Uncategorized

BAIKLAH NDIK…..

Baiklah
Ndik….. bagaimana jika saya bilang lelah luar biasa? lalu berhenti
bukan untuk sejenak tapi selamanya? Membangun sebuah persinggahan
seorang diri. Di dalam hutan mungkin?

Ndik. Benar. Saya lelah.
Ketika saya tak butuh lagi sebuah pengakuan bahwa saya adalah perempuan
yang tidak perempuan. Perempuan Androgini mungkin lebih tepatnya.
Bagaimana jika saya tinggal di hutan saja? melupakan bahwa pernah ada nama kamu dalam kamus saya?

Ndik? lalu bagaimana dengan saya? apakah kamu pernah berpikir bagaimana
saya harus bergerak kesana kemari untuk menyeimbangkan otak saya?
menjadi manusia. Maka jika saya memilih maka saya akan menjadi perempuan
sosialita dengan sanggulan tinggi dikepalanya. Sayangnya Tuhan tidak
pernah memberikan sebuah pilihan dalam hidup saya?

Ndik.
Terkadang saya kehilangan banyak waktu untuk memikirkan diri saya
sendiri. Memikirkan sebuah masa depan yang pernah saya lukis di
catatan-catatan saya. Toh akhirnya saya sendiri yang menyobek-nyobeknya
lalu membuangnya ke tempat sampah dan kembali berdiri sambil
tertawa-tawa. Menggila dan bahagia bagi saya beda tipis.

Ketika saya menyepi dan menepi di Kota kecil yang saya sebut Banyuwangi.
Kota yang membuat saya menyebutnya pulang. Kota yang membuat saya jatuh
cinta berkali-kali pada Hujan. Kota yang membuat saya berdongeng
tentang Neptunus, Agen Neptunus dan Istana Laut. Kota membuat saya
menjadi pemimpi, pendongeng dan juga pegkhayal.


Dan mungkin
kamu semacam alarm untuk menghentikan semuanya. Dan nanti jika saya mati
ataupun pergi saya tetap ingin dikenal sebagai Iraa Sang Pemimpi.
Sebagai Agen Neptunus yan dikirim ke bumi untuk menyebar kebahagiaan.
Tidak perlu tahu lagi bagaimana kabarnya lagi. Karena sedikit demi
sedikit akan terlupakan. Semacam pelacur yang menua dan lalu mati
seorang diri. Sederhana saja bukan?

Cak Dedy sempat bilang
bahwa saya adalah orang yang merdeka. Saya hanya tertawa. Dia bilang
bahwa saya merdeka untuk menentukan hidup saya sendiri tanpa ada
tanggung jawab. Bebas lepas tanpa beban,

“Sawang sinawang Cak. Kalaupun ada perempuan atau siapapun itu berganti posisi dengan ku aku mau. Tidak mudah”

Lalu kami menghabiskan secangkir kopi kami masing-masing di trotoar
lampu merah perempatan Cungking. Wajah saya hitam legam. Biar sajalah.
Tiba-tiba saya tidak ingin menjadi cantik. Karena buat saya cantik itu
semacam “luka”. Tidak ada standart cantik semacam boneka barbie.

Iyaa benar. Saya hanya ingin bercerita. Saya hanya ingin menulis
tentang apa yang ada dalam otak saya ketika saya anggap tidak ada teman
berbicara. Menulis buat saya berbicara. Semacam bicara dengan tembok
atau atap kamar. Tidak perlu ada ada komunikasi dua arah. Karena
kenyataan berbicara pun hanya akan sia-sia. Hanya membuat suara saya
habis lalu menangis berjam-jam dan besok pun masih menelungkup dengan
posisi wajah membenam di bantal. Saya sendiri tidak tahu apakah nafas
saya berhenti atau jantung saya masih berdetak.

Gila! lalu ada
nyeri di dada saya seperti malam ini. Mungkin saya sudah kelelahan akut.
Otak, pikiran dan fisik. Apakah ini yang disebut pelarian.

Ndik. Semuanya harus berhenti dan kembali pada jalurnya masing-masing.

Saya butuh Santa Monica dan sedikit Mariyuana.

Atau mungkin saya hanya butuh sedikit pelukan serta bisikan, “Semua akan baik-baik saja Raa”

Jawaban yang pernah dia tanyakan, “Kenapa sih kamu ingin sekali dipeluk?”

Sederhana ketika pelukan membuat saya tidak merasa sendiri.

Semacam kopi. Selalu ada rasa pahit disana.

Finish. Istirahatlah. Berjeda pada malam. Lalu bermimpi tentang istana laut. Agen Neptunus dan Hujan.

Baiklah Ndik. Ijinkan saya tinggal di dunia ira. Dunia yang hanya
berisi saya, catatan kecil dan ribuan mimpi. Karena saya sudah sangat
lelah Ndik. Sungguh.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *