Uncategorized

AKU MATAHARI, HUJAN, WAKTU, PERJALANAN, DAN SECANGKIR KOP

Bukan sesuatu yang baru jika aku memanggil diriku Raa. Matahari. Bukan suatu aneh jika aku mencintai hujan. Sangat mencintainya. Bahkan aku bisa berjam-jam menatapnya sambil menikmati beberapa cangkir kopi. Kinesik hujan sudah membekas dan menjadi satu dalam nadiku.
Sempat mereka menanyakan, “Dimana kau bertemu dengan Hujan, Raa”
Aku segera menjawabnya, “Aku dan hujan ditemukan oleh waktu”
Ya…aku dan hujan ditemukan oleh waktu. Oleh kegilaan-kegilaan yang telah aku lakukan. Dalam sebuah perjalanan panjang hanya ntuk menikmati hujan dan ketenangan malam bersamamu sambil menikmati secangkir kopi.
Bukankah sebuah kenarsisan. Jika mengatakan aku Matahari, hujan, waktu dan perjalanan adalah satu garis lurus yang sejajar. Horizontal. Tidak ada yang di atas, tidak ada di bawah. Tidak ada yang mendahului. Tidak ada yang mengakhiri. Tidak ada yang di depan dan tidak ada yang di belakang. Semua sejajar. Sama. Tidak ada yang tinggi. Tidak ada yang rendah. 

Mempunyai mimpi untuk berhenti di kotamu. Melepaskan ransel di punggungku untuk selamanya dan mengabdikan diri menjadi perempuan yang utuh. Menjadi sepasang merpati yang tak pernah ingkar janji? menjadi Merpati? aku harus terbang? tidak….karena kita akan tinggal bersama untuk tetap menikmati hujan. Membunuh kelelahan dan kesendirian. Dan kelak aku akan baringkan kepalaku di bahumu. Bukankah kita saling mencintai. Tapi ego masih merangsek dalam hati ku, (atau mungkin hatimu juga?)

Dan inilah Aku. Matahari. Hujan, Waktu dan Perjalanan. Dalam Catatan Dunia Ira
Thanks to Lelaki Hujan
Inspirasi
(hhmmm….ketawa sendiri melihat header narsis. Raa bangettt)
Tagged

5 thoughts on “AKU MATAHARI, HUJAN, WAKTU, PERJALANAN, DAN SECANGKIR KOP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *