Uncategorized

CATATAN TENTANG MAYA TENTANG ODHA

Ini
tanggal 25 Maret 2014. Tanggal deadline dari proposal yang saya
coret-coret lima menit sebelum di kumpulkan. Semuanya selesai tepat
waktu. Lalu saya bilang. Allah…. Engkau Maha Keren

Saya
bilang minggu kemarin adalah minggu berat. Ketika saya harus membagi
tubuh dan waktu saya. Mas Nurul yang kecelakaan. Saya harus keluar kota.
Berkutat dengan dengan data. Dan jatuh cinta berkali-kali pada penderita ODHA.

ODHA?? Iya penderita HIV AIDS. Saya jatuh cinta pada mereka sejak saya
mengenal kalau penyakit itu penyakit kutukan. Penyakitnya orang-orang
jahat. Saya selalu jatuh cinta pada mereka yang “buruk rupa”. Mereka
yang minoritas. Mereka yang punya suara tapi tidak bisa bicara.

Lalu pagi ini rasanya ada ruang hampa. Kosong. Mas Yonk mengirim pesan kepada saya.
“Teman-teman aktivis HIV Jatim berterimakasih”

Saya tidka melakukan apa-apa. Saya hanya menulis. Lalu saya terbayang
dengan mbak-mbak yang di lokalisasi. Mbak yang di rawat dan membuat saya
gemetar dan masuk ke kamar mandi sambil menangis. “Mbak Ira… aku
dikerubung lalat ya. Aku sendirian yaa”. Mbak yang ingin saya peluk tapi
saya dilarang. “Jangan Raa. Sudah ada luka di lengannya”. Mbak YM, Pak
G dan 1700 lebih penderita HIV AIDS yang ada di Banyuwangi. “Angka itu
di kalikan 10 sampai 100 orang mbak,” kata Haris.

“HIV AIDS
tidak masuk dalam layanan JKN mbak. Yang ada penyakit turunanannya.
Alasannya karena HIV AIDS penyakit yang dibuat sendiri. Itu pun harus
rekomendasi dari pusksesmas dulu”

Orang hamil juga disebabkan dan rencanakan, keluh saya dalam hati.

Saya tersenyum saja pahit. Menelan ludah. Penyakit yang dibuat sendiri?
seperti apa? Duh Gusti…. bagaimana saya harus bicara. Searching di
google. Minim sekali informasi terkait HIV AIDS yang tidak tercover oleh
BPJS? atau nyaris tidak ada. Baiklah. HIV AIDS dilarang menjadi
penyakit di Indonesia.

“Hah? mbak iraa nggak takut tertular? aku pikir harus jaga jarak yang jauh gitu,” kata kawan saya.

Selalu saja stigma negatif, keluhku.

Maka hari ini masih ada yang kosong dengan segala inbox facebook, pesan sms dan pesan BBM.

Saya hanya bisa menulis. Menulis apa yang saya rasakan, yang saya dengar, yang saa lihat. Apa yang membuat saya jatuh cinta.

Jatuh cinta pada ODHA. Jatuh cinta pada mbak-mbak di lokalisasi. Jatuh
cinta pada anak-anak penderita kanker dan tumor. Akhirnya saya bisa
merasakan bagaimana Saman jatuh cinta pada Upi perempuan idiot yang
berwajah ikan. Bagaimana Yasmin jatuh cinta pada Maya, perempuan cebol
berkulit albino. Karena saya juga jatuh cinta pada yang orang lain sebut
buruk rupa.

—————————

Mual itu
menimbulka rasa berdosa. Sebab tak seharusnya ia merasa demikian pada
makhluk Tuhan. Dalam keadaan begini, akal tidak menyelamatkan. Hanya
cinta yang menyelamatkan. Bahkan akal budi tak memberi pemahaman. Hanya
kasih sayang yang sanggup meliputi segala hal.
……….
Tapi
ia telah memutuskan untuk mencintai. Seperti Saman telah mencintai.
Cinta memberi ia kekuatan dan rasionalisasi: mengapa kau anggap biadap
penjagalan padahal kau mendoyani daging? Tidakkah dunia modern telah
memisahkan engkau dari apa yang sesungguhnya terjadi demi yang kau
santap penuh kenikmatan untuk menunjang kehidupanmu? sebelum ayam goreng
kriuk yang gurih bertabus kremes, inilah yang terjadi : penyembelihan.
Darah yang ditumpahkan bagimu. Tapi sejauh-jauhnya kau kini hanya tahu
daging yang telah bersih dalam putih sterefom dan bening plastik di
supermarket. Apa yang Yasmin lihat kini itulah yang disembunyikan
peradaban (Maya – Ayu Utami)

———————————

Tiba-tiba saya ingin merayakan hari ini dengan segelas Margareta atau
Tequila. Atau sekedar pelukan sederhana dengan tekanan yang lembut di
dada mu. “Cinta. Aku sudah selesaikan semua misi sendirian dan tepat
waktu,” bisikku. Dan seperti katamu, “Kamu Raa. Kamu pasti bisa”.

Tuhan terimakasih. Engkau Maha Keren

: Untuk mereka yang membuat saya jatuh cinta pada ODHA. Terimakasih
kepada mereka yang terus menginspirasi. Terimakasih kepada mereka yang
memanusiakan manusia sebagai makluk Tuhan yang luar biasa.

 
sahabat-sahabat saya yang mengenalkan saya pada ODHA
 
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *