Catatan, Traveling

Bertemu Raja Ubud Bali dan segelas teh hangat

Mencari jejak Raja Salman di Pulau Bali bukan hal yang mudah. Pihak intelejen hanya member clue Pura Uluwatu, Garuda Wisnu Kencana dan Puri Ubud.

Hari itu, 6 Maret 2017 saya ke Puri Ubud dan bertemu langsung dengan Tjokorda Gde Putra A.A Sukawati, keturunan ke enam Raja Ubud Gianyar Bali. Tidak mudah bertemu beliau. Saya hanya modal nekat dan doa saja. Hingga akhirnya seorang polisi yang menjaga pos di daerah Ubud mengantarkan saya menemui “Sang Raja”.

Jangan tanya perasaan saya. Ketar ketir tidak karuan. Saya terlihat kusut dengan jaket kumal dan wajag berminyak bau matahari. Perjalanan cukup panjang hari itu hingga saya sampai ke Ubud hanya bermodal google map.

Sang Raja menemui saya dengan ramah. Saya mengulap peluh. Beliau menjawab banyak keingintahuan saya tentang Ubud, desa kecil yang ingin dikunjungi Raja Salman.

Pada tahun 1927, ayah dari Tjokorda Gde Putra A.A Sukawati, keturunan ke enam Raja Ubud Bali yaitu Tjokorda Gde Agung Sukawati sudah membuka diri dengan dunia luar. 

Menurut dia, pada saat itu Bali hanya digunakan transit dan satu-satunya hotel adalah Bali Hotel di sekitar Denpasar. Sambil menunggu waktu pelayaran selanjutnya, para tamu diajak ke Ubud untuk menikmati keindahan budaya, seni, dan tradisi yang ada di sana.

1931, Tjokorda Gde Agung Sukawati salah satu pioner yang mengawali pameran di Paris. Bahkan gerbang depan khas Bali juga diangkut kesana. Kepada saya ditunjukkan foto foto saat itu. Masih terdokumentasi dengan rapi.

Beliau pula yang membidani Pita Maha, perkumpulan untuk seniman Bali. Mereka mulai mengenal seni kontemporer pengaruh dari luar namun tetap memegang teguh jati diri sebagai orang Bali.

Tjokorda Gde Agung Sukawati juga memberikan kesempatan kepada seniman besar kala itu seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, Arie Smit dan Blanco untuk berkarya di Ubud Bali sehingga seni di desa Ubud berkembang dengan pesat. Ubud juga melahirkan seniman besar yaitu I Gusti Nyoman Lempad. 

“Pada masa itu adalah masa penjajahan, tapi Raja Ubud tetap menerima kedatangan orang asing untuk tinggal disini.Berinteraksi dengan orang-orang asli sini menghasilkan karya seni berupa lukisan, pahatan, ukir, patung. Bahkan kediaman raja boleh digunakan untuk menginap bagi wisatawan. Ubud itu semacam vas bunga yang diletakkan di meja dan siapa saja boleh menikmatinya,” ucapnya.

Bahkan sampai saat ini, wisatawan boleh berkunjung ke Puri Ubud untuk mengambil foto atau menikmati tari-tarian yang digelar di halaman Puri Ubud setiap malam. Tetapi untuk masuk ke dalam tempat tinggal, tamu harus izin terlebih dahulu

Saat ini ada enam museum legendaris di Ubud yaitu museum puri lukisan, museum Blanco, museum Neka, museum Pendet, museum Rudana dan museum Arma. Museum dibuat agar tidak semua karya seni di Bali di bawa keluar negeri dan bisa dinikmati di tanahnya sendiri.

Sementara itu, data Museum Puri Lukisan, salah satu museum tertua yang ada di Bali, menyebutkan, beberapa tokoh sempat berkunjung ke Puri Ubud. Seperti tahun 1962, Robert F. Kennedy, Jaksa Agung Amerika Serikat bersama istri.

Saat itu Tjokorda Gde Agung Sukawati menghadiahi lukisan dari Ida Bagus Made Poleng yang berjudul Arjuna Wiwaha.

Kemudian Ratu Juliana dari Belanda juga berkunjung ke Ubud pada September tahun 1972. “Saat itu ayah saya menawarkan segelas minuman air kelapa dan crorot jajan tradisional Bali kepada Ratu Juliana. Ada fotonya di museum Puri Lukisan,” sebutnya.

Pada tahun 1970-an, sang ayah menginisiasi pembuatan museum. Hal itu agar karya-karya seniman Bali tidak semuanya terbang ke luar negeri.

Saya akhirnya menyadari mengapa Ubud dipilih Raja Salman untuk didatangi.

“Ubud ini tenang, damai. Membuka diri dengan dunia luar tapi tetap menjaga tradisi leluhur kami,” katanya.

“Kamu orang mana,” tanyanya.
“Orang Banyuwangi,” jawab saya.
“Ahh bukan orang lain. Keluarga saya yang punya hotel Bali Adyana di Banyuwangi. Sayangnya nggak sempat diurusi'” katanya sambil tersenyum ramah. Dia mempersilahkan saya menikmati segelas teh hangat.

Maka terimakasih Raja Ubud atas pertemuan yang luar biasa ini.

Matur Suksma

 

Bali, Maret 2017

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *