Uncategorized

(cerita usang) JANGAN PERNAH TUNGGU AKU……..

Aku masih ingat tentang perbincangan kita terakhir siang itu di sebuah kota yang cukup panas.
“Aku akan menunggu kamu Raa”. Kamu berkata sambil menekuk lututmu di hadapanku sambil menggenggam jemariku
Aku hanya bisa diam. Dan perasaanku mengatakan ini adalah terakhir aku melihat kamu menangis di depan ku
“Aku akan melanjutkan perjalanan”
“Kamu bisa tinggal di sini Raa. Kamu tidak perlu tinggal di istana. Kamu bisa mengajar, Kamu bisa menjadi seorang perempuan seperti yang kamu impikan. Kamu bisa melihat hujan setiap saat. Kamu bisa ….kamu bisa melakukan apapun yang kamu lakukan. Aku bisa menjadi imam kamu. Aku bisa menjadi apapun yang kamu inginkan”
Kita berdua akhirnya terdiam dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya kita berpeluk di persimpangan jalan di siang yang panas itu. Aku sempat berbisik, “Jangan pernah tunggu saya”. Entah apakah kau mendengarnya. Atau kau lebih sibuk menata hati kamu untuk perpisahan ini?. Aku melompat ke dalam angkot dan melihatmu yang terpekur sendirian. Aku tekan dadaku. Ada rasa nyeri.  Wajah itu tidak akan pernah aku lupakan selamanya……Wajah seorang laki-laki yang pernah menjadi tempatku berkeluh kesah dan menyiapkan hidupnya untuk perempuan yang tidak jelas sepertiku. Laki-laki yang menukar kebahagian nya untuk ku. Dan dalam angkot  aku berpikir betapa kejamnya aku. Ketika aku pernah menjadi perempuan yan pertama dalam hidup kamu dan aku dengan mudahnya memutuskan untuk pergi melanjutkan perjalananku……
Tapi saya berpikir bukankah saya berhak untuk menentukan hidup saya sendiri…….….
“Minta restunya Raa…..aku akan menikah. Kamu Ikhlas kan?”

Seperti ada desakan dalam dada. Aku tersenyum sendiri. Kamu menanyakan aku ikhlas? Aku ingin menjawabnya. Kamu tidak perlu menanyakan hal itu kepadaku karena aku bukan siapa-siapa kamu lagi, kecuali kalau kamu masih mencintaiku. Hei….sepertinya baru kemarin kamu meminta saya untuk tinggal bersama mu.
Aku berpikir apakah aku sakit hati. Apakah aku patah hati. Apakah aku kehilangan? Aku berkata tidak. Aku tidak kehilangan kamu. Setelah perempuan di samping kamu saat ini telah memaki-maki dan menyudutkan ku dan mengatakan adalah kesalahan ku karena kamu masih menghubungi aku. Hampir saja aku mengatakan, “ Hei … seharusnya kamu yang instropeksi diri kenapa lelaki yang akan menjadi suami kamu masih menghubungi saya”. Tapi ternyata  kata-kata itu hanya berhenti di otak ku. Dan kamu harus tahu aku bukan tipe perempuan yang suka debat dengan kaum yang sama dengan ku hanya karena urusan laki-laki. Ingat itu……..Bukannya kamu juga berkali-kali membohongi perempuan bahkan nyata-nyata di depan ku. Ah sudahlah……aku bukan perempuan yang cengeng yang hanya diam saat di sakiti. Bukan seperti kamu yang terus-terusan menyalahkan ku. Itulah alasan kenapa aku tidak bertahan dengan kamu.
Hingga akhirnya aku lebih memilih untuk meneruskan perjalanan. Berjibaku dengan hal-hal baru dalam dunia ku
Bukan berarti aku tidak peduli kepada kamu. Aku peduli dengan mengirimkan doa dari tempat ku berdiri. Tanpa mengirimkan pesan atau pun kado kepada kamu. Karena aku malas bermasalah dengan perempuan di samping kamu saat ini. Aku tidak mau menjadi topik pertama pertengkaran kalian dengan status baru sebagai suami  istri.
“Jangan pernah tunggu aku……”
Akhirnya kamu mengabulkan permintaan di pertemuan terakhir kita. Untuk tidak menunggu ku……
Jika kau menunggu ku apa jadinya kamu…….karena aku bukan perempuan yang suka dalam sebuah ikatan. Kamu berkata, “waktu akan membuktikan perasaan saya ke kamu Raa”. Dan kali ini aku sudah menemukan jawabannya.
Aku ingin berpikir sederhana tentang hidup. Pertemuan. Jatuh cinta. Pertengkaran. Perpisahan. Gampang kan?
Aku selalu berkata
“sebuah ikatan perasaan lebih kuat dari pada ikatan komitmen !!!!
Dan sekarang kamu tidak perlu lagi melihat ke belakang. Kita sudah memilih untuk jalan sendiri-sendiri.
Hei….aku yakin lelaki ku langsung memonyongkan bibirnya membaca catatan ku ini. Hei…..kau tahu saya berharap ia cemburu. Kamu tidak perlu segan kepada lelakiku. Karena aku yakin dia adalah lelaki dewasa yang bisa menerima bahwa aku ada sekarang karena aku mempunyai masa lalu.
(: Dear…jangan marah ya?)
Bahagia kamu dengan perempuan mu. Barakallah………Sakinah Ma Waddah Warrahmah……
Tagged

1 thought on “(cerita usang) JANGAN PERNAH TUNGGU AKU……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *