Catatan

Bukan kematian jarak terjauh bu. Tapi terabaikan!

Bukan kematian jarak terjauh bu. Tapi terabaikan!

Bu. Apa kabar.

Rindu ini sangat besar padamu. Ini adalah Ramadan ke 10 tanpa kamu dan hampir separuhnya aku pun memilih tidak datang mengunjungi kuburanmu. Ya anggap aku ini egois dan naif. Tapi jangan pernah anggap aku anak durhaka ya bu. Aku masih sangat mencintaimu dan berdoa-doa baik untukmu walaupun sholatku juga masih bolong-bolong

Konyol memang. Dulu walaupun ribuan kilometer, aku memilih pulang hanya agar bisa menemuimu dan berdoa di samping makammu. Mau perjalanan siang ataupun malam. Tapi mengapa saat jarak fisik kita begitu dekat, aku semakin tak punya nyali untuk menemuimu. Aku kalah bu. Kalah bahkan sebelum berperang. Kalah menjadi seorang pecundang. Bahkan untuk menemuimu bersimpuh dan meminta maaf untuk keputusan keputusan konyol pun aku tidak punya nyali. Bodoh sekali anak perempuanmu ini.

Bukankah kau juga melakukan hal yang sama ketika bapak meninggal dan kamu tak mau berkunjung juga ke makam bapak. Kedatanganmu pertama dan terakhir ketika ibu dimakamkan disebelah bapak kan? Baiklah bu, Aku bisa rasakan bagaimana kesedihanmu saat itu. Ditinggalkan bapak dengan dua anak yang masih belum bisa menalikan tali sepatunya sendiri.

Aku yang ditinggalkan sendiri tanpa beban pun merasakan hal yang pedih luar biasa. Kau tau tahu jika aku diam-diam menangis di meja depan. Diantara buku buku dan suara lalu lalang mobil yang tak juga berhenti bahkan hingga tengah malam, dan dini hari. Sepi itu ternyata macam ini ya bu?

Bu. Pernahkah kau merasa terabaikan? berusaha fokus untuk mencintai orang yang kamu cintai tapi ternyata kau tak pernah dianggap ada. Apapun yang kau lakukan untuknya tetap saja tidak terlihat. Dia sibuk dengan urusannya dan kau pun akhirnya mencari kesibukan sendiri. Lalu bu? untuk apa ada komitmen pernikahan jika toh nyatanya hidup berjalan sendiri-sendiri?

Terlalu banyak kata bijak yang aku baca, tapi untuk menjalaninya bukan sesuatu yang mudah ternyata.

Baiklah bu. Terlalu banyak yang ingin aku ceritakan hari ini tentang apa saja. Bahkan detik ini pun aku membutuhkan pelukan untuk benar-benar menguatkan. Mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja.Menyakini bahwa Gusti Allah akan memberikan yang terbaik untuk saya. Bukan begitu bu?

Selamat pagi Bu. Restui Bu. Agar semesta baik baik kepada anakmu ini.

Al fatihah

*foto makam ibu tahun 2013 lalu.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *