Catatan

Bahwa berbagi kebahagian itu adalah hak setiap manusia yang bernyawa

Minggu, 4 Februari 2018. Saya sengaja mengosongkan hari minggu yang biasanya padat merayap atau sekedar bangun siang dan bersih-bersih rumah. Bahkan memilih membatalkan liputan longsor yang menghilangkan dua nyawa di Songgon.

Jam 8 pagi saya berjanji akan mengantar Fitri Carlina, penyanyi dangdut yang hits dengan lagu ABG Tua. Iya. Dia adik kandung Nini Carlina yang juga penyanyi dangdut yang asli kelahiran Banyuwangi. Mengantar ke Kampun Baca Taman Rimba, Kampung Batara yang dikelo oleh Mas Widi dan istrinya.

Hampir dua jam lebih saya menunggu di pinggir jalan arah Kalipuro. Saya tahu Mbak Fitri (sengaja saya memanggilnya mbak di catatan ini sebagai penghormatan dia sebagai publik figure) berangkat dari hotel tepat jam 8 pagi dan masih harus singgah dibeberapa tempat. Selama menunggu saya berkata dengan Budi jika 3 jam saya bisa melakukan banyak hal atau mungkin jika naik kereta sudah sampai Jember. “La terus kok yo mbok lakoni ngenteni artis nang pinggir dalan koyo ngene,” tanyanya.

Saya mengangkat bahu dan bilang, “Nggak tau”

Mbak Fitri Carlina saat menerima kalungan bunga selamat datang dari Firman

Kembali saya mengingat alasan apa yang membuat saya menawarkan Fitri Carlina yang notabene artis dangdut ibu kota untuk main ke Papring. Jujur saya adalah folower akun gosip di instagram. Suata hari saya membaca postingan yang menjelaskan Fitri Carlina berang karena netizen yang mengatakan bahwa Fitri dan suaminya mandul. Saat baca saya sempat merasa “makdeg…”. Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang perempuan yang di panggil mandul. Nggak enak. Nggak asyik. Semacam sakit tapi nggak berdarah.

Dari obrolan kami di grup whatsapp hingga akhirnya japri, maka janji pun dibuat. Saya mengantar mbak Fitri ke Kampung Baca Taman rimba yang ada di Papring Kalipuro. Paling tidak saya tidak boleh egois. Ketika saya hanya mengajak aktivis, mahasiswa, pelaku seni, mereka yang sukses secara akademisi untuk berbagi ke taman baca, tidak salah dan bukan sebuah dosa kan jika saya mengajak seorang penyanyi dangdut ibu kota untuk melakukan hal yang sama?

Mbak Fitri datang dengan rombongan membawa satu mobil. Saya meminta dia mengikuti motor yang kami naiki hingga tiba di Papring Kalipuro. Anak-anak sudah menungu cukup lama. Mbak Fitri yang datang disambut dengan musik patrol dan lagu Umbul-Umbul Blambangan. Firman pun mengalungkan rangkaian bunga yang dibuatnya dengan Mas Ulil, wartawan Merdeka.com. Saat menerima rangkaian bunga, saya melihat wajah Mbak Fitri berkaca-kaca. Dia sedikit menangis. Suaminya beberapa kali menepuk pundak istrinya. Suasana masih tegang. Anak-anak kaku, Mbak Fitri dan suaminya juga masih canggung.

Perkenalan mereka mencair ketika mereka mulai bernyanyi bersama, dilanjutkan bermain gobak sodor dan engklek. Saya sempat menjaga jarak. Agak menjauh dari keramaian. Ibu-ibu yang berkumpul, tertawa melihat anak-anaknya yang takut menyentuh Mbak Fitri Carlina. Anak-anak yang lari kesana kemari tanpa takut jatuh atau sebagian bertepuk tangan menyemangati sebagian rekannya yang lain. Fitri Carlina yang juga tertawa sangat lepas dan lupa bahwa dia sedang disorot kamera. Suaminya yang membaur dengan bapak-bapak yang ada disana. Betapa membahagiakannya pemandangan di depan saya. Tidak ada yang penyanyi tidak ada yang warga sekitar. Semua membaur.

Saya terharu. Sangat terharu. Selama ini saya merasa egois dan sombong sekali dengan menjaga jarak dengan mereka yang berprofesi seperti mbak Fitri Carlina. Saya yang sempat mengklaim mereka yang bekerja di depan layar kaca adalah orang-orang yang menghamba pada kapitalis. Tapi saya lupa bahwa mereka juga manusia yang sama seperti saya. Mereka pun punya hak untuk bahagia dengan berbagi pada sesama. Tanpa pake drama dan setingan.

Pertemuan mereka berakhir dengan makan Savana Cake yang dibawa Mbak Fitri dan suaminya bersama-sama. Satu kampung berbagi rata. Lalu kemudian Mbak Fitri kembali bernyanyi lagu Lungset diiringi dengan Pendik yang bermain kendang. Hanya bermodal pengeras suara sederhana di mushola bambu milik Mas Widi.

Jika ada yang berpikir bahwa kegiatan itu hanya untuk membahagiakan Mbak Fitri, itu salah besar. Sangat salah. Mbak Fitri dan suaminya bahagia. Anak-anak dan warga sekitar Kampung Batara juga bahagia karena selama ini hanya melihat Mbak Fitri dari layar kaca.

Namun yang paling bahagia tentu saja Pendik, panglima Kampung Batara yang sudah duduk di kelas 6 SD. Dia bercerita kepada saya sempat di cemooh oleh temannya yang tinggal di dusun sebelah, ketika bercerita kalau Fitri Carlina akan datang ke Kampung Batara.

“Pas isun ngomong Fitri Carlina arep mrene jarene isun apus Mbok. Isun totoan 25 ewu. Ambi ngomong, hing kiro Fitri Carlina mrene. Ngundang nyanyi byaen 25 juta, endane riko duwe peces (Saya bercerita jika Fitri Carlina mau kesini, katanya saya bohong. Saya bertaruh 25 ribu. Dia bilang nggak mungkin Fitri Carlina kesini. Ngundang dia nyanyi saja 25 juta memang kamu punya uang?)”, kata Pendik.

Pendik yang bermain kendang, Fitri Carlina yang bernyanyi

Dia juga cerita lebih tiga kali menjemput di tepi jalan dan sempat ketar ketir Fitri Carlina tidak datang. “Bukan masalah uang taruhannya mbak. Tapi aku nggak suka dibilang bohong,” kata Pendik dan diaminkan Firman yang masih berumur 6 tahun. Saya hanya tertawa menanggapi cerita mereka. “Isun hing katene ngapusi riko ambi lare-lare. Dongakno kabeh sehat panjang umur myane bisa ndeleng lare lare batara sekolah sampe duwur,” kata saya.

Catatan ini tidak ada tendensi macam-macam. Saya juga tidak di endorse produk apapun atau di suruh oleh siapapun. Saya hanya ingin mengatakan dan menyampaikan bahwa berbagi kebahagian itu adalah hak setiap manusia yang bernyawa.

Jikalau Budi tanya kembali¬†“La terus kok yo mbok lakoni ngenteni artis nang pinggir dalan koyo ngene,” maka saya sudah bisa menjawabnya. “Bahwa setiap orang pun berhak untuk bahagia. Termasuk Fitri Carlina, saya dan anak anak Kampung Batara.. Hanya saja caranya berbeda-beda.”

3 cara hidup bahagia: energi, antusias, dan empati.

Jangan lupa bahagia.

2 thoughts on “Bahwa berbagi kebahagian itu adalah hak setiap manusia yang bernyawa

  1. Wah tulisannya menggugah sekali mbak . Tunggu kami berikutnya di kampung batara ya. Kami masih ada janji yang tertunda untuk bawakan buku buku bacaan untuk mereka. Doakan kami banyak rejeki dan dilancarkan segala urusannya ya mbak , agar kami dapat lebih banyak berbagi kepada orang2 yang membutuhkan, karena menurut kami nilai dari suatu kesuksesan itu tidak hanya untuk diri sendiri tapi berapa banyak kita bisa berguna bagi orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *