Catatan, Fashion

Baju lebaran dan lemari yang penuh

Setiap akan ke acara kawinan, saya selalu geleng geleng kepala. Karena saya ‘merasa’ tidak punya baju yang layak buat dipakai.

Dulu, saya langsung memutuskan untuk beli ajah ah. Tapi tidak untuk 5 tahun terakhir ini. Saya memaksa bahwa saya ‘merasa’ punya baju yang layak untuk dikenakan . Ada gamis. Ada kebaya. Ada rok. Ada blezer. Ada celana kain. Lalu mengapa saya merasa harus beli baju?

Dulu saat melakukan perjalanan saya memilih bawa sedikit baju dengan alasan nanti bisa beli di lokasi. Tapi 5 tahun terakhir saya lebih memilih bawa tas ransel dengan banyak baju dari pada harus beli.

Dan hari ini saya membongkar lemari. Menyadari betapa saya selama ini hanya mengumpulkan ‘gombal’. Bahkan jilbab zaman masih SMA masih ada dan masih sering digunakan. Menghadapi tumpukan baju dalam dua kemari sambil geleng geleng kepala. Belum lagi kaos kegiatan, kaos khas daerah kalo pas jalan jalan. Kaos seragam. Daleman jilbab yang hanya dipake satu dua kali. Kerudung warna sama. Pashmina dan kawan kawannya. Belum lagi beberapa mukenah yang juga jarang dipakai. Lebih dari 3!!

Fix! Saya harus buat keputusan.

Memindahkan hampir separuh lemari ke tas kresek dan memilih yang benar benar saya butuhkan, bukan yang saya inginkan. Termasuk beberapa potong baju ibu yang selama ini saya simpan hanya karena untuk menyimpan kenangan. Menelpon kerabat dan memberikannya. Meminta untuk membaginya dengan orang orang sekitarnya.

Baju lama saya potong potong di modifikasi agar bisa dipakai untuk harian karena di rumah saya bukan pengguna daster.

Dan masih ada tiga lemari lagi yang harus saya bongkar!

Saya menyadari banyak kenangan dari baju baju itu tapi bukan berarti saya harus menyimpannya. Menyumbangkan berarti membuat kenangan itu tetap hidup. Membuatnya lebih bermanfaat.

Bukankah puncak tertinggi dari mencintai adalah dengan melepaskan?

Maka saya berjanji. Benar benar berjanji untuk membeli baju jika benar benar butuh. Jika membeli jilbab baru berarti harus ada jilbab lama yang diberikan pada orang lain.

2 minggu lagi lebaran. Dan saya yakin akan menjadi ajang pemburuan baju baru. Dulu ibu saya juga menganut tradisi itu tapi saya sudah stop tradisi baju baru-secara tidak sengaja-sejak 5 tahun lalu.

Kasian bumi ini sudah penuh dengan tissue bekas, dan masih mau ditambahi lagi dengan tumpukan baju yang nggak dipakai.

Sekarang liat isi lemari mu. Ambil beberapa item yang jarang digunakan lalu berikan ke orang lain yang lebih membutuhkan. Melakukan lal ini nggak akan membuat kamu terlihat rendah kok. Berbagi kebahagiaan itu luar biasa.

Dan putuskan juga untuk tidak beli baju baru buat lebaran demi keselarasan alam.

Selamat mengambil peran.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *