Uncategorized

ANTARA PUTERI MAWAR DAN PANGERAN LILIN

Puteri Mawar berada di singgasananya tidak terlalu tinggi

            Lebih tinggi Roro Jnggrang dalam Prambanan
Bersenandung kata tanpa notasi hilang dari angina
            “ Puisi terindah adalah sepi
              Waktu terindah adalah sunyi
              Lagu terindah adalah diam”
Puteri mawar sendiri di kamar merahnya tanpa cahaya
Sinar mana yang menerangi hatinya……..?
***
Pangeran Obor datang dengan api menjalar dari ujung kaki menepiskan malam
Beryanyi lantang sambil berdiri di tengah mimpi yang berubah menjadi surga
Bahkan bulan pun hilang saat di dating
Dan bintang-bintang berloncatan jauh masuk ke awan yang bimbang
“Kupersembahkan padamu, Putri Mawarku
Seluruh panas birahiku
Kan mememluk dan memuaskan nafsumu
Tanpa sedikitpun kau tepejam
Kan ku bakar dengan nyala api cintakudan kau menggelinjang di dalamnya”
Pangeran Obor menyembahkan api abadinya dan mulai membakar
ujung kaki Putri Mawar
Jilatan api menyala, terus naik perlahan tanpa meninggalkan luka
Pangeran Obor menjerit keras
“Jangan kau berhenti di sana api ku,,,,,,!!!!!”
Hilang, bahkan tanpa asap
Jelaga api hilang entah di bagian tubuh mana
Putri Mawar tetap tertunduk, mata terpejam dan tangannya terjalin doa
Bintang-bintang kembali bermunculan
“apimu tak dapat menerangi hatinya”
***
Putri Mawar sendri di kamar merahnya tanpa cahaya
Pangeran Matahari masuk dan membusungkan dada
Dari sana muncul seribu warna, berpendar-pndar tanpa batas memantulkan cahaya dari cermin Putri Mawar yang berkaca
Menyilaukan dan membuat Putri Mawar buta
Dunianya berubah gelap pekat ahkan tak bisa ia menikmati kamar merahnya
Jalannya tertatih-tatih sambil meraba
Saat tanggannya menyentuh jemari Pangeran Matahari
Tiba-tiba dia berlutut dan berkata:
            “Matahariku…..pergilah
            Kau tak dapat menerangi hatiku
            Mataku buta dengan seribu warna yang berpendar dari dadamu……
            Pergilah…pergilah……
            Biarkan ku tunggu sinar yang menerangi kamar merehku
            Dalam butanya matahatiku karena pesonamu”
Pangeran Matahari keluar sambil membusungkan dadanya
Dalam otaknya. Ia berkata:
            “ Puteri Mawar buta kerena cintaku”
***
Pangeran kelam masuk mengetuk singasana Putri Mawar
Dalam gelapnya. Dia rasaka sedikit angina menampar pipinya
            “Masuklah kelam….akan ku nikmati kedatanganmu”
Pangeran kelam duduk di singgasana merah sambil berkata:
            “ Siapa yang kau cari Puri Mawar?”
            “Dia….”
            “Dia siapa?”
            “Seorang pamgeran”
Pangeran Kelam mengangguk-anggukkan kepala sambil melukis angin diatas tembok
            “Dia akan datang Puteri Mawar”
            “Kapan…kapan….kapan Pangeran Kelam?”
Puteri Mawar berusaha mencari Pangeran Kelam dalam kebutaannya
            “ Aku telah terbakar api nafsu Pangeran Obor. Aku telah buta dri cahaya yang berpendar dari dada Pangeran Matahari”
Sayup-sayup Pangeran Kelam menghilang sambil membisikkan gema
di telinga Sang Puteri.
            “Dia akan datang…..dia akan datang……
            Puteri….Dia…..akan….datang……”
Kemudian hilang, tinggal Puteri Mawar dalam gelap dunianya yang terbakar api nafsu
Tiba-tiba di berdiri dan berteriak lantang
            “ Aku lahir dari kekuatannya; kekuatan Tuhan, kekuatan kata, kekuatan Pena, dan kekuatan alam”
Kekuatan ku temukan dalam pusaran waktu adalah pertemuan itu
Mengalirlah waktukudan menjadi bekas kering di meja pengoperasian jiwaku
***
“Kau…..apakah kau Pangeran Lilin”
Angin tiba-tiba berhenti, bulan diam tanpa cahaya dan bintang-bintang kembali berlompatan dalam awan yang mulai bimbang
Pangeran Lilin tertunduk, cahaya redup sederhan tanpa kata yang menusuk jiwa
Tiba-iba kamar merah Puteri Mawar berpendar warna putih, tentram, ayem, seperti suatu pagi di Ijen
Mata Puteri berkedip, cahaya Pangeran Lilin menghampiri perlaha
“Kunikmati waktu itu”
Sepenggal senja tertinggal dan ku potong-potong dan ku bagikan sambil berkata,
 “ Aku Bahagia “
Mata Puteri Mawar terbuka dan tertinggal seberkas sinar Pangeran Lilin
Redup dan memberikan makna terindah
Membangunkan surga dan menepis mimpi tentang seorang pangeran
Tak bisa ia berkata-kata
Bekas api nafsu Pangeran Obor luruh hilang tinggal keteduhan dan kedamaian dari bias Pangera Lilin
            “Tak ingin ku amah keabadian itu”
Puteri Mawar dari singgasananya-tak terlalu tinggi lebih tinggi dari Roro mendut engan seribu candinya-
            “Tetaplah di situ Pangeran Lilinku. Akan ku nikmati tiap biasmu”
Ada sedikit Tanya,
            “Apakah dia akan jadi milikku?”
            Atau
            “Apakah aku terlalu merah untuknya?”
                                                                                    J*****, 27 Mei 2003
Catatan           : entah sudah berapa kali puisi ini di pentaskan dalam bentuk musikalisasi. Dulu……saat keegoisanku masih ada. Aku jadi rindu masa-masa pencarian jati diriku. Kau percaya, jika puisi di atas aku ciptakan di jalanan kota J sambil menghabiskan segelas kopi hingga jam 2 dini hari. Pangeran itu kini aku temukan, sedang pangeran yang lain?…….. biarlah menjadi cerita dalam hati                                                 
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *