Catatan, Traveling

Belajar menghargai setiap siung bawang putih yang ditanam para petani

Kamis 22 Februari 2018

Jam 8 saya dan beberapa kawan sudah ada di Tawonan di lereng Gunung Ijen. Ada warung sederhana di sana. Dua tahun lalu, masih lapang dan saya masih duduk-duduk santai diantara ilalang-ilalang sok romantis. Bahkan dulu, saat tahun 2007-an, masih banyak tanaman tegak di sana. Saya hapal karena saat masih ada ibu, beliau selalu mengajak saya naik motor menelusuri bawah kaki gunung Ijen walaupun hanya sekedar membeli madu milik warga.

Kedatangan saya hari itu karena ada kunjungan Spudnik Sujono Kamino, Direktur Jenderal Holtikultura Kementerian Pertanian yang akan meninjau kawasan lahan bawang putih. Saat tahu saya sempat mengernyitkan dahi, dan baru ngeh dan sadar ada lahan bawang putih di Banyuwangi.

Menuju ke lokasi cukup ekstrim. Kebetulan saya menumpang jeep menuju lokasi lahan yang jaraknya sekitar 1 kilometer. Medannya berlumpur maklumlah musim hujan beberapa minggu ini. Beberapa kawan ada yang memilih jalan kaki lalu diangkut dengan traktor menuju lokasi.

Saya kaget luar biasa. Sepanjang mata memandang hanya hijau hamparan tanaman bawang putih. Saya berpikir bukankah ini lereng gunung yang menahan air yang seharusnya dipenuhi tanaman tegak? Saya ingat beberapa lalu membaca berita tentang tiga desa yang berasal dari Kecamatan Kalipuro dan Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, harus menjadi korban terdampak banjir bandang. Saya tidka mau menebak-nebak. Tapi logika yang harus bicara.

Kembali ke bawang putih, sejak di bukanya kran impor bawang putih pada tahun 1990-an, harga bawang putih tidak menarik lagi bagi para petani. Bahkan di Banyuwangi, tanaman bawang putih menghilang. Sudah tidak ada lagi yang menanam.

Pada tahun 2018, ada aturan terbaru jika importir wajib menanam 5 persen dari kuota bawang putih yang diminta. Jika kuota impor 10 ribu ton, maka yang berasal dari bawang putih yang ditanam adalah 500 ton dengan hitungan luasan 145 hektar. Hal tersebut dilakukan agar Indonesia bisa berswasembada bawang putih pada tahun 2019 nanti. Untuk berswasembada bawang putih dibutuhkan luasan lahan 26.650 hektar, dan sekarang baru ada sekitar 12.000 hektar!! kurang dari separuhnya.

Sekarang, kebutuhan bawang putih di Indonesia mencapai 500.000 ton per tahun, namun produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 20 persen. Untuk memenuhi kebutuhan bawang putih, Indonesia masih mengimpor dari China, Mesir, India, Filipina, Thailand, hingga Taiwan. Dan kewajiban menatap 5 persen tersebut diharapkan bisa menjawab keraguan apakah Indonesia bisa berswasembada bawang putih pada tahun 2019 nanti?

Pengembangan kawasan lahan bawang putih sudah dilakukan di Sembalun Lombok Timur NTB, Temanggung Jawa Tengah, Magelang, Karang anyar Jawa Tengah, Solok Sumatera Barat dan Tegal Jawa Tengah. Kedepannya Banyuwangi juga menjadi cikal bakal kawasan baru pengembangan sentral bawang putih.

Mengapa? karena estimasi panen bawang putih berlimpah. Dari rencana 500 ton ternyata sekali panen berlipat menjadi 2 ribu ton!! setahun panen dua kali. Lahan yang subur, pupuk mikro yang berasal dari gunung berapi dan hembusan angin laut dari Selat Bali mengandung mineral yang baik untuk tanaman.

Saat ini, ada 900 orang yang bekerja di lereng kaki Gunung Ijen.Jumlahnya akan menjadi seribu orang saat panen tiba pada awal maret nanti. Mereka menanam bawang putih varietas lumbu hijau dan lumbu Kuning dilahan 145 hektar. Lahan tersebut awalnya dikelola PT dengan Hak Guna Usaha (HGU) yang disewakan ke pihak swasta.

Jelang jam 11 siang.

Puluhan, bahkan ratusan orang turun dari lahan bawang putih yang berbukit-bukit mengingatkan saya pada bukit Teletabies yang ada di televisi. Pulang berarti meraka mengantongi beberapa rupiah hasil kerja keras mereka selama seharian. Ada dapur yang harus mengepul dan kebutuhan rumah yang akan terselesaikan dari uang gaji mereka hari itu. Sementara jauh di bawah lereng Gunung Ijen, ada masyarakat yang khawatir dengan musim hujan dan trauma banjir bandang yang menimpa mereka untuk pertama kalinya awal Februari 2018 lalu.

Kami ikut pulang diantar traktor menuju pinggir jalan raya Tawonan.

Saya ingat lagu milik penyanyi legendaris Koes Plus yang judulnya Kolam Susu.

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Beberapa tahun lalu dalam sebuah wawancara, Yon Koeswoyo vokalis Koes Plus bercerita dibalik pembuatan lagu Kolam Susu yang terinspirasi dari kekayaan Indonesia. Koes Plus membuat lagu itu untuk mendorong pemerintah kala itu secara halus. “Laut kita kaya raya, udang, ikan tapi ternyata di curi sama orang asin. Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman. Apa nggak surga itu?,” katanya saat itu.

Di tahun 1973, Koes Plus memilih kata kayu pada lagu Kolam Susu. Secara semiotik bermakna kuat, teguh. Tanaman kayu yang menyimpan cadangan air dan mencegah erosi. Pelajaran SD yang masih saya pegang saat ini. Hijau iya dan akarnya menghujam ke tanah. Bukan semacam rumput, hijau iya tapi rapuh.

Kembali ke bawang putih. Maka saya harus belajar untuk menghargai sesiung bawang putih yang memiliki rasa pedas khas dan kaya manfaat. Bawang putih yang saya jadikan bahan utama selain cabe, gula dan garam saat membuat sambel untuk ayam geprek.

Setiap siung bawang putih ada doa-doa para petani bawang putih agar panen yang berlimpah dan ada kekhawatiran masyarakat di bawah kaki gunung yang dihantui banjir bandang saat musim hujan datang. Dan kamu masih menyia-nyiakan setiap makanan yang ada di meja? dan memilih apatis dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar?

Ah. Semoga segera ada solusi yang terbaik agar alam terjaga dan semesta terus bekerja terbaik untuk manusia.

 

Noted.

Saya selesaikan catatan ini Jumat 23 Februari 2018 tepat jam 21.37 wib diiringi dengan lagu Desaku yang di nyanyikan oleh Bandanaira

Selalu ku rindukan. Desaku yang permai. Tempat ayah dan bunda dan handai taulanku

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *