Uncategorized

CERITA DI BALIK PENJARA (katanya)

“Duhh…. nek wes seneng yo. Kabeh di belani. Sampai mlebu penjara”

Bisik sahabat saya, ketika kami bersama di dalam lapas. Ada pernikahan penghuni dengan kekasihnya.

Baiklah jadi begini ceritanya. Setahun lalu mereka sebut saja
berpacaran. Sang Gadis masih kelas 2 SMA. Sang Pria usia 22. Sayangnya
semacam cerita romeo juliet, orang tua sang gadis menjodohkan anaknya
dengan pria lain. Alhasil sang pria membuat surat perjanjian tidak akan mengganggu kehidupan sang gadis sehingga ia memilih pergi ke Bali.

Sang gadis berontak, ia menyusul kekasihnya ke Bali dan menikah secara
siri lalu pergi ke Kalimantan. Setahun berlalu, saat kehamilan 8 bulan
mereka berdua pulang ke Banyuwangi dengan rencana “mitoni’ dan lahiran
di Banyuwangi.

Namun rencana berantakan, Sang Pria di ciduk dan
ditahan karena dianggap melarikan anak di bawah umur. Mereka berpisah
hingga sang anak lahir. Mereka ingin menikah secara sah hukum negara,
hingga melakukan persidangan untuk mendapatkan wali hakim sebagai syarat
sebuah pernikahan. Namun sebelum sidang wali hakim, ayah sang gadis
berubah pikiran dan mau menikahkan dengan menggunakan wali hakim lewat
KUA setempat.

Dan pagi tadi (30 oktober 2013) mereka menikah. Walaupun hanya
keluarga mempelai pria yang datang menemani Sang Gadis dengan anak nya
yang berusia 4 bulan. Mereka datang mengendarai motor.

Saya
mengenakan kaca mata hitam selepas mereka ijab qobul. Bukan karena cuaca
panas, tapi saya takut terlihat menangis. Sederhana saja. Karena
pernikahan bagi saya tetap sebagai sesuatu yang sakral karena berhadapan
serta berjanji pada Tuhan.


Buat saya ini adalah pernikahan
yang sesungguhnya. Pernikahan tanpa make up tebal. Tanpa musik hingar
bingar. Tanpa sebuah tontonon konyol duduk di pelaminan.

Semacam gerakan slow motion saat tepat di hadapan saya sang Pria memeluk
istri dan anaknya Mencium kening istrinya dan pipi anak perempuannya.
“Doa ayah biar cepat keluar terus bisa kumpul bertiga”. Lalu mereka
berdua saling melambai. Sang Pria kembali ke dalam. Sang Gadis pulang ke
rumahnya menggendong anaknya. Matanya merah. Dia menangis.

Saya balik kanan. Membetulkan letak kaca mata dan misuh-misuh sendiri.
Saya tidak suka dengan moment-moment seperti. Membuat saya mendadak
sentimentil.

“Bersyukur Raa dengan kehidupanmu sekarang”
“Gw cuma nggk habis pikir. Kok bisa ya mereka memutuskan hal-hal konyol yang terkadang tidak masuk akal untuk ukuran ku”
“Akal mu tidak bisa di buat ukuran normal Raa. Kamu banyak pertimbangan”
“Kalau nggk dipertimbangan ntar menyesal. Cinta emang buta ya. Coba
bayangkan kalo tiba-tiba sudah banyak yang dikorbankan seperti
pengantin perempuan tadi, terus akhirnya sang pria menyakiti atau
mengkhianati. Huwiksss…. nggak bisa aku bayangkan bagaimana perasaan
dia. Mundur malu. bertahan sakit hati”
“Curhat Raa?,” kata sahabat saya sambil tertawa. Saya memonyongkan bibir seperti biasa.

“Cinta itu seperti KOPI panas… paling enak diminum saat panas, tapi
resikonya cepat habis. Biar gak cepat habis, ya diminumnya pelan-pelan.
Tapi resikonya jadi keburu dingin…”

Koplak! Baiklah. Itu
adalah pilihan. Selama pemainnya masih nyaman memainkan perannya. Why
Not? tentu yang paling heboh adalah penontonnya. Ya seperti saya ini
contohnya. Penonton konyol yang hanya bisa berkomentar. Selama mereka
bahagia? kenapa tidak iya kan?

Itulah sebabnya terkadang saya
tidak suka dengan mereka yang “berisik” dengan pilihan dan keputusan
saya. Apalagi mereka yang tidak pernah mengenal saya. Men “judge”.
Apakah kamu marah Raa? saya kan hanya bisa tertawa. Toh saya tidak punya
kewajiban dan memaksakan isi otak mereka harus sama seperti saya. Biar
sajalah,

Finish. Bukan hanya menyederhanakan mimpi. Tapi juga menyederhanakan konflik.

Sebentar…. saya akan berdoa malam ini untuk pasangan pengantin baru tadi pagi.

Hei agen Neptunus bagaiman kabarmu? aah saya lupa menyapamu. Tentu kamu
sudah tidur dan saya tidak pernah bisa memastikan apakah kamu membaca
catatan ku ini atau tidak.

Dan nanti saya selalu berharap
ketika cinta yang ‘pernah’ kita miliki padam seperti sakura yang
berguguran. Begitu indah meskipun ia harus terjatuh.

Segelas kopi bertanya pada ku, “Bagaimana rasanya cinta”

“Cinta itu seperti kamu, yang terasa pahit bila sendirian tanpa gula”

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *