Catatan, Kuliner, Traveling

Bercita cita menjadi pelayan rumah makan

Cita cita saya sempat ditertawakan seorang kawan, ketika bercerita ingin menjadi wartawan. “Jika kamu jadi wartawan, aku akan jadi aparat. Kamu akan aku tangkap karena kamu sering demo.” Namanya Adi, salah satu sahabat saya saat SMA. Seumur hidup mengenalnya, dia selalu berkepala plontos alias gundul. Saya hapal seminggu sekali dia selalu mencukur rambut menggunakan cukuran kumis warna kuningn

Terakhir saya bertemu mungkin 10 tahun yang lalu saat dia keluar dari penjara di Bali lalu pulang ke Sukowidi. “Kau benar benar jadi wartawan Raa. Dan aku malah yang ditangkap polisi,” ceritanya sambil tertawa. Sampai usianya diatas 25 tahun, dia masih tidak bisa membedakan mana wartawan mana aktivis. Maklum, kami besar di masa masa reformasi yang penuh berita demo di televisi.

Adi bertanya apalagi cita citaku yang belum tersampaikan. Aku menjawab menjadi pelayan di rumah makan. “Rasanya menyenangkan sekali Di. Bertanya lalu melayani orang yang kelaparan. Memberikan banyak makanan,” ceritaku menggebu-gebu. Ibu hanya tertawa dan mengacak rambutku saat mendengarnya. Dia menyediakan segelas teh panas untuk Adi yang langsung naik bus ke Jawa setelah keluar penjara dan berhenti di depan rumah.

“Kau layaknya menjadi bunda Theresia Raa. Tinggal di Kalkuta,” celetuknya sambil tertawa. Adi adalah seorang katolik walaupun bukan umat yang taat dan beberapa kali keluar masuk penjara. Tapi dia tetap sahabat saya.

“Beda lah Di. Aku siapa dan bunda Theresia siapa. Jaaaaaaaauuuhhh. Dia orang suci. Apalah aku yang dosanya udah kayak debu di bannya truk,” kataku sambil tertawa.

Tidak ada yang menyadari, bahwa saya benar benar pernah bercita-cita menjadi pelayan rumah makan. Rasanya menyenangkan sekali sibuk kesana kemari. Melayani. Membersihkan meja. Melayani pembayaran dan mengembalikan kembalian. Bertemu dengan orang orang baru. Menghapal kebiasaan mereka dari jenis makanan dan minuman yang dipesan.

Saya lupa apakah Adi saat itu pulang atau menginap di Sukowidi hanya saja mengingat ketika akan keluar rumah, ibu melafalkan doa doa baik buat Adi yang bersimpuh dihadapannya sambil menangis terisak keras sekali.

Maka hingga saat ini kadang saya membayangkan, tetap saja menjadi seorang pelayan rumah makan. Menunggu orang yang datang lalu memesan makanan. Kemudian dia menetap dan saya menghabiskan banyak senja bersamanya berdua.

Semacam pasangan yang mentraktir saya makan banyak sekali malam itu. Bahagia. Sehat dan semoga keluarga selalu direstui Gusti Allah dan semesta.

Terimakasih. Banyak doa untuk kalian berdua.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *