Uncategorized

BOLEH PINJAM MATAMU?

Saya suka kamu tiba-tiba datang secara tiba-tiba seperti
angin.  Seperti sebuah layang-layang yang
tiba-tiba saja jatuh di antara kembang kenangan di belakang rumah. Mengejutkan
dan membuat dada saya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan karena saya
baru saja bangun.
“Maaf baru bangun …..”

“Tumben Raa….. sempat tidur siang? “

Saya tertawa, “Berhari-hari kurang tidur mas….. nyempatin
tidur. Kopi nya sudah nggk mempan”
Saya berusaha membiarkan semuanya berjalan wajar. Gerakan
tangan saya wajar….  Semuanya berusaha
wajar, yang tidak wajar hanyalah mata saya yang terhipnotis mata kamu. 
Boleh pinjam mata coklat kamu?
Mata kamu seperti magnet positif yang membuat energy negative
saya bergerak. Dan saya duduk bersila di hadapanmu. Seperti biasa, bercerita
tentang apa saja. Tentang langit, tentang bintang, tentang masa depan….. dan
tentang masa lalu?
Masa lalu? Hei ….. ini bukan tentang lagu dangdut  kan?
Lalu saya bercerita panjang dan lebar. Entah kenapa saya
suka bercerita kepada kamu? Saya mengangkat alis. Ini tentang masa lalu….
“Bukankah semua nya bisa di awali lagi Raa?”
Saya menggeleng sambil tersenyum, “Tidak mungkin mas…. Dia hanya
bagian kenang masa lalu”
“Tapi tidak ada yang salah kan Raa”
“Salah sih nggk tapi kalau seandainya boleh memilih saya
tidak akan memilih”
“Kenapa Raa?”
Dalam hati saya berbisik, “bukan sedang wawancara saya kan?”
Saya selalu sibuk menyembunyikan pandangan mata saya agar
tidak langsung kontak dengan mata kamu. Retina coklat kamu ………
Saya bisa menggila……
Saya suka dengan retina coklat kamu….. dan retina coklat
kamu menempel pada mata kamu. Dan mata kamu berada di wajah kamu…….. Buat saya
kamu sempurna…… bolehkan saya memuja mu lewat catatan-catatan saya?
Boleh pinjam mata kamu? Yang berarti saya meminjam seluruh
tubuh kamu? Tapi hati kamu? Aaahh….. saya tidak akan keberanian untuk meminta
hati kamu. Karena hati kamu sudah pasti bukan untuk saya. Tapi bukankah hati
kamu ada di dalam tubuh kamu yang berarti menyatu dengan retina coklat kamu.
Lalu bagaimana ini?
Tau apakah yang ingin saya katakan ke kamu saat ini? Saya rindu
retina coklat kamu. Dan saya suka kamu menemani saya senja seperti ini sambil
bercerita. Tapi saya tidak mau bermimpi untuk terus meminta kamu menemani saya.
Saya menyimpannya … …saya berdiri dan terpaksa harus
meninggalkan kamu. Ketika saya harus bergerak dengan segala sesuatu yang
membuat otak saya melemah.  Padahal jika
memilih saya hanya ingin menikmati setiap detik-detik waktu bersama kamu. Hanya
menikmati saja sudah cukup. Saya memujamu. Sungguh…….. ini bukan sebuah
permainan. Karena saya tokoh antagonis yang sesungguhnya.
Melangkah di sebuah lorong, dan dan mata kita saling
bertemu. Dan ini yang paling saya benci…… karena saya tidak pernah berani
berkata di hadapan mu, mengenggam tangan kamu dan mengatakan, “Hei…. Tau nggak
mas? Aku suka sama retina mata coklat kamu”
Boleh pinjam mata mu?  Saya jatuh cinta dengan mata kamu dan anak
rambut yang jatuh di tepat kening di atas alis kamu.
Kamu itu candu ……. Dan saya terkadangi menunggu kamu
mengatakan, “Raa….. aku ….”. Biar saja menggantung tanpa saya teruskan
Sudah lah Raa….. khayalan mu selalu liar dan nakal.
Terimakasih sudah menemani senja hari dengan dengan
kekalutan otak saya yang sudah melemah.
Kamu morfin …….! Membuat otak saya bergerak kembali
walalupun dengan konsekwensi saya harus jadi pecandu kamu
Boleh pinjam matamu?
Tagged

3 thoughts on “BOLEH PINJAM MATAMU?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *