Uncategorized

BU ..AJARKAN AKU MEMELUK LANDAK ITU

“Aku ingin memelihara kucing….”. Aku sempat memintanya pada ibuku. Dia menggeleng dan menolaknya. Dan aku bisa memastikan ibuku tidak akan pernah mengijinkan aku untuk memelihara kucing. Apalagi anjing…..
“Pelihara lah landak Raa”, usul ibuku. Aku terperangah….”kenapa tidak sekalian saja memelihara singa”. Ibuku tertawa dan berkata, “Karena kalo kamu memelihara singa, kamu akan di makan sama dia”. Aku tau ibuku hanya bergurau. Dan aku hanya terdiam saat mimpiku untuk memelihara seekor kucing hilang. Aku hanya bisa bayangkan aku bisa memeluk lembut bulu kucing yang menempel di kulitku. Dan kelak aku tau ibu melarangku karena ada sedikit masalah dengan paru-paruku yang sensitif dengan barang asing. Yang bisa mebuat aku batuk tanpa henti dan dadaku sesak

Suatu sore aku pulang dari sebuah bukit. Aku berteriak-teriak memanggil ibuku saat masuk kedalam rumah dan menunjukkan karung di tanganku. “Ibu sudah janji aku boleh memeliharanya”. Ibuku terperangah saat aku mengeluarkan seekor landak dari dalam karung dengan batang pisang menancap di punggungnya yan penuh duri.
Dengan semangat aku bercerita bahwa saat aku ke atas bukit aku menemukan satu ekor landak. “Tidak mungkin adik menangkapnya dengan kedua tanganku bu…bisa-bisa aku terluka karena durinya. Akhirnya adik berinisiatif untuk memotong batang pisang dan aku lempar ke atas punggung landak. Dan dia nggk bisa lari. Tapi adik bisa menangkapnya dengan mudah. Walau tangan adik terluka. Liat bu….” Aku menunjukkan goresan duri landak di tangan ku. “aku boleh memeliharanya kan bu”. Aku tau ibu ku tidak akan membatalkan janjinya dulu. Dia mengangguk dan aku berteriak Yes……….
Aku menempatkan landak itu di bekas kandang burung merpati milik ayah. Setelah ayah meninggal, puluhan burung merpat juga mati satu persatu.Mungkin mereka ingin menunjukkan kepada ayah, bahwa mereka ada pengikut setia. Setiap pagi aku selalu sediakan makana untuk landak kecilku, mulai dari buah-buahan, sayuran samai cacing makanan burung. Hingga suatu hari aku menyadari jika aku tidak bisa memeluknya. Membelainya seperti aku membelai kucing atau kelinci.
“Bu…adik nggk bisa peluk landak adik”, tanyaku suatu hari.
“Adik pasti bisa”
“Kalau adik peluk landak…landaknya kaget nanti adik terluka dong bu!”
“Sebuah konsekwensi…adik ingin memeluk landak kan? nah konsekwensinya adalah kulit adik luka. Raa…apapun pilihan hidupmu pasti ada konsekwensinya. Mau tidak mau kamu harus menerimanya”
Minggu pagi aku memasukkan landak kesayanganku ke dalam karung lagi. Ibuku bertanya,”mau dibawa kemana landaknya Raa”
Adik kembalikan ke bukit. Adik kasihan sama landaknya disini terus. Pasti dia kangen sama ayahnya, ibunya dan keluarganya.
“Nah terus adik gimana”
Aku ingat saat itu aku terdiam sambil mengusap air mata. “Adik tau sampai kapanpun adik nggak akan bisa meluk landak ini. Karena adik masih belum bisa menerima konsekwensinya untuk terluka. Adik akan belajar ikhlas buat nglepas landak kecil adik. Nanti tiap minggu adik bisa ke bukit buat liat landak kecil adik. Walaupun nanti nggak ketemu paling nggak adik sudah pernah memelihara dia dengan tulus”
“Adik ikhlas”
Aku mengangguk sambil mencium tangan ibu dan berlari menuju bukit kecil di belakang rumah dengan sepeda kecilku. Ada kebahagiaan saat melihat landak kecilku mecium ujung kaki ku sebelum berlari ke semak-semak. Kebahagian dan kesedihan menyatu saat itu.
Dan tiba-tiba saat ini aku mengingat kembali dan kembali bertanya kepada ibuku, “Ajarkan aku memeluk landak itu bu!”
setiap pilihan pasti ada sebuah konsekwensi Raa. Terluka…jika landak itu dalam pelukanmu
Tiba-tiba aku mengingatmu!
Batam:23 Juni 2011
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *