Catatan, Kuliner

Bupati Banyuwangi sudah ganti, Gado Gado DLLAJ tetap dihati

Namanya Pak Matrais, kelahiran Lamongan tahun 1948. Beliau sudah berjualan Gado Gado sejak tahun 1967 saat itu harganya masih 5 rupiah. Selama jualan di Banyuwangi di sudah pindah beberapa kali. Pertama jualan gado gado di Kali Stail Genteng selama dua tahun menggunakan pikulan. Lalu sempat ke Bali.

Kemudian Pak Matrais kembali ke Banyuwangi dan berjualan keliling ke kantor kantor pemerintahan mulai dari Pengadilan Negeri, Perhutani, Kejaksaan hingga kemudian berhenti di rumah Bupati Supaat Selamet yang berada di barat radio Mandala. Pak Matrais cerita saat itu, Pak Paat, panggilan akrab bupati Banyuwangi masa itu selalu nyicipi gado gado ya walaupun hanya bumbunya seujung jari.

Ia kemudian pindah ke pojok utara timur kantor Pemda Banyuwangi. Saat itu dijadikan tempat menunggu angkot. Di bawah pohon besar. Jika tidak salah dulu wilayah situ adalah  DLLAJ atau singkatan dari Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya.

3 bulan setelah Pak Anas menjabat Bupati Banyuwangi sekitar akhir tahun 2010 atau awal 2011, tempat berjualan pak Matrais kebanjiran hingga setinggi lutut orang dewasa. Lalu dia ditawari berjualan dilahan kosong yang ditempatinya hingga sekarang. Tepat di depan kantor NU atau di selatan Indomaret atau di Utara kantor Pemda Banyuwangi. Dan nama DLLAJ tetap digunakan hingga detik ini.

Saya sempat tanya ke pak Matrais kok gado gadonya enak. Dia bilang ayahnya sudah jualan gado gado di Jember sejak jaman Belanda dan beliau mengadopsinya. Keluarga besarnya sebagian besar juga penjual gado gado. Dan gado gado yang sering saya nikmati ternyata resepnya turun temurun dari keluarga beliau.

Pak Matrais juga bercerita dalam sehari dia menghabiskan berapa kilo beras gitu buat lontong tapi kenapa saya lupa mencatat ya. Tapi yang pasti lebih dari 5 kilogram. Sekarang lontongnya lebih kecil dibandingkan lontong yang dulu sempat dibuatnya yang besar seperti betis orang dewasa. Dari gado-gado, Pak Matrais bisa mengentaskan pendidikan anak-anaknya. Bahkan ada yang menjadi dosen dan juga saat ini mondok di luar kota.

Kemana pun saya makan gado-gado di Banyuwangi, patokan saya ya gado-gado ini, dan belum menemukan diatasnya. Rasanya manis dominan gurih. Kuahnya juga kental  dan tidak encer. Jika saya lapar banget tinggal bilang sama mbaknya, anak perempuan Pak Matrais yang membantu berjualan. Maka akan ada tambahan beberapa potong lontong atau telur.

Buka sekitar jam 10 pagi hingga habis sore hari. Harganya 15 ribu per porsi. Selain makan di tempat, saya juga sering bungkus gado gado buat di makan di pressroom atau di rumah.

Sehat pak Matrais. Trus buat gado gado nggeh walaupun bupatinya nanti bakalan ganti lagi.

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *