Catatan

Bos di tempat bencana

Namanya Fahmi. Hari ini saya minta tolong dia untuk mendata bantuan untuk pendidikan siswa terdampak bencana di LazisNu. Prinsip jangan sampai bencana mengganggu pendidikan menjadi pegangan utama.

Entah kenapa saat saya kembali ke posko, melihat dia tidur diantara tumpukan kardus, rasanya nelongso dan nggak tega tanya bagaimana hasil pendataannya dan meminta dia droping barang hari ini. Besok masih bisa, pikir saya.

Fahmi adalah satu dari banyaknya relawan yang bertahan di Alasmalang selama sepekan. Bantuan sudah banyak yang datang tapi tenaga untuk packing masih saja kurang. Di posko tempat saya ng-camp menerapkan prinsip barang datang, packing dan droping agar tidak ada penumpukan bantuan. Tapi bantuan luar biasa banyaknya dan seakan tidak ada habisnya

Bahkan rata-rata, tiap hari rekan rekan mengeluarkan hampir seribu nasi bungkus untuk relawan dan warga Alasmalang yang terdampak sejak pagi hingga malam. Nasi yang berasal dari para donatur mulai dari warga NU se Banyuwangi atau warga yang sengaja datang untuk kasih bantuan makanan. Belum lagi ratusan packing bahan makanan, kebutuhan pribadi, baju layak pakai, pakaian dalam, kebutuhan balita hingga ibu-ibu hamil dan lansia.

Bahkan semalam saat droping ratusan bantuan, yang buat saya nelangsa adalah Gus Maki, ketua PCNU Banyuwangi dan Pak Moch Lutfi camat Singojuruh yang langsung jadi sopir kendaraan untuk droping bantuan ke warga. Saya melihat Indonesia disana. Saat pemimpin bukan lagi memerintah tapi juga ikut mengambil tindakan.

La terus saya yang bukan siapa siapa ini kok ya masih ngeluh capek. Beliau berdua yang memiliki tanggung jawab umat mau turun cawe cawe ambil tindakan bahkan sampai malam. Padahal bisa saja mereka mantau dari ruangan.

Kembali ke Fahmi. Saya membiarkan saja dia lanjut tidur dan tiba tiba ingin berdiri mengambil jarak. Melihat posko yang tujuh hari ini saya tinggali. Ada Pak haji Syafi’i dan ibu yang rela rumahnya dijadikan posko bahkan hanya tersisa kamar pribadinya. Ika, anaknya yang juga sahabat saya yang mengizinkan kamarnya untuk saya tempati walaupun ditumpuk dengan popok bayi. Pak Yamin, koordinator yang rela kehilangan hak suaranya di Pilkada Jawa Timur. Rekan rekan IPNU dan IPPNU yang semangatnya buat saya geleng geleng kepala saat packing bahkan hingga tengah malam.

Saya merasa inilah Indonesia sebenarnya dengan segala kebersamaannya Dan selalu sedih saat membaca berita yang mengatakan jika pendistribusian bantuan tidak merata dan membayangkan Fahmi serta rekan-rekannya yang bekerja mati matian selama tujuh hari ini sebagai relawan.

Dan saat semacam ini maka akan terlihat kualitas seseorang. Apakah dia seorang pemimpin atau hanya sekedar bos yang hanya bisa menyuruh saja dan menyalahkan tanpa memberikan solusi.

Hari ke tujuh. Besok tanggap darurat bencana banjir bandang Alasmalang akan berakhir. Saya pribadi berharap agar Bupati Banyuwangi memperpanjang masa itu minimal sepekan lagi. Masih banyak yang harus diurusi terutama masalah sosial dan pembangunan rumah kembali hingga layak ditinggali kembali.

Dan catatan ini juga menjawab mengapa saya berada di Posko LazisNu sementara saya bukan lahir dari latar belakang NU. Sederhana, saya akan membantu di tempat yang membutuhkan tenaga saya dan saya nyaman bekerjasama disana.

Karena bekerja kemanusiaan bukan hanya berbicara tentang golongan tapi berbicara tentang hati nurani sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Fahmi. Istirahatlah sejenak. Masih banyak yang harus dilakukan. Dalam kondisi semacam ini, cadangan hati harus di keluarkan untuk lebih legowo bahkan saat dilabrak oleh warga yang marah karena diingatkan jangan jadikan tempat bencana sebagai tempat jalan-jalan.

Jika ada yang tanya butuh batuan apalagi yang dibutuhkan. Jawabannya adalah tenaga dan doa!

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *