Uncategorized

CEMAS YANG DI IJINKAN

 18 Juli 2013
: Bintang Utara.

Saya ternyata masih butuh waktu sendiri. Walau pun berjam-jam bersama
sahabat-sahabat saya. Menggantung kaki dengan segelas jahe panas di
tempelkan di pipi. Perut saya sedikit bermasalah. Eneg.

Ah
Bintang Utara ku. Terkadang saya ingin berbicara panjang dari hati ke
hati. Seperti dulu. Bicara berjam-jam dengan sesekali kamu menggenggam
jemari saya. Mengatakan bahwa semuanya baik-baik
saja. Mengatakan bahwa kamu selalu ada untuk saya. Bagaimana perasaan
saya saat ini yang terkadang berpikir sebagai “leader” yang gagal.

Ketakutan-ketakutan tentang masa depan. Ketika saya tidak tahu ujung lorong yang saya lewati saat ini.


Dan mempertanyakan kenapa saya terlahir sebagai orang yang sombong dan egois?
Saya butuh kamu sungguh. Lalu bagaimana saya mengawali bicara pada mu?
Ketika kamu asyik dengan dunia mu sendiri. Saya hanya bisa menatap dari
titik saya berdiri di sini.

Saya tahu bisa menyusun satu per satu puzzle yang berserak sendirian. Menunggu sebuah keajaiban dari Tuhan.
Saya menelan ludah. Serat jahe masuk lewat kerongkoan saya. Memangku
gelas yang masih menyisakan sedikit rasa hangat dengan menundukkan
wajah. Udara Banyuwangi sedikit jahat malam ini.
Bagaimana dengan
saya? Ragu itu manusiawi. Saya butuh kamu yang mengatakan semua akan
baik-baik saja Raa. Dan saya melesap di pelukan mu. Atau jika kamu
ijinkan boleh saya menangis?

Tapi tidak mungkin. “Siapelah
awak nih”. Menatap ke langit dan rasanya ingin berteriak, “hei bintang
utara. Bisa turun sebentar. Temani saya”. Sia-sia. Dan nanti saya akan
memutuskan mundur perlahan-lahan tanpa banyak bicara.Menyimpan nama kamu
dan menghapus dongeng tentang Neptunus. Tapi apa bisa?

Kamu sekarang beda.

Masih menundukkan kepala dan menyakinkan diri sendiri bahwa semua akan
baik-baik saja. Kamu telah menjadi pemenang dalam keragu-raguanmu.

“Lebih baik terasing dari pada menyerah pada kemunafikan”

Meletakkan gelas yang kosong sambil menjinjit perlahan.
“Nasi bungkusnya satu ya”
“Kok nggak makan sini”
“Buat sahur”
“Kok cuma satu mbak?”
Saya diam dan tersenyum.

Terkadang saya merasa kesepian. Hanya terkadang……Ketika saya mencari kebahagian dengan cara sendiri.
Bintang Utara? Saya belajar untuk tidak tergantung lagi padamu. Karena
jika kamu pergi maka saya masih mampu untuk berdiri sendiri

Sebuah kecemasan yang di ijinkan

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *