Catatan, Life Style, Traveling

Catatan tentang Gunung Batur,Ibu dari Gunung Agung

Aku pernah berjanji padamu untuk mengambilkan senja untuk kamu. Iya kamu yang memiliki aroma tubuh semacam vanila

Hari ini senjanya cukup berbeda. Aku ceritakan tentang danau batur berwarna kuning keabuan. Pelabuhan sepi ketika aku tiba Aku berteriak teriak kegirangan melihat matahari bulat sempurna yang segera tenggalam

Satu… dua… tiga….empat…. lima…. enam…. tujuh….. mataharinya hilang semacam tenggelam di semenanjung jauh disana

Iya aku selalu menghitung. Matahari hanya butuh paling lama tujuh menit untuk memberikan waktu yang aku sebut “senja”. Waktu yang membuat aku tersipu sipu. Waktu yang menjadi semacam fase kehilangan yang namanya pagi

Hei kamu. Aku ambilkan sepotong senja untuk kamu dan aku akan bercerita betapa bahagianya saat itu. Aku suka aroma tubuhmu. Aku suka matamu. Aku suka semuanya tentang kamu.

Mungkin kamu tahu kegilaanku pada matahari. Kamu ingat pagi itu saat aku menepuk bahumu dan berkata, “heii liat mataharinya indah sekali”. Kamu hanya berdehem dan menganguk anggukan kepala sambil mengedip ngedipkan mata. “Iya”

Maka aku ambilkan senja ini untuk kamu dan merekamnya dalam catatan yang aku tulis di atas pulau Bali. Catatan yang aku tidak peduli kamu baca atau tidak

Baik baik kamu. Terimakasih telah menjadi tokoh dalam catatan catatan ku

Semacam mencintai senja, langit dan matahari, aku juga mencintai kamu

Gunung Batur, 1 Oktober 2017

Informasi di Museum Geopark Batur yang ada di Bangli tertulis jika Pulau Bali berada di jalur cincin api sehingga tidak mengherankan ada banyak gunung api di pulau seribu pura itu. Dua di antaranya adalah Gunung Batur dan Gunung Agung yang memiliki keistimewaan bagi masyarakat Bali. Kedua gunung tersebut dianggap sebagai lingga buana atau lingga alam yang memiliki arti penting dalam kehidupan religi masyarakat Bali.

Gunung Agung dianggap perwujudan Purusha (laki-laki) dan Gunung Batur dianggap sebagai wujud Pradhana (perempuan). Antara Purusha dan Pradhana tidak bisa dipisahkan karena senantiasa bersinergi untuk melahirkan kesuburan dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.

Kasubid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devi Kemal Syahbana mengatakan, Gunung Batur adalah salah satu gunung purba yang ada di Pulau Bali. Keberadaannya lebih tua dari Gunung Agung yang statusnya telah naik menjadi awas sejak 22 September 2017. 

Menurutnya, kedua gunung tersebut memiliki ikatan erat yaitu Gunung Agung muncul di “pangkuan” Gunung Batur pasca meletus ribuan tahun yang lalu. “Yang lebih dulu ya Gunung Batur. Jadi bisa dikatakan jika Gunung Agung adalah anak dari Gunung Batur,” ujar Devi kepada Kompas.com, Kamis (5/10/2017).  “Saat Gunung Agung erupsi pada Februari 1963, Gunung Batur juga mengalami peningkatan aktivitas pada September di tahun yang sama. Gunung Agung dan Gunung Batur berada pada satu garis lempengan,” tambahnya.

Namun menurut Devi, tidak ada aktivitas kegempaan di Gunung Batur selama status Gunung Agung dinyatakan awas.

Sejak zaman pra sejarah, masyarakat percaya jika gunung, bukit, dan tempat yang lebih tinggi adalah tempat suci sebagai tempat tinggal arwah nenek moyang dan pusat kekuatan alam lainnya. Hal tersebut bisa dilihat dari arah hadap sarkopagus atau jenazah tanpa wadah. Arah hadap atau letak kepala jenazah sebagian besar mengarah ke arah bukit atau gunung yang terdekat. 

Selain itu, dalam kesehariannya, masyarakat Bali memandang gunung sebagai sumber kehidupan dan menjadi kawasan tangkapan air yang bagian lerengnya ditumbuhi hutan. Karena wilayahnya subur, banyak masyarakat yang tinggal di wilayah kaki gunung.

Hal tersebut dibenarkan Nyoman Artha, salah satu warga yang tinggal di dekat Danau Batur. Kepada Kompas.com, lelaki yang bekerja sebagai petani bawang di lereng Gunung Batur mengaku jika lahan di sekitar Gunung Batur sangat subur. “Apa saja ditanam di sekitar sini pasti tumbuh bagus termasuk bawang. Ini juga karena abu letusan gunung Batur yang dulu-dulu,” jelasnya.

Menurutnya, walau status Gunung Agung naik menjadi awas, kondisi di Gunung Batur masih baik-baik saja. Gunung Batur terletak di Kintamani, Bangli, Bali dan menjadi salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Di wilayah Gunung Batur juga ada danau dengan nama yang sama yaitu Danau Batur yang terletak di area tinggi, yaitu 1.050 mdpl dengan luas 16 km persegi dengan kedalaman rata-rata 50,8 km.

Dari data Museum Geopark Batur dijelaskan, jika letusan pertama Gunung Batur dimulai pada 1804. Ketika itu terbentuk kawah utama di puncak. 17 tahun kemudian, pada 1821, berlangsung letusan kedua dari kawah yang sama. Pada 1849 terjadi letusan dari kawah utama dan menghasilkan aliran lava ke arah selatan hingga ke tepi danau.   Antara periode 1994/1995 sampai tahun 2003, Gunung Batur meletus 5 kali, yaitu antara tahun 1994 hingga 1995. Letusan berikutnya terjadi tahun 1997, 1998, 1999, dan 2000. Letusan yang terjadi pada 1998 membentuk kawah baru yang dikenal dengan Kawah 98. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mengenal Gunung Batur, “Ibu” dari Gunung Agung”, https://regional.kompas.com/read/2017/10/05/13115241/mengenal-gunung-batur-ibu-dari-gunung-agung.
Penulis : Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *