah Mbah Is kepada saya. Ketika diungkit cerita pernikahannya perempuan sepuh yang matanya sudah tidak berfungsi normal tersebut tersipu sipu malu.
Mbah Is bercerita jika suaminya yang pertama meninggal di saat menunaikan ibadah haji. Ia kembali ke tanah air seorang diri dan bertahun tahun hidup sendirian karena di pernikahannya ia tidak memiliki keturunan. Saat dia semakin sepuh, RT nya menyarankan tinggal di Panti Lanjut Usia agar ada yang merawat dan tidak sendirian.
“Saya sempat menolak tapi akhirnya mau daripada sendirian di rumah” jelasnya.
Kisah cintanya dengan Pak Joko berawal ketika lelaki asal malang tersebut suka membangunkan Mbah Is saat waktu makan. Ketika ia sakit, Pak Joko merawatnya dan menyuapinya ketika makan.
Saat itu Pak Joko melamarnya. “Saat itu bilang dek piye nek rabi ae. La awake kan wes dewean,” katanya. Saya ikut tersipu mendengar ceritanya. Istri pak Joko pergi ke Sauda dan tidak ada kabarnya. Sementara dua anaknya juga sudah hidup terpisah dan Pak Joko juga memilih tinggal di Panti Lanjut Usia.
Saat cerita berjalan, Pak Joko masuk ke dalam kamar selepas sholat Dhuhur dan duduk di samping istrinya. “Ibadahnya pateng nduk mangkanya saya mau nikah sama dia,” katanya. Ia ingat pesan suami pertamanya saat akan meninggal kalau ia tidak boleh menikah lagi kecuali sama laki laki yang rajin ibadah.
Maka saya berdoa semoga keluarga Pak Joko dan Mbah Is Sakinah mawadah warohmah.
Bunyi bel tanda makan siang. Pak Joko menuntun tangan istrinya yang sama sama renta menuju ke ruang makan. Mereka ingin menghabiskan usia senja berdua.
Mata saya langsung ‘ngembeng’ menahan nangis. Melihat mereka berdua berjalan, terlintas pikiran bagaimana saya tua nanti? apa seperti ibu? setia pada bapak lalu mati sendiri?
Entahlah. Cinta itu unik. Dan saya percaya skenario Tuhan jauh lebih unik.
Lalu teman saya bilang, “Laa mbah kuwi rabi lo mbak. Terus awak mu kapan?.”

Saya nempel tembok terus ilang.
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *