Uncategorized

Batam : Blue Bird, Anggry Bird dan Blue Band

“Demo taxi pemko batam”

“Ya bang dari jam 6 tadi”

“Hah? Kakak ikut demo” (saya)

“Mona Korlapnya”

“Ya Raa”

“ckckckck…. Luar biasa” (saya)

“Bukan korlap tapi sutradara”

“Ini demo apa main teater” (saya)

“ Bisnis taxi bluebird menurut info adalah bisnisnya (………….) dll”

“Tapi kak lepas dari bisnis siapa kan memang batam harus ada taxi yang jelas. Yang Ira tau Bluebird itu kan jaringan” (saya)

“Taxi
sudah banyak Raa. Apa yang nggk jelas. Ada S. B taxi dll yang pake
kargo. Blue bird hanya jual nama/ merk. Yang punya taxi bisnis
perorangan”

“Iya sih kakak” (saya)

“Kok jadi bahas taxi”

“Tapi jujur ya kak, aku lebih memilih bluebird soalnya kualitasnya memang bagus” (saya)

“Gara-gara bang Pardi nih”

Obrolan
pun mengalir seperti air tidak ber hulu di group BBM.  Berbicara taxi
di kota Batam seperti berbicara bahwa garam itu asin, gula itu manis.
Garam dan gula memang beda walaupun selalu berjodoh untuk bertemu di
dapur untuk menghasilkan rasa umami atau gurih. Ups… apa gara-gara
berpuasa jadi saya berbicara tentang rasa, dapur dan makanan.

Mungkin
bukan hanya saya saja yang tidak bisa “berdamai” dengan taxi di Kota
Batam. Walaupun sekali lagi hal ini bukan untuk  men-generalisir
permasalahan. Ini hanya catatan pinggiran seorang perempuan biasa yang
tinggal di kota Batam. Hampir 2 tahun lebih yang lalu saat saya
menginjak Pulau Batam pertama kali saya harus di wajibkan naik taxi. Dan
saya secara tegas mengatakan. “Pokoknya mau naik taxi bluebird.  Selain
itu aku nggak mau”.

“Woi… kamu pikir ini Jakarta. Ini
Batam Raa. Nggak ada BlueBird di Batam. Dan kamu harus tawar
menawarharga. Dan kamu harus mau mau berbagi taxi dengan penumpang lain
yang searah kecuali kamu mau menyewanya”

Saya  terkejut, “Taxi….? Tawar menawar? Ini taxi apa angkot?”

Dan
akhirnya saya berdamai dengan kenyataan. Kedatangan saya pertama kali
di Batam harus menemui taxi yang harus saya tawar dan saya harus turun
di jalan, karena penumpang lain tidak searah dengan tujuan saya.  Pak
Sopir pun menurunkan saya dengan tampang tidak berdosa.


Huwaaaaaaaaaaaaa…………
kejadian selanjutnya juga membuat saya kapok naik taxi. Setelah
perjalanan jauh, saya sengaja menyewa taxi untuk pulang ke rumah karena
ingin nyaman dan tidak berbagi dengan penumpang lain sekalian istirahat
di dalam taxi.Tapi apa yang saya dapatkan. Rencana bobok manis di dalam
mobil hilang setelah sang sopir menghidupkan house music membuka
jendela, merokok dan parahnya  lagi dia singgah ke rumahnya untuk
mengambil anak istrinya untuk ikut dalam perjalanan saya. Saat saya
tanya alasannya dia bilang “Sekalian jalan-jalan kak. Kan ngantar kakak
jauh”. Dia pikir aku pengantin yang harus diantar satu kampong?

Anjrit……………….!!!!
Sejak saat itu saya bener-benar kapok untuk tidak naik taxi di Pulau
Batam kecuali satu taxi di sewa satu rombongan kawan. Saya lebih memilih
naik ojek atau duduk manis menunggu siapapun mau menjemput saya.
Saya
pernah berbicara dengan seorang kenalan tentang kondisi taxi di Pulau
Batam. Keluh kesah, protes dengan ketidak nyamanan yang di timbulkan.
Tapi dia dengan santai bilang, “tidak semua taxi seperti itu kok Raa.
Lagian mereka kan juga butuh makan. Butuh cari uang untuk keluarga
mereka. Jangan lah berpikir negative tentang taxi di Batam”. Dan
ternyata saya curhat pada orang yang salah karena dia adalah mantan
sopir taxi. Hadoeeehhh…….

Batam adalah sebuah kota yang
berkembang. Akan banyak orang yang keluar masuk ke pulau yang di klaim
sebagai “kota industry” dan “kota wisata”. (industry saya meng-amini.
Tapi kota wisata? Wisata apa ya? Wisata belanja atau “wisata” yang lain,
kata mereka wisata lendir). Dan mereka membutuhkan akses transportasi
yang layak, nyaman dan aman. Apalagi kendaraan yang bersifat privacy
semacam taxi. Saya tidak menyudutkan keadaan taxi yang saat ini ada di
kota batam. Tapi kenyataannya. Mayoritas Mengenaskan….. !! dan ini
serius. Bukan hanya keadaan tawar menawar harga atau tumpang menumpang
penumpang, tapi dari kondisi fisik taxi, para pengguna jasa transportasi
berhak memilih kan? Mereka membayar tentunya mereka juga bisa memilih
yang terbaik untuk mereka.

Siapa yang salah? Supir taxi,
taxi baru yang masuk, atau pemerintah? Saya tidak menyalahkan
siapa-siapa. Bahkan saya tidak juga akan menyalahkan mereka yang ada
dalam penjara,karena mereka yang masuk penjara belum tentu juga mereka
yang melakukan kesalahan. Dan saya juga tidak membenarkan semuanya. Tapi
setidaknya semuanya instropeksi diri untuk duduk bersama membicarakan
hal ini agar tidak berlarut-larut. Para sopir taxi mereka juga butuh
makan untuk keluarganya. Tapi para pengguna jasa transportasi juga
berhak untuk mendapatkan layanan transportasi yang jelas,nyaman dan
aman. Sedangkan pemerintah sebagai ujung tombak juga harus menyediakan
sarana transportasi tersbut dan berpikir bagaimana semuanya rakyatnya
bisa memenuhi kebutuhan hidup bukan hanya para supir taxi.
Dari
sebuah radio swasta saya mendengarkan 6 perusahaan taxi di Batam sudah
di tarik perijinanannya. Dan sisanya adalah milik perorangan. Bahkan
Organda pun angkat bicara bahwa pihaknya juga tidak di ajak bicara
mengenai permasalahan ini. Saya jadi bingung antara taxi resmi dan taxi
tidak resmi, jika ternyata taxi masih milik perseorangan? itu masuk taxi
resmi atau tidak resmi? Bagaimana ijinnya? Nahhh… ini mungkin yang
membuat taxi kurang pengawasan.

Tiba-tiba saya inga twaktu
saya masih sibuk dengan tumpukan pekerjaan saya dan laki-laki itu
datang di hadapan saya. “Nda… mau game Angry Bird?”. Saya mengangguk
kesenangan. Setelah di install saya duduk manis seharian memainkan satu
persatu level game tersebut. Bahkan sampai sekarang pun, jika saya bosan
dengan satu kegiatan maka saya akan memainkan Anggry Bird. Rasanya puas
saja melihat burung-burung marah itu berhasil membasmi babi-babi hijau.
Bahkan sesekali saya upgrade untuk mendapatkan level yang baru, dengan
nuansa-nuansa baru yang mengasyikkan. Mulai dari latar belakang pantai,
taman, haloween bahkan sama cinta-cintaan yang bernuansa pink.

Loo
Raa…. Apa hubungannya dengan taxi? Memang nggak ada. Tapi paling tidak
para supir taxi juga harus belajar banyak dengan game Anggry Bird.
Meng”upgrade” armada mereka agar lebih layak jual dan bersaing secara
sehat. Dan siapa yang memilih? Biarkan saja masyarakat pengguna taxi
yang memilih, bukankah mereka punya hak memilih yang lebih baik untuk
kebutuhan mereka. Jika pertanyaanya, bagaiaman cara mengupgradenya? Pake
dana siapa? La… apa gunanya pemerintah? Apa gunanya lembaga-lembaga
lain yang menaungi mereka? Ini yang namanya kerja.Bukan hanya duduk
manis dan tanda tangan setelah ada proyek saat armada baru yang datang.
Saya pikir pemerintah sudah berpikir untuk mencari jalan tengah dan
efeknya jauh sebelum mereka menyetujui masuknya armada taxi baru di
Pulau Batam. Saya bicara Pulau Batam bukan kota Batam. Pasalnya kalo
bicara Kota Batam, di Belakang Padang, di Pulau Sekanak boleh dong di
letakkan taxi?

Pesan masuk ke handphone dari  pembantu
saya. “Mbak…. Nanti kalo pulang titip belikan blueband ya. Soalnya kalo
masak pake blueband enak. Blueband dirumah sudah habis. Jangan merek
lain ya mbak. Kurang sedep”

Saya tertawa sendiri. La….
Pembantu saya saja bisa memilih yang terbaik untuk dirinya. Padahal saya
juga yang harus mengelurkan uang untuk membeli blueband pesenan dia.

Saya
harus mengakhiri tulisan ini sebelum ceracauan saya tentang taxi ini
semakin panjang lebar. Intinya adalah setiap keputusan yang menyangkut
permasalahan public  pastilah akan memunculkan dilemma. Menghasilkan pro
dan kontra. Mata uang saja ada dua sisi. Bahkan pisau pun harus
mempunyai dua sisi jika ingin di katakan tajam.  Dan tajam itu pasti
akan menyakitkan dan membuat luka.  Dan itu tugas pemerintah. Berat ya?
Ya iyalah… karena berat itu saya tidak mau duduk di pemerintahan dan
mending jadi warga biasa saja yang hanya bisa berkomentar.

Jadi
ingat Jakarta. Disana bluebird ada, taxi non blue bird juga ada, bahkan
taxi plat hitam pun juga banyak. Tapi bukankah mereka punya pangsa
pasar masing-masing?

“Mbak Ojo lali blueband nya ya”
Saya mengirim pesan, “Iya de….. nanti aku belikan 5 bungkus blueband”

Dan saya menepuk jidat saat di rak margarin di toko langganan, saya tidak menemukan blueband
“lagi kosong mbak….. banyak yang borong untuk buat kue lebaran”

Hasyemmm……… 
Saya geleng-geleng kepala. Batam… Batam…. Benar-benar dilema, antara
BlueBird dan Blueband. Dan akhirnya saya memilih untuk menghabiskan
siang ini untik bermain Anggry Bird dengan upgrade terbaru nuansa
cinta-cintaan berwarna pink.

Pak Hari…… saya pinjem photonya ya?

Tagged

2 thoughts on “Batam : Blue Bird, Anggry Bird dan Blue Band

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *