Catatan

Buku, rumah dan tidak marah. Selamat merayakan Januari

Malam ini bukan masalah tentang merayakan atau tidak, tapi tentang bagaimana perjalanan yang telah dan akan dilalui lagi. Berubahnya digit terakhir di deretan empat angka merupakan sebuah refleksi bahwa usia saya akan bertambah. Saya sempat terkejut dua minggu lalu saya menemukan sehelai rambut putih. Walau hanya sehelai, tapi mengingatkan saya bahwa waktu itu berjalan cepat. Walaupun kerutan kulit di sudut mata masih tipis, tapi garis hitam bawah mata makin terlihat yang menandakan betapa saya telah menghabiskan banyak malam. Tentang kolesterol yang menjadi monster kasat mata, serta lemak yang menggelambir di perut dan pinggul.
Terimakasih atas perjalanan dan pengajaran selama 365 hari yang luar biasa. Atas tawa dan air mata yang datang silih berganti. Tentang yang pergi serta yang datang secara tiba tiba. Maka doa yang sama tetap saya panjatkan seperti doa doa sebelumnya. Panjang umur, sehat dan banyak rejeki serta diberi kesempatan untuk terus berbagi. Itu sudah cukup.
Hal yang membahagiakan adalah koleksi buku terus bertambah tanpa meminta dan koleksi lipstik yang cuma itu-itu saja warnanya. Entahlah, mencintai buku semacam lebih penting dari pada mencari jodoh. Benar sekali, itu sangat menyenangkan.
Kertas-kertas harapan di atas meja kerja saya sudah saatnya harus diganti. Bukan lagi tentang memaafkan masa lalu tapi tentang menikmati perjalanan. Tentang menerima. Sakit, sehat, sedih bahagia harus sama sama dinikmati.
Oh Gusti bahkan saya sendiri hampir tidak mempercayai akan bisa mengakhiri tahun ini dengan lika liku perjalanan yang rumit ini.
“Percaya. Semua tepat pada waktunya”.
Seseorang menuliskanya dan menempelkan di atas meja di ruang depan sejak beberapa tahun lalu. Saya masih menyimpannya. Senyum saja saat membacanya sore ini. Saya percaya sangat percaya. Kebahagian itu akan datang seiring dengan keikhlasan.
Terimakasih
Maka tahun depan saya benar-benar menginginkan sebuah rumah kayu yang kelak saya tempel papan nama di depannya. “Dunia Ira”. Tempat saya akan menghabis banyak waktu tanpa harus berpikir esok saya akan kemana lagi. Rumah yang bebas saya tempati tanpa berpikir untuk berpindah pindah lagi. Kawan dan saudara serta kerabat bebas untuk singgah. Anak anak bebas belajar menari, membaca dan menulis puisi di pelataran depan. Ada dua pohon mangga di depannya. Ini yang saya minta dengan sangat pada Tuhan. Entah bagaimana caranya, Tuhan tentu lebih tahu yang terbaik untuk umatnya.
Tentang marah. Ya. Mungkin saya harus lebih banyak bersabar dan mendekat pada Tuhan untuk meminta. Menua. Berkarya. Berguna.
Jelang malam di Sukowidi
Mingggu (31/12/2016). 18.37 WIB

Kelak setahun lagi saya akan membacanya kembali
Selamat merayakan Januari.
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *