Uncategorized

APAKAH SAYA SUDAH MERDEKA?

.Apakah
saya sudah merdeka? hhmmm…..mungkin aneh jika saya menggunakan kata
“saya” untuk memaknai sebuah kemerdekaan. Mulai kemarin isi status FB
hingga blog bahkan bbm dan sms semua bertemakan kemerdekaan. Bahkan
lagu-lagu bertemakan Indonesia tibatiba saja muncul kayak cendawan di
musim hujan.  Saya heran…kenapa gema nasioanalisme hanya ada di
pertengahan bulan Agustus saja?. Berbicara sejarah…berbicara
perjuangan…bicara nasionalisme bukankah bisa di lakukan setiap waktu
dan setiap saat?
Saya selalu dianggap aneh jika saya menulis dan
membaca sesuatu yang “berbau” sejarah jika melakukannya di luar bulan
Agustus. Ya…saya tau jika saya adalah orang aneh. Tapi saya masih
mempertanyakan apakah saya sudah merdeka?

Ya…Indonesia
sudah merdeka. Sangat jelas sekali. Kalu belum merdeka lalu untuk apa
upacara tiap 17 Agustus? Tapi aplikasinya? saya rasa kita belum
merdeka….Ya…saya berbicara kita. Bukan saya. Kita bangsa indonesia
masih belum merdeka. Saya masih ingat jika Sukarno mengatakan bahwa
Bangsa Indonesia itu harus Berdikari. Berdiri di Kaki Sendiri. Saya juga
masih ingat mengapa Sukarno menggunakan kata “Marheinisme?”. Karena
dalam perjalanannya di Bandung dia menemukan sosok petani yang bernama
Marhein yan mengelola sawahnya sendiri, dengan alat-alat pertanian yang
dibuatnya sendiri. Di panen sendiri untuk diri sendiri. Berdikari.
Berdiri di kaki sendiri.  Hal itu yang menjadi inspirasi bagi Sukarno
bahwa bangsa Indonesia bisa berdiri untuk menentukan nasibnya sendiri.
Yaaa…..kita
telah merdeka di atas lembaran teks proklamasi dan pengakuan dari
negara-negara tetangga. Tapi kenyataanya kita masih belum merdeka.
Indonesia mengalami penjajahan neokolonialisme. Penjajahan jenis ini
dilakukan dengan cara baru misalnya penjajahan ekonomi dengan penerimaan
bantuan asing. Indonesia kini mengalami penjajahan bukan dalam bentuk
aksi militer melainkan kooptasi kepentingan asing. , Indonesia kini
kehilangan kedaulatannya di bidang politik, ekonomi, budaya dan
teknologi.
Setiap Undang-undang yang di buat oleh “anggota dewan”
terhormat pasti ada kepentingan dari asing. Ah…..lalu bagaimana kita
bisa berdikari seperti cita-cita Sukarno?
Kita terlalu
sering di bohongi dengan analisis-analis data yang membuat kening saya
berkerut. Hal yang sederhana adalah tentang jumlah angka kemiskinan di
Indonesia. Pemerintah mengklaim bahwa angka kemiskinan di Indonesia
menurun setiap tahun. Di jalan-jalan, jumlah kendaraan roda dua
meningkat, mobil-mobil baru memenuhi jalanan yang ada di Indonesia.
Melalui daerah pemerintahan pusat bahkan sampai ke pedalaman. Bukankah
itu menandakan bahwa perkekonomian masyarakat Indonesia membaik? tapi
seperti terbalik. Media-media memborbardir dengan berita-berita
kemiskinan….pencurian untuk alasan makan…membuang bayi hasil
perselingkuhan…korupsi……kematian karena kelaparan……masyarakat
yang maish tinggal di hutan dibawah garis kemiskinan? atau edisi pulang
kampung versi Nazarudin yang menghabiskan angka 4 miliar rupiah? Sesuatu
yang “njomplang”! Lalu mana yang benar?
Saya tidak tau….tapi
yang saya tau….di sekitar saya masih begitu banyak masyarakat yang
balik kucing dari rumah sakit karena harga pengobatan yang sangat
mahal…….Ibu-ibu bergosip untuk masakan yang paling sederhana agar
mereka irit dan tidak mengeluarkan banyak uang untuk berbelanja
bulanan…..Anak-anak yang harus berhenti sekolah karena ayahnya tidak
mendapatkan pekerjaan yang layak hingga tidak sanggup membiayai sekolah
anaknnya yang selangit. Lalu mana yang harus saya percaya?
Aaahhh…tiba-tiba
saya malas melalukan analisis tentang negara saya. Kembali ke
pertanyaan awal saya….Apakah saya sudah merdeka? lebih baik
menganalisis diri saya sendiri…karena faktor kesalahanya sangat kecil.
Kalau seandainya yang protes pun tidak perlu melewati dewa pers.
Apakah
saya sudah merdeka? Dengan tegas saya katakan bahwa sebagai seorang Ira
adalah orang merdeka. Ingin tau buktinya? saya masih bisa menulis semua
isi pikiran saya. Entah itu penting atau tidak penting. Saya masih bisa
mengekspresikan diri saya. Masih bisa bernyanyi sesuai dengan kata
hati….menulis puisi……membaca buku………Merdeka adalah sebuah
kebebasan mempelajari segala sesuatu tyang saya suka tanpa ada satupun
yang berhak mendikte saya.  Menentukan sendiri langkah apa yang akan
saya ambil untuk masa depan saya. Saya mempunyai prinsp walaupun suatu
saat nanti badan saya terpenjara dan terkungkung serta di batasi , tapi
yang terpenting saya bebas untuk bermimpi dan mempunyai pemikiran yang
merdeka. Karena pemikiran tidak pernah bisa di batasi oleh ruang-ruang
yang terkotak-kotak. Ya…saya adalah perempuan yang medeka. Walaupun
saya harus menyadai bahwa kebebasan saya masih harus bertoleransi dengan
norma-norma yang ada karena saya tinggal di lingkungan masyarakat yang
majemuk.
Tapi jika saya sebagai warga negara Indonesia.
Saya masih belum merasa merdeka. Karena kebebasan kita masih di dikte
dengan aturan-aturan dari luar. Karena saya harus membayar sangat mahal
berjuta-juta rupiah  untuk kesehatan saya, walaupun pemerintah
mengatakan bahwa semuanya gratis. Karena saya harus membayar mahal untuk
pendidikan saya. Karena saya harus membeli buku-buku yang sangat mahal
agar saya sedikit pintar. Karena saya harus menangis karena menantu
pembantu saya harus pulang kampung karena gajinya sebagi buruh bangunan
tidak pernah di bayarkan selama 3 bulan. Karena saya harus menyediakan
bahu saya saat seorang TKW menangis di bahu saya dalam perjalanan Batam –
Surabaya, karena dia adalah satu korban pelecehan dan didepotasi dengan
janin di dalam rahimnya. Karena ibu saya di pindahkan dari sekolah nya
karena ibu saya protes dengan tarikan uang untuk muridnya. Karena
Nazarudin pulang kampung dan menghabiskan anggaran 4 miliar rupiah.
Karena Antasari dipenjara hanya karena skandal perselingkuhan. Karena
buyut-buyut saya dianggap sebagau PKI dan aliran kiri. Karena anak
jalanan yang tertabrak mobil tepat di depan saya, dan mobil itu
melarikan diri dan saya hanya berteriak dan memeluk anak itu agar
bertahan. Karena seorang petani tua yang dibentak petugas rumah sakit
karena keluarganya masih belum menyediakan darah tranfusi akibat lukanya
jatuh dari pohon kelapa…..Karena……karena……ya karena saya
terlalu sering melihat ketdak adilan di sekitar saya.
Ah….sudahlah Raa…..
Sebuah
protes kecil dari kamu tidak akan pernah di dengar. Tapi paling tidak
bukankah saya membuktikan bahwa saya adalah orang yan merdeka? yang bisa
mengeluarkan uneg-uneg saya walaupun dalam catatan saya yang nggk
seberapa ini.
Sebentar….tiba-tiba saya ingi cek KTP
saya. Hhhmmm…..KTP saya lengkap ada 3. KTP Banyuwangi, KTP Jember dan
KTP Tangerang Selatan. Berarti saya adalah masih di akui sebagai warga
negara Indonesia dengan ketiga KTP saya. Padahal saya sekarang berada
jaaaaauuuhhh disebuah perbatasan Indonesia yaitu Pulau Batam.
Entahlah…..disini
rasa nasioanalisme saya benar-benar di uji. Saya ingin mengibarkan
bendera kecil saya di depan studio Radio saya. Walaupun kecil…tapi
saya masih bangga bisa mengibarkan bendera di tanah perbatasan.
Mengibarkan dengan sepenuh hati dan berharap agar Batam selamanya masih
dalam bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ya…mengibarkan
bendera bukan sebagai sebuah rutinitas yang dilakukan setiap tanggal 17
agustus. Tapi dengan ketulusan yang sangat tulus bahwa saya sangat
mencintai Indonesia ini. Selamanya……..sampai nanti saya mati. Ayah
saya mengajarkan pada saya, “Raa…..ayah tidak perlu mendapatkan
penghargaan dari pemerintah atas perjuangan ayah di Timor-timor. Tapi
Ayah akan sangat bangga jika kamu, anak gadis ayah bisa mencintai
Indonesia seperti ayah juga mencintai Indonesia. Mencintai dengan
keikhlasan. Mencintai Indonesia” Dan ayah mengajarkan padaku bagaimana
menghormat pada bendera di depan rumah dengan sikap sempurna. Ayah
mengatakn kepadaku, “Tidak mudah mengibarkan Bendera itu di Indonesia.
Karena harus di tebus dengan luka ayah dan nyawa teman-teman ayah”.
Ayahku adalah seorang pejuang sejati. DAEANG MOESA BIN RABIN SILA
apakah saya sudah merdeka? hhmmmm………entahlah….saya semakin ragu dengan jawaban saya.
Yang pasti saya bangga menjadi bagian dari Indonesia.
 
Pelabuhan Sei Guntung
17 Agustus 2011
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *