Uncategorized

AKU (HANYA) WANITA BIASA

Aku ini wanita biasa / Bisa sakit luka karena cinta
Dingin sepi kerap menyapa / Air mata jatuh lukisan raga
Kadang ku kuat setegar karang / Kadang ku rapuh lemah liar merana

Maafkan aku bila hasratku keliru / Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih

Maafkan aku bila hasratku keliru / Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih hatiku
Kekasih hatiku maafkan aku / Aku wanita biasa

Saya
suka sekali lagu di atas. Lagu dengan lirik sederhana yang di nyanyikan
Krisdayanti. Saya tidak peduli siapa Krisdayanti. Bagaimana masyarakat
menyibir Krisdayanti sebagai pengganggu suami orang kah? Bukan istri dan
ibu yang baik? Atau bahkan di samakan dengan pelacur. Saya hanya
tertawa pelan jika ada sekumpulan perempuan-perempuan nyinyir yang
sepertinya paling tahu tentang Krisdayanti. Saling berloma-lomba
menyalahkan seakan-akan sekumpulan perempuan itu sempurna. Yang pasti
masuk surga.

Bukan hanya liriknya. Saya suka video
klipnya. Setiap saya merasa lemah. Terpuruk. Diam-diam saya selalu
memperhatikan tiap detail video klipnya di tengah-tengah kesibukan.
Ya…..saya  hanya wanita biasa.
Hari ini saya menulis sebuah status di facebook.

“ibu
saya selalu mengajarkan bagaimana caranya menjadi perempuan yang bisa
bertahan dalam keadaan apapun, tapi ibu saya lupa mengajarkan pada saya
bagaimana menjadi seorang istri yang pantas di banggakan suami!!! Saya
tahu saya telah berusaha belajar dengan keras tapi saya selalu
gagal……ya! saya gagal!”

Mungkin
saya adalah salah satu manusia yang tidak bisa menyembunyikan perasaan
saya. Saya hanya bisa jujur lewat tulisan-tulisan saya. Lewat
status-status facebook yang saya anggap sebagai tempat sampah buat saya.
Walaupun saya tau akan ada ratusan orang yang akan membacanya. Bukan
hanya satu dua tiga sahabat saya yang mengirimkan sama pesan kepada
saya, “kenapa kamu Raa” Dan saya hanya membalasnya dengan
“Hahahahahahaha….kayak nggk kenal ira saja”

Ya….saya hanya wanita biasa.

“Mbak
ira yg sy knl adl mb ira yg ceria,penuh semangat,energik,cerdas dll.
Jgn sedih dan putus asa mb. Lht layang-layang,dia bs terbang krn ada
angin,dan smkn angin itu kencang mk smkn tinggi terbangnya,so smkn
tinggi derajat mnsia mk smkn tinggi tingkat cobaannya…”

.

Iya…..ya…ya…..saya
tahu. Sebagian besar mereka mengenal saya sebagai perempuan yang
“sempurna”. Yang selalu tertawa, jauh dari kesan cengeng. Berbanding
terbalik dengan tulisan-tulisan saya yang sentimental dan terkesan
lebay. Tapi……saya mungkin dalam sebuah titik lelah. Saya akhirnya
membayangkan Krisdayanti. Seorang Diva Indonesia. Kesana kemari di sorot
kamera. Harus terlihat sempurna. harus terus menebar senyum. Mempunyai
segudang prestasi. Tapi pernahkah public melihat ke dalam kehidupan
pribadinya? Ah sudahlah…saya tidak akan membahas Krisdayanti. Dan
membandingkan Krisdayanti dengan saya yang memang sangat jauuhhhh
sekali. Seperti langit dan bumi.

Saya (hanya) wanita biasa
yang sering menangis di balik kaca mata saya. Saya sering berjam-jam di
dalam kamar mandi membiarkan shower menyala di tubuh telanjang dengan
harapan saya menjadi lebih segar dan tampak sempurna serta menghilangkan
mata saya yang bengkak karena tidak tidur semalaman. Ya…saya selalu
ingin terlihat sempurna di depan banyak orang. Perempuan energik.
Perempuan pemberani. Perempuan mandiri. Tapi kenyataanya…….

Saya
mungkin adalah salah satu wanita yang bisa di katakan berhasil, tapi
saya mengatakan bahwa saya bukan seorang perempuan yang pantas di sebut
istri. Ya….saya adalah istri yang gagal. Saya tidak pernah menyediakan
segelas teh. Tidak pernah menyediakan sarapan. Selalu berangkat paling
pagi dan pulang tengah malam. Tidak bisa memberikan seorang anak.
Ya….saya adalah istri yang gagal!!! 4 tahun saya berusaha mati-matian
bagaimana menjadi istri yang baik. Istri yang di banggakan oleh suami
saya. Istri yang selalu berada di samping suami. Mengesampingkan semua
mimpi saya. Tapi hari ini saya merasa sangat gagal……….karena tidak
pernah ada yang bisa saya banggakan sebagai seoang istri.

Saya
sudah berusaha menjadi seorang perempuan yang pantas di sebut istri.
Berdamai dengan sepatu ber hak tinggi. Belajar menggunakan pakaian yang
lebih feminim. Bersahabat dengan make up. Belajar bagaimana kehidupan
dapur. Tapi apa yang saya sampaikan? Semuanya sia-sia.

Saya
tetap lebih asyik dengan catatan-catatan saya. Dengan buku-buku saya.
Dengan laptop saya. Dengan cangkir-cangkir kopi saya. Dengan
kesepian-kesepian saya. Dengan kesendirian saya. Saya selalu berusaha
berdamai dengan kenyataan. Tapi kamu tidak pernah bisa mengerti saya.
Ah….saya egois…saya selalu ingin dimengerti tapi tidak bisa untuk
mengerti posisi dan jabatan kamu.

Dan saya akhiri catatan
ini dengan sebuah senyuman yang saya paksakan. Ketika saya harus berdiri
untuk melanjutkan perjalanan saya. Sudah berkali-kali saya terjatuh dan
kenyataannya saya bisa bangkit kembali.

“yang terpenting bukan perpisahannya, tapi bagaimana menyiapkan masa depanmu setelah itu”

Sms
dari sahabat saya yang membuat saya merasa tidak sendiri. Dalam hati
saya menjawabnya, “Saya bisa ka….saya bisa menyiapkan masa depan saya
setelah ini. Ibu saya mengajarkan saya bagaimana menjadi perempuan yang
bisa bertahan dalam keadaan apapun”

Ah….31 Januari
2011. Dan saya benar-benar mengakhiri semuanya. Saya membalas sms
sahabat saya, “Saya hanya berharap ada sebuah keajaiban untuk merubah
keputusan saya Ka”. 
Saya selesaikan catatan ini dengan irama dari Krisdayanti…..

Aku ini wanita biasa / Bisa sakit luka karena cinta 

Dingin sepi kerap menyapa / Air mata jatuh lukisan raga

Kadang ku kuat setegar karang / Kadang ku rapuh lemah liar merana
Maafkan aku bila hasratku keliru / Sulut gairah jiwamu
Ku yang dosakan cinta kekasih
SAYA (HANYA) WANITA BIASA………..
 

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *