Catatan

Armanoe, penjaga mimpi Galuh yang lebih dulu pergi

Tepat jam 9 pagi saya tiba di jalan Garuda no 22 Kecamatan Genteng Banyuwangi. Jendela luar terbuka tapi jendela dalam tertutup. Ketuk ketuk pintu tidak juga ada balasan dari dalam. Saya melongok ke dalam dan hati langsung berdeba debar. Bukunya banyak, kata saya dalam hati.
10 menit tidak juga ada balasan dari pemilik rumah hingga akhirnya memutuskan untuk menunggu di warung depan. Hampir satu jam lebih dan hampir saja saya patah arah untuk balik kanan hingga melihat pintu terbuka pelan.
Saya berlari dan mengenalkan diri. Senyuman ramah dari pemiliknya. Armanoe, pensiunan guru yang telah berusia 75 tahun. “Maaf tadi sekalian istirahat dan sholat Dhuha baru saya buka pintunya,” katanya sambil mempersilahkan masuk.
Dia duduk di kursi dengan meja yang dipenuhi dengan buku bacaan dan ada lampu dan kaca pembesar. Saya memilih untuk berkeliling di ruangan depan yang di sulap semacam perpustakaan. Memegang beberapa buku dan membuat saya geleng geleng kepala membaca judulnya. “Ada 11 ribu buku disini. Kalau yang atas itu koleksi komik pertama anak saya, Galuh. Tapi dia meninggal tahun 2000. Saya meneruskan cita citanya untuk punya persewaan komik hingga hari ini,” katanya mengawali cerita.
Saya duduk di kursi dihadapan pak Armanoe. Dia pensiun guru seni rupa SMAN 1 Genteng. Banyak kawan kawan saya yang dulu menjadi muridnya. Pria kelahiran Sidoarjo 24 Desember 1943, mengadu nasib ke Banyuwangi. Ia mendaftar menjadi guru seni rupa mengajar di SMAN 1 Genteng sejak 1967 hingga dia pensiun.
Dia lulusan Akademi Seni Rupa Yogyakarta jurusan reklame. Mungkin saat ini reklame adalah jurusan desain grafis. Lukisannya bagus dia menunjukkan beberapa lukisan hasil karyanya.
Armanoe muda kemudian menikahi mantan muridnya. Sambil tertawa dia berkata. “Dimana saya tinggal, ya disitu saya membuat sarang”. Banyak. Banyak sekali yang dia ceritakan. Ada beberapa yang tidak saya kutip karena bagi saya cukup menjadi cerita saya dan beliau. Mulai dari judul judul buku, pengarang pengarang, hingga masa lalu jaman dia masih kuliah dan sedikit cerita tentang keluarganya.
Hingga di usia senja Pak Armanoe masih tetap setia membuka tempat persewaan komiknya walaupun sehari hanya satu, atau dua orang yang datang.Sewannya cukup murah, 500 hingga 2.500 rupiah perbuku dengan peminjaman paling lama 7 hari. Pada masa keemasannya dalam satu hari belasan orang datang menyewa dan rata rata satu hari ada 80 lebih buku yang dipinjamkan keluar.
“Ini bukan hanya tentang uang yang didapatkan dari menyewa buku, tapi bagaimana orang-orang mudah mendapatkan bacaan. Saya nelongso sekarang sudah jarang orang mau baca buku. Sebentar main gadget, handphone,” katanya.
Saya mengangguk. Saya merasa Pak Armanoe sedang menasihati saya yang bertahun-tahun terakhir lebih sering megang handphone dari pada buku.
Saay saya bertanya sampai kapan tetap membuka persewaan komiknya, dia langsung menyandarkan punggung di kursinya. Pandangannya lepas menyapu seluruh ruangan yang sunyi dan penuh dengan buku buku. “Sampai saya tidak mampu lagi dan Allah nyuruh berhenti. Sampai sekarang saya belum mikir kalau saya pergi mau di kemanakan buku-buku ini. Saya hanya menjaga mimpi anak saya Galuh, agar banyak orang yang membaca buku,” katanya pelan.
Banyak sekali yang kami bicarakan hari itu.

Saya jadi ingat ketika ibu dan bapak secara rutin mengajak saya ke tempat persewaan buku ketika saya mengeluh tidak pernah mendapatkan buku bagus di perpustakaan daerah. Masih bisa saya rasakan ketika masuk ke dalam ruangan yang penuh buku yang saya suka dengan mata berbinar binar. Mungkin saya bukan pembaca rajin komik tapi novel novel lama semacam Agatha Christie, Sidney sheldon, Enid blyton dan penulis lainnya sebagian besar sudah khatam saya baca di persewaan buku.
Buat yang di Banyuwangi, singgahlaj barang semenit atau lima menit siapa tahu ada komik dan buku bacaan masa lalu yang menggugah semangat untuk membaca kembali. Atau paling tidak ikut bersama sama menjaga mimpi Pak Armanoe untuk menjaga mimpi anaknya Galuh sampai akhir hayatnya. Ya benar. Menjaga mimpi harus bersama sama.
“Sampai sekarang masih baca pak?,” tanya saya.
Dia mengangguk dan menunjukkan kaca pembesar, kacamata dan lampu meja. “Tapi membaca sudah pake ini sambil menunggu pelanggan datang,” katanya sambil menunjukkan kaca pembesar sambil terkekeh-kekeh. Saya ikut tertawa.
Singgahlah. Bernostalgia lah. Ajak anakmu, istrimu, suamimu, pasangan mu. Bukankah harapan yang menjadi salah satu alasan orang untuk bertahan?
Selamat hari berakhir pekan. Berbahagia untuk terus merawat mimpi dan ingatan seperti Pak Armanoe.
Sehat dan panjang umur pak. Al Fatihah untuk Mbak Galuh yang hanya saya lihat dari fotonya yang terpasang di dinding. Bahagia mbak yang memiliki seorang ayah yang menjaga mimpi anaknya walau sudah tiada.
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *