Catatan

CATATAN TENTANG TKW SIHATUL BANYUWANGI

: Maka Mbak Uul sudah pergi ke surga

Saya mengenal beliau ketika membaca berita anggota dewan Rieke Diah
Pitaloka yang mengatakan tentang kasus tenaga kerja wanita yang koma di
Taiwan. Tenaga kerja asal Desa Plampangrejo Kecamatan Cluring Kabupaten
Banyuwangi.

Setahun yang lalu tepatnya. Saya mencari rumahnya
bersama kawan-kawan seprofesi lainnya. Bertemu dengan ibu, suaminya dan
juga anak lelakinya. Suaminya baru datang dari Malaysia setelah tahu
istrinya koma di Taiwan.

Saya mengikuti cerita bagaiamana suami
Mbak Uul yang bernama Suhendi mencari keadilan atas istrinya. Dia juga
pernah mengirim kabar ketika dia di Jakarta menemui Rieke Dyah Pitaloka.

“Mbak aku harus ngomong apa sama mbak Rieke kalo ketemu nanti”
“Sampaikan keinginan mas Suhendi sama mbak Rieke. Apapun itu”
“Aku cuma pingin istriku balik ke Indonesia dan sembuh”.

Maka saya mendengarkan ia berangkat ke Taiwan menemui istrinya. Lalu
dia kembali ke Indonesia bersama dengan istrinya yang koma dan kemudian
dirawat di ruang ICU RSUD Blambangan.

Saya ikut bersyukur selepas
shubuh hari itu. Melihat Suhendi berdiri disamping istrinya. Saya tidak
berani banyak bertanya tapi saya percaya dia bahagia. Saat itu 7 Mei
2014.

Sejak itu mas Suhendi lebih pendiam dan tidak banyak bicara
jia bertemu media. Kami pernah bertemu di ruang ICU saat saya menjenguk
mbak Uul. Dia bercerita jika menjual kopi malam hari untuk mendapatkan
tambahan uang. Ia memilih kost di perliman agar tidak jauh dari
istrinya. “Saya dikasih ijin jualan kopi sama orang rumah sakit,”
katanya. Dia juga mengaku pasrah apapun yang terjadi dengan istrinya.

“Dulu saya berharap sekali istri sembuh total tapi sekarang terserah
Gusti Allah pun mbak,” katanya. Saya hanya diam saja dan mengelus kaki
mbak Uul yang semakin mengecil.

Mbak Uul masih terlihat cantik
walaupun dokter mengatakan ia sudah mati sosial karena tidak bisa
melakukan apa-apa dan tidak bisa merespon sekitarnya. Tapi saya yakin
Mba Uul tahu bahwa ia punya keluarga yang sangat mencintainya.

Pertemuan terakhir seminggu yang lalu dengan mas Suhendi. Dia
menggunakan pakaian hitam hitam. Menyalami saya dan mengatakan, “Aku
njaluk sepuro yo mbak atas kesalahan bojoku.”

Saya mengangguk.
Mungkin saya yang pertama kali datang pagi itu di ruang ICU RSUD
Blambangan. Masih sangat pagi, Bahkan keluarga besarnya pun belum
datang.

Saya tidak banyak bicara ketika Mas Suhendi bercerita ia
terakhir menemui istrinya jam 12 malam dan pulang ke kost untuk ganti
baju. “Saya pesen sama perawat buat telpon saya pagi biar nggak terlalu
siang bangunnya. Ternyata ditelpon ngabarin kalau istri saya meninggal,”
katanya sambil menatap lekat jenasah istrinya yan ditutup kain panjang.

Saya merasakan getar suaranya berbeda seperti biasanya. “Mbak titip dulu yaa istri saya. Mau ke kamar mandi,” katanya.

Saya menganggukkan kepala. Saya terharu. Bahkan ke kamar mandi pun dia
mematikan jenasah istrinya tidak sendiri. Saya berdiri dan membacakan
doa sebisa saya untuk mbak Uul.

Saat jenasah diberangkatkan
sekali lagi mas Suhendi menyalami saya. “Akhirnya mbak saya bisa merawat
sampai terakhir kali. Istri saya sudah tenang dan nggak sakit lagi”.

Mbak Uul pun sudah pergi ke surga. Sebuah ending dalam sebuah skenario Tuhan pada perempuan hebat itu.

Mungkin almarhum mbak Uul adalah satu dari ribuan wanita yang memilih
bekerja di luar negeri atas nama ekonomi. Ketika negara Indonesia tidak
lagi dipercaya menjadi tempat bekerja. Menjadi wanita yang memilih jauh
dari keluarga mengatasnamakan agar bisa hidup layak.

Dan inilah kenyataan di Indonesia.

Maka seharusnya pemerintah lebih melindungi dan memberikan hak kepada semua warganya termasuk juga tenaga kerja wanita.

Selamat jalan mbak Uul. Walaupun kita tidak pernah bersalaman tapi
menulis kehidupanmu membuat saya sadar bahwa menjadi dirimu tidak mudah.
Dan menyadari bukan keputusan mudah memilih menjadi tenaga kerja wanita
dan jauh dari keluarga

——————————————-
Catatan 7 hari meninggalnya TKW Banyuwangi Sihatul Alfiyah (26).
Sihatul bekerja di peternakan sapi perah di Tainan City dan mengurus 300
sapi perah seorang diri. Dia dinyatakan koma sejak 22 September 2013
dan ditemukan luka benturan akibat benda tumpul di bagian kepala.

Sihatul sempat dirawat di Chi Mei Medical Center di Liouying, Taiwan,
lalu dipindahkan ke Panti Jompo di Min An Road Distrik Baihe Kota Tainan
selama 8 bulan lalu pulang ke Indonesia pada 6 Mei 2014 dan di rawat di
ICU RSUD Blambangan. Dokter menyatakan Sihatul meninggal dunia pada
Kamis 15 Januari 2015.

Akhirnya saya tetap belajar mencintai
Indonesia dengan cara saya. Memilih berdoa untuk Indonesia dan
kawan-kawan tenaga kerja Indonesia yang ada “diluar” sana.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *