Catatan

“Ari-arimu dilarung ke laut Raa”

Saat keponakan lahir dan ari-arinya dibawa ke rumah, iseng saya bertanya kepada ibu, dimana ari ari saya ditanam.
“Di Larung disana dek. Di laut,” kata ibu. Dan saya kembali bertanya apakah benar seserius itu? Karena saya pikir melarung ari ari cuma guyonan.

“Bapak yang nyuruh. Itu sudah tradisinya orang Bugis. Biar nggak kangen kangenan rumah pas merantau,” kata ibu. Saya hanya tertawa dan mengatakan sudah ada alasan yang lebih masuk akal mengapa jiwa petualang ini nggak bisa dibendung dan jarang banget untuk pulang dan diam lama di rumah.

“Ibu sih setuju setuju aja waktu bapak nyuruh larung ari-ari kamu. Ibu pingin kamu bisa keliling kemana mana. Nanti kalau pulang kamu bisa cerita sama ibu. Kamu sudah tau to harus pulang kemana?,” katanya. Saat itu mata saya berkaca-kaca dan memeluk ibu. Berjanji bahwa ibu adalah tempat saya pulang.

Beberapa bulan kemudian ibu meninggal. Dan saya lupa bagaimana rasanya pulang bahkan hingga detik ini.

“Pulang, nggak pulang juga nggak ada yang nunggu kamu Raa di rumah,” celetuk seorang kawan saat itu sambil tertawa saat saya sambat rumah Sukowidi sudah terlalu lama saya tinggal.

Ini hari ke 13. Padahal saya juga pernah berbulan bulan merantau tanpa pernah menginjak rumah dalam waktu yang sangat lama. Baju sudah dua kali loundry, stok baju bersih menipis. Kulit semakin menggelap dan bibir pecah pecah. Pola tidur pun berantakan. Konsumsi vitamin diperbanyak untuk menyeimbangkan fisik yang mulai drop.

Kembali saya ingat ibu, ketika seorang temannya berkata, “Duh Bu Is. Seneng yaa punya anak kayak iraa. Blaaa…blaaa..blaa….”. Waktu itu saya sempat besar kepala mendengarnya. Namun ibu secara tiba tiba tertawa dan berkata, “Kalo punya anak kayak iraa harus punya stok hati dan sabar yang banyak. Kalo nggak bisa stress. Wes anakmu jangan jadi kayak Iraa.” Saya meringis dan berbisik ke ibu, “Seharusnya ari ari adek di tanam di depan rumah aja. Jangan dilarung ke laut.” Saya merengut.

Benar. Jarak terjauh bukan kematian, tapi diabaikan.

Terimakasih Bu. Menjadikan anak perempuanmu seperti ini. Mencintai kehidupan. Mencintai semesta.

Doakan saja bu. Kelak akan datang seseorang yang meng-amin-kan mimpi mimpiku. Memiliki rumah kayu dengan ribuan harapan dan kebaikan didalamnya. Melahirkan anak anak secara ideologis, lalu kelak aku dan dia menua bersama

 

29 Agustus 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *