Catatan, Life Style, Traveling

Klenteng Hoo Tong Bio antara sejarah dan sebuah rahasia

“Sejarah terbentuk dari siklus. Riwayat berputar seperti roda gerobak sapi. Masa baik datang, tapi nanti masa buruk menggantikan. Bila itu terjadi, bagaimana pun baiknya manusia, malapetaka tak akan terelakkan” (Catatan Pinggir – Gunawan Muhammad)

Jumat, 13 Juni 2014, belum setengah tujuh pagi, saya sudah berdiri di halaman Klenteng Hoo Tong Bio. Api menjulang tinggi. Asap hitam menyentuh langit. Suara api membakar kayu dan suara debuman ke bumi. Belasan orang berlarian menyelamatkan patung dewa dan barang barang lain dari bangunan utama. Seorang laki-laki menangis terisak. Saya menghampirinya. Kakinya luka terbakar. Saya bertanya apakah dia baik-baik saja. Sambil terisak-isak dia bercerita tidak bisa menyelamatkan patung dewa. “Semua nya dimakan api. Semuanya terbakar,” kata laki-laki yang ternyata seorang satpam di kawasan Klenteng Hoo Tong Bio.

Saya menyingkir dan ikut sedih melihat semuanya luluh lantak dihadapan saya tanpa bisa melakukan apa-apa. Semakin siang jumlah warga yang datang semakin banyak. Para jemaat klenteng yang mayoritas dari Tionghoa menyemut di halaman klenteng. Mereka berteriak histeris, menangis, berdoa atau terisak seperti saya. Semua panik berusaha menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Satu jam lebih.

“Bruaaak…..buuumm…..bum….” suara keras terakhir menandakan bangunan utama roboh, sudah tidak mampu menahan kobaran api yang terus meninggi. Belum jam 8 pagi tapi hampir seluruh bangunan utama klenteng Hoo Tong Bio rata dengan tanah. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, 80 persen bangunan yang dibangun pada 14 Maret 1784 tersebut ludes terbakar api.

Api pertama kali terlihat di altar sembayangan sebelah selatan. Tungku dupanya sudah terbakar. Abas, salah satu penjaga kelenteng sempat menyiram air tapi tungkunya sudah terlanjur pecah dan minyaknya meluber yang mengakibatkan api menjalar kemana-mana. Belum lagi, bagian klenteng memang musah terbakar. Persembahyangan terakhir dilakukan pada Kamis (12/6/2014) pukul 22.00 WIB. Dan sebelum ditutup, semua lilin sudah dimatikan semuanya. Sedangkan kebakaran terjadi saat pagi hari, sebelum pesembayangan pertama dilakukan di hari itu.

Baru beberapa minggu sebelumnya lalu saya mengunjungi klenteng tertua di Banyuwangi ini. Berkunjung saja tidak melakukan apa apa. Ngobrol dengan penjaganya dan Om Indra, salah satu tokoh agama Kong Hu Cu yang rajin berkunjung ke klenteng.Saya mengenal baik karena beliau sahabat kakek. Saya yang menyukai sejarah dan hal hal remeh temeh yang berada di Banyuwangi. Tapi bagi saya, klenteng ini punya sesuatu yang khusus yang buat saya jatuh cinta. Entah apa alasannya saya sendiri juga tidak tahu.

Kelenteng Ho Tong Bio berada di kawasan Pecinan Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi. Nama kelenteng ini berarti “Kuil Perlindungan Chinesse”. Pembangunan kelenteng ini juga merupakan persembahan kepada leluhur mereka, Kongco Ta Hu Cin Jin, yang dipercaya melindungi orang-orang tionghoa di Blambangan, wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Banyuwangi.

Selain itu Kelenteng Ho Tong Bio juga dikenal sebagai “ibu” dari 8 klenteng Tan Hu Cin Jin yang tersebar di beberapa lokasi di sekitar Banyuwangi, sekaligus kelenteng tertua. Kelenteng lain berlokasi di Besuki (Situbondo), Probolinggo, Jembrana, Tabanan, Kuta, dan Buleleng.

Saat kebakaran, pengurus klenteng hanya berhasil menyelamatkan 4 dari 16 patung dewa yang dipuja. Tiga prasasti kayu yang tertua bertarikh 1784 terbakar tidak tersisa.

Dari panel kayu yang sebelumnya terpasang, Hoo Tong Bio mengalami beberapa renovasi. Antara lain pada 1848, 1890, dan 1980. Pemugaran sempat terhenti semasa Orde Baru, kemudian berlanjut secara besar-besaran pada 2003 hingga 2008. Pembangunan klenteng tersebut melibatkan Umat Tri Dharma seluruh Indonesia.

Sahabat saya Ika Ningtyas menulis Tan Hu Jincin berasal dari Propinsi Kwan Tung yang terkenal sangat pintar dalam berbagai pengetahuan dan ketrampilan antara lain sebagai sinse, pakar hong shui, arsitek bangunan dan pertamanan. Tan menetap untuk sementara di Kerajaan Blambangan pada masa pemerintahan Pangeran Danureja (1697-1736). Selama di Blambangan, Tan diminta raja membangun sebuah Istana di daerah Macan Putih dan sering menolong masyarakat Blambangan yang sakit

Etnis Cina kemudian membangun rumah sebagai penghormatan terhadap Tan Hu Jincin di Lateng (sekarang Blimbingsari, Rogojampi) yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Ulupampang. Tidak diketahui jelas kapan pastinya kelenteng pertama ini didirikan. Saat itu ibukota Blambangan berada di Ulupampang atau yang kini disebut Kecamatan Muncar. Karena Ulupampang didera penyakit menular akut, akhirnya VOC memindahkan ibukota ke Banyuwangi pada 1774. Pemindahan ibukota ini juga disertai pemberlakuan wijkenstelsel dan passenstelsel, bagi etnis-etnis yang hidup di Blambangan. Etnis Cina pun terpaksa memindahkan kelentengnya ke tempat dimana saat ini Hoo Tong Bio berdiri.

Rafles dalam Carey (2008:122) menyebutkan pada tahun 1815 jumlah orang Cina yang tinggal di pecinan Banyuwangi sebanyak 319 orang atau 3,59 persen dari 8.873 jiwa penduduk Banyuwangi kala itu.

Hari itu, jelang siang. Pengurus klenteng melakukan rapat internal. Saya berdiri di luar ruangan dan tiba-tiba ada suara keras seperti orang marah dari salah seorang pengurus sedangkan yang lain menangis terisak. “Konco datang dan merasuki salah satu pengurus. Konco marah dan mengingatkan umatnya” bisik salah seorang jemaat. Saya mundur. Ini ranah pribadi mereka. Saya tidak akan menulisnya detail disini.

Saksi kunci kebakaran klenteng ditemukan tewas di kontrakan

14 Juli 2014, Mei Giok (52), saksi utama kebakaran Klenteng Hoo Tong Bio ditemukan tewas di rumah kontrakannya. Terbujur kaku dengan menggunakan jaket warna hijau diatas tempat tidurnya. Dari tempat kejadian perkara, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti berupa botol minuman ringan yang berisi air teh, obat diare, minyak angin, air mineral dan kaca mata milik korban. Saya segera ke lokasi saat mendengar kabari itu.

Saya kenal dengan Mei Giok walu tidak akrab. Beberapakali bertemu walaupun hanya sekedar senyum dan menyapa. Saat kebakaran saya sempat menghampirinya dan mengajaknya berbicara. Saya ingat sempat membagikan air mineral kepadanya saat itu.Bajunya basah kuyup. Saat saya bertanya tentang kebakaran, dia hanya menjawab tidak tahu, tidak tahu secara berulang-ulang. Dia hanya bilang apinya sudah ada, sudah besar. Mei Giok adalah orang yang pertama kali bertugas menyalakan api di lilin lilin yang ada di altar.

Kuat dugaan, kematian Mei Giok ada kaitannya dengan kebakaran Klenteng Hoo Tong Bio

Salah satu mantan pengurus Kelenteng Hoo Tong Bio kepada saya bercerita jika banyak kejanggalan yang mengarah ke sosok Mei Giok yang sehari-hari menjadi juru kunci. Saat rekonstruksi, semua kunci, termasuk kunci gudang dan juga dapur, ditemukan di ruangan Mei Giok yang juga terbakar. Padahal, seharusnya dia hanya memegang kunci altar utama. Selain itu, pada saat hari kejadian terbakar, Mei Giok ditemukan dalam keadaan basah kuyup di dalam kelenteng.

“Kemungkinan disembunyikan, apalagi tangan sebelah kanannya juga terbakar yang diduga terluka saat menyalakan api menggunakan tiner,” kata salah satu pengurus.

Di dalam kamar Mei Giok ditemukan botol mineral yang berisi tiner yang diduga sebagai bahan membakar kelenteng itu.

“Saya juga menemukan kain-kain yang terbakar dengan korek api,” katanya.

Saat itu saya juga menyempatkan diri datang ke Kapolsek Banyuwangi dan berkesempatan membaca surat yang ditulis tangan oleh Mei Giok secara langsung. Saat itu kalau tidak salah surat ditulis tangan dikirimkan kepada pengurus klenteng, kapolsek dan salah satu koran di Banyuwangi.

Saya membaca suratnya perlahan-lahan. Banyak rahasia disana yang ikut terbakar bersama dengan klenteng dan tetap manjadi rahasia yang dibawa mati oleh Mei Giok. Dan tetap menjadi rahasia bagi saya.

Penyelidikan dihentikan. Finish tidak pernah ada jawaban. Jika benar Mei Giok membakarnya, alasannya tetap menjadi rahasia. Sampai detik ini.

Saya menyelesaikan catatan ini di Sukowidi, Kamis 25 Januari 2018. Mengingatnya kembali dibantu dengan tulisan tulisan saya lainnya. Empat tahun sudah berlalu dan rahasia itu tetap menjadi rahasia.

Bangunan klenteng sudah berdiri megah. Umat beribadah, Wisatawan datang untuk berwisata.

Dan setiap saya melintas di halamannya ada rasa yang tidak pernah bisa saya jelaskan secara detail. Perasaan yang sama ketika saya tidak pernah tahu alasan mengapa kekasih meninggalkan saya tanpa kabar dan tanpa alasan.

Nelangsa. Dan menjadi rahasia.

 

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *