Catatan, Life Style

Bangau kertas

25 Oktober 1955, gadis berusia 12,5 tahun meninggal dunia. Kakinya bengkak dan berwarna ungu. Namanya Sadako Sasaki

Saat dia berusia dua tahun tepatnya 6 Agustus 1945, Hiroshima Jepang dijatuhi bom atom dan mengakibatkan 140 ribu orang meninggal dunia. Sadako Sasaki yang berada di jarak 1 mill terkena dampaknya walaupun dia dan keluarganya berhasil melarikan diri
Tiba tiba di usia 11 tahun, tubuh gadis kecil itu lunglai. Lehernya bengkak. Saat itu November 1955. Dia diagnosis leukemia, efek dari radiasi dari bom atom dan diramal usianya tidak lama
Sahabat Sadako,Chizuko Hamamoto menyambangi dan bercerita tentang burung bangau yang menjadi simbol panjang umur. Konon, jika melipat seribu bangau kertas maka doanya akan dikabulkan dan juga panjang umur. Chizuko Hamamoto kemudian melipat kertas menjadi burung bangau dan diberikan kepada Sadoko sebagai bangau kertas miliknya yang pertama.
Sejak saat itu, Sadako rajin melipat kertas menjadi burung bangau dibantu kerabat dan teman-temannya. Mulai dari koran hingga kertas bungkus obat. Dia tidak pernah mengeluh dan selalu terlihat bahagia walaupun dia tau bahwa usianya tidak lama lagi
Dia berhasil menggenapi seribu bangau kertas, lalu dia meninggal dunia. Teman temannya bersedih dan kemudian menulis tentang cerita Sadako. Mereka kemudian menggalang dana untuk membangun monumen untuk Sadako dan anak anak korban bom atom
Selama 3 tahun akhirnya Children’s Peace Monument, di Peace Memorial Park, Hiroshima berdiri
Ada patung Sadako di puncak monumen. Di bawahnya terdapat plakat berisi pesan dari anak-anak. Tulisannya: Kore wa bokura no sakebi desu. Kore wa watashitachi no inori desu. Sekai ni heiwa o kizuku tame no.
“Ini adalah seruan kami. Ini adalah doa kami. Untuk membangun perdamaian di dunia.”
Sadako sudah meninggal tapi semangat nya masih tetap hidup di tiap tiap bangau kertas yang dibuat. Bisa jadi ini adalah bangau kertas ke seribu yang pernah saya buat, bisa jadi lebih atau kurang dari seribu
Tapi bagi saya setiap melipat kertas menjadi bangau, mengajarkannya dengan kerumitannya, ada proses yang dilewati, kesabaran dan senyum dari mereka yang buat saya bahagia setelah berhasil membuatnya. “Kak.. bangauku sudah jadi”.
Iya. Membangun mimpi harus bersama sama. Saya sudah pernah berada di titik paling bawah. Terpuruk. Tersudutkan. Sehingga terbersit apakah masih mau untuk melanjutkan hidup
Saat itu yang saya miliki adalah harapan. Tidak ada lagi.
Dan terimakasih kepada banyak orang baik dari masa lalu saya, masa sekarang dan mereka yang akan hadir di masa depan. Terimakasih telah menjadi bagian dari #duniaira

Banyuwangi 19 November 2017

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *