Catatan

Berlayar lah dengan ku.

Nanti kita akan satu perahu bersama. Tidak akan menaiki perahu sendiri-sendiri. Kenapa harus perahu? sama ketika saya tidak bisa menjelaskan kenapa saya selalu mengirimkan surat pada Neptunus.

Tentu saja karena kedekatan batin saya dengan laut. Walaupun sampai detik ini saya tidak pernah bisa berenang. Rasanya damai saja saat melihat air yang mengumpul. Dan bagaimana saya selalu berdiri di atas buritan saat menaiki sebuah kapal atau memilih duduk di tempat yang saya bisa melihat air yang saya pikir seperti gel yang kenyal yang bergerak mengikuti ritme dan suara khas dengan ribuan kehidupan di dalamnya.

Apalagi katanya nenek moyang saya adalah suku Bugis yang tentu saja mereka adah pelaut yang ulung.

Mengawali perlayaran ini tentu dengan rakit atau gethek tanpa kemudi dan layar. Kita akan lebih mengandalkan insting pada alam. Tentu saja kita akan melakukan pelayaran dengan rute-rute yang pendek. Dan kita tidak perlu memasang balok keseimbangan di kanan kiri. Nanti jika kamu memutuskan untuk melakukan rute yang lebih jauh lagi maka kita akan segera membuat dayung dan juga layar.

Tidak perlu terlalu rumit. Kamu tahu? beberapa tahun lalu Dr. Alan Thorne mengadakan uji coba pembuatan perahu serba bambu, termasuk dayungnya, di Kep. Seribu, utara Jakarta. Perahu itu dilengkapi tiang dengan layar dari tikar pandan. Lalu dengan perahu itu Thorne menuju sebuah pulau, yang hanya makan waktu 30 menit. Kesimpulannya, perahu jenis itu yang dulu memang dipakai para pelaut Asia purba.

Nyatanya perahu serupa masih dipakai nelayan di Cina. Meski tanpa layar, perahu itu mampu menuju ke tengah lautan. Bahkan dengan membawa hasil laut seberat lima ton! Sayang, hingga kini tak ditemukan bambu sisa perahu purba. Mungkin karena bambu mudah lapuk.

Di Mesir kuno rakit malah dibuat dari alang-alang. Tahun 4000 SM, mereka telah membuat perahu sempit yang panjang lengkap dengan dayung untuk menyusuri Sungai Nil. Penemuan utama mereka lahir seribu tahun kemudian berupa layar segi empat. Mereka pula yang menemukan teknik membuat kapal papan. Berbeda dengan kapal papan sekarang, kapal papan Mesir sama sekali tidak menggunakan rangka. Papan yang satu hanya disambung dengan yang lain.

Antara tahun 2500 SM – 1450 SM suku Minoan dan Mycenea di Yunani secara bergantian menjadi penguasa Laut Tengah. Prestasi penting mereka adalah membangun kapal satu layar yang memiliki ruangan luas, serta merintis kapal perang dengan barisan pendayung.

Iya perahu sederhana. Hanya berisi aku dan kamu saja. Atau mungkin anak-anak kita nanti.

Tidak perlu perahu seperti era pelaut Phoenicia di timur Pantai Laut Tengah dan bangsa Yunani. Tahun 500 SM mereka punya kapal dengan dua tiang layar. Eksploitasi tenaga manusia terjadi di kapal perang Yunani. Tahun 700 SM mereka menggunakan dua susun – atas-bawah – barisan pendayung di tiap sisi, tahun 650 SM meningkat menjadi tiga susun atau trireme. Yunani pula yang merintis penggunaan layar segi tiga tahun 300 SM.

Atau seperti tahun 100 SM kapal Romawi merajai lautan. Kapal terbesar mereka berukuran panjang 55 m dan lebar 14 m dengan daya angkut 1.000 penumpang dan 910 ton barang.

Terlalu rumit untuk perahu yang akan kita buat berlayar bersama.

Aku tidak ingin kapal kita nanti seperti kapal terhebat di kawasan utara Eropa yaitu kapal Viking. Antara tahun 700 – 1000 mereka mengarungi Laut Atlantik Utara hingga Amerika bagian Utara. Sebagai perompak, merekalah teror di laut.

Kita bukan perompak kan?

Atau perahu tahun 1807 ketika Robert Fulton dari AS membangun kapal uap pertama. Kapal layar besi pertama, The Vulcan, lahir tahun 1818 di Inggris. Tahun 1959 AS meluncurkan Savannah, kapal dagang bertenaga nuklir pertama.

Hah? kenapa saya harus berbicara panjang lebar berbicara tentang perahu.

Kekonyolan saya kesekian kali.

“Berlayarlah dengan ku”, bisik di telingamu.

Saya tidak mempunyai jawaban apa-apa selain menundukkan kepala seperti tanaman putri malu yang terinjak sepatu.

“Saya ingin kamu di samping saya. Menemani saya”

Saya menatap mata kamu. Iya, mata yang kuharap mengajak untuk berlayar bersama.

Ketika saya memupus mimpi sebuah rumah panggung di tepi pantai. Aku ingin kamu menawarkan berlayar bersama.

Ternyata saya tidak pernah bisa menghentikan dongeng ini

.……..bagai mengarungi lautan lepas, menghadapi ombak badai

Pilih perahu tidaklah mudah, kita tentu tak mau tenggelam
Perahu ini milik kita
Naiklah jangan pernah kau turun

Bagai mengarungi lautan lepas, menghadapi ombak badai, menghadapi ombak badai

Berlayarlah denganku, bertumpulah di pundakku
Bersamaku engkau tak perlu ragu
Tatap mataku maka kau kan tahu, semuanya kan baik saja

Hidup bukan tuk berdiam diri, hidup ada tuk kita jalani
(berlayar denganku – sheila on 7)

Harapku senjaku selalu bersamamu

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *