Uncategorized

CATATAN TENTANG HUJAN


Aku tulis posting ini jauh dari kota kelahiranku Bnayuwangi sambil mendengarkan lagu Iwan Fals “ Aku Milikmu” Entah kenapa mendengar intro lagu ini yang menggambarkan suasana hujan membuatku kembali ke masa lalu.
Hujan…entah kenapa aku sangat menyukai tangisan alam itu. Dulu….saat aku masih kecil, aku selalu menikmati suasana itu. Bisa bermain-main air dan lumpur di lapangan belakang rumah walaupun sendirian, atau sekedar berkecipak-cipak di teras samping rumah. Apalagi saat hujannya deras….Fuich, aku akan berteriak-teriak seakan-akan ingin mengalahkan suara gemuruh air yang turun dari atas langit. Dan yang paling aku ingat adalah saat hujan reda, ibu selalu memanggilku untuk masuk kedalam kamar mandi dan saat keluar sudah ada segelas susu untuk aku nikmati.

Sejak kecil mungkin aku sudah menjadi orang yang aneh. Saat orang menjauh dari hujan aku malah menikmatinya dengan kesendirian. Apalagi setelah Ayahku meninggal saat aku masih belum mengenal apa arti hidup. Yang aku tahu….sesaat Ayahku dikebumikan hujan turun dengan deras. Semua orang menyingkir namun aku tetap berdiri di sebelah makam Ayahku dan mengira bahwa Ayahku di bawa oleh hujan. Sejak sat itu aku semakin cinta pada hujan, karena padanya aku bisa bercerita tentang kesendirianku tanpa seorang Ayah…karena Ayahku telah diambil oleh hujan
Usiaku semakin bertambah dan kecintaanku pada hujan semakin menjadi-jadi namun tidak lagi kunikmati dengan bermain-main di lapangan belakang rumah. Namun aku sudah menemukan posisi yang tepat menikmati hujan yaitu dari jendela kamar. Entah kenapa titik-titik air itu seperti untaian mutiara yang tak bisa aku ungkapkan lewat kata-kata. Bau tanah yang meyeruak setelah hujan juga memberikan ketenangan pada jiwaku. Dan aku tetap menikmmati hujan hingga aku menjadi wanita dewasa.
Pernah bebeapa kali aku melakukan perjalanan Jember Banyuwangi saat hujan turun deras. Dan aku menikmati perjalanan itu. Kau tau alasannya…..karena orang tidak akan bisa melihatku menangis karena air mataku kalah dengan air hujan yang jatuh di wajahku.(mungkin karena masa-masa itu adalah masa tersulit yang pernah aku alami).
Saat aku kerja menjadi penyiar dan merangkap reporter. Hujan kembali menemaniku kemanapun aku melangkah. Dan aku anti dengan Jas Hujan karena menghalangi ontak batinku dengan sang Hujan. Bahkan saat orang lain masih terlelap aku sudah bercanda dengan hujan yang menemaniku pergi kestudio setelah sholat Shubuh. Ach….hujan ternyata yang menjadi sahabat sejati dan nara sumber yang paling akurat untuk menanyakan bagaimana perasaanku saat itu. Dalam kesendirian…….
Hujan pun ternyata masih mengikutiku di malam pengantin. Aku heran….apa mugkin hujan cemburu pada laki-laki yang kini menemani dalam tidurku. Hujan…hujan memang fenomena alam yangakan selalu kurindukan. Bahkan hujan pun hadir saat Fetus dalam rahimku di paksa untuk dikeluarkan dan dihaturkan kembali pada Tuhan. Dan aku kembali berdialog dengan hujan………
Dan hujan kembali membawa orang yang paling aku cintai yaitu Ibuku menuju alam Surga. Tepat saat hujan turun di Bintaro 9 Maret 2009, ratusan kilometer disana di Banyuwangi Ibuku pergi selama-lamanya. Dan perjalananku dengan pesawat untuk bersimpuh di jasad Ibu pun aku masih ditemani dengan hujan. Dan aku harap saat itu hujan juga membawaku bersama Ibu menju Tuhan.
Sambil membuat posting ini aku sedikit melongok ke dalam Facebook, salah seorang temanku di Banyuwangi memberi kabar kalo di Banyuwangi sekarang lagi hujan. Tiba-tiba badanku bergetar. Aku ingat rumahku, aku ingat Ayahku, aku ingat Ibuku, aku ingat sekola-sekolahku, aku ingat jalan-jalan yang pernah aku lalui, aku ingat Hujanku yang tertinggal disana di kota kelahiranku Banyuwangi. Dan aku kembali berdialog dengan hujan ditemani dengan Iwan fals yang bernyanyi syahdu, “Aku milikmu malam ini, kan memelukmu sampai pagi……namun entah di esok hari……tunggu aku disini……”
Jakarta 2 september 2009

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *