Catatan

Aku ingin menjadi puisi

Jika diperkenankan Mas. Aku ingin menjadi puisi yang kau tulis di sela-sela pekerjaanmu. Lalu kau baca diam diam ketika kita bertemu di jelang malam.
“Dik ini puisi yang aku tulis ketika aku membayangkan mengantarmu berbelanja dan kau bertanya apakah aku ingin sayur bening atau sop ayam,” bisikmu pelan kepadaku semacam berbicara pada bayi yang belum juga lelap tidur.
Mas. Kebodohan apalagi yang kita buat selain sama sama jatuh cinta tapi tidak berbicara. Jarak kita akan semakin lebar dan kita berdiri di masing masing sisi jurang.
Menjadi puisi mu yang kau tulis dengan tangan kanan sedangkan tangan kirimu menggenggam tangan kanankubdan kau lekatkan tepat di dada kirimu. “Di sini dik. Jantung yang selalu berdegup lebih cepat ketika kau menghampiriku dan bertanya namaku. Kau tahu dik. Saat itu aku tak bisa berkata-kata. Ini bukan tentang cinta tapi tentang jatuh. Jatuh hati pada kamu dik,” katamu semakin pelan.
“Dik cinta ini bukan tentang hari ini, lusa, tulat atau tubin. Ini tentang selamanya. Tentang aku yang akan mengantar kan anak anak berangkat ke sekolah. Mereka juga puisiku, kau tak perlu cemburu pada mereka. Anakku dan anakmu,” ungkapmu
Maka mas. Aku ingin tetap menjadi puisimu seperti kau yang selamanya menjadi tokoh dalam catatanku., walaupun kita tak pernah bicara
tentang cinta.
Kita butuh diam berapa lama lagi mas?
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *