Uncategorized

AKU BAIK-BAIK SAJA

Bagaimana jika aku bilang bahwa aku baik-baik saja.

“Nanti kita ke Bali ya”
“Iya”
“Eh kalo ada waktu kita ke Jogya”
“Iya”
“Eh kapan kita ke Jampit dan stay di sana”
“Nanti”
“Kapan-kapan temanin adek liat langit sama bintang di pinggir pantai”
“Kan sudah pernah Raa”

“Tapi mau lagi. Lebih lama lagi”
“Nanti kalau sempat minum kopi yaa pas sore-sore”
“Iyaa nanti dan jika kamu selesaikan tulisan mu”
“Tulisan ku bisa di tunda”
“Iyaa Raa nanti”

Maka saya akan berkata bahwa saya akan baik-baik saja. Dengan sekian
perjalanan yang menyatakan bahwa saya telah berani melawan ketakutan.


“Adek mau kamu temani dalam setiap perjalanan adek”
“Iraa”
“Adek mau tunjukan sama kamu apa yang adek temui yah. Apa saja. Bahkan
adek bisa cerita kenapa namanya Jampit. Adek tau sejarahnya”
“Iraa”

Maka saya lebih suka menggulungkan tubuh di bawah selimut merah dengan
panas meninggi. Mata yang berair. Ada foto bapak, ibu, mas nurul dan
saya di dinding kamar.

“Yah, adek bisa ambilkan minum air putih. Adek haus”
Mungkin saya mengigau. Saya tahu bahwa semua akan baik-baik saja.
Ketika ini hari saya menikmati senja pertama kali setelah berhari-hari
menikmatinya di jalan.

“Yah, adek bisa ambilkan minum air putih. Adek haus”
Saya mengigau kedua kalinya. Kamu tidak ada. Saya menelan ludah. Pahit.
Maka saya percaya semuanya akan baik-baik saja. Ketika mendadak saya
menjadi sedikit melow.

Kamu tahu bagaimana hebatnya sebuah
pelukan? Pelukan dari kamu dan mengatakan Raa semua akan baik-baik saja.
Tapi kamunya tidak ada.

Maka saya harus berdamai. “Sakitnya
disini,”
bisikku sambil menekan bagian ulu hati. Kamu tidak tahu. Kamu
tidak mengerti. Ketika saya mengatakan kepadamu, “Hei Yah. Semuanya akan
baik-baik saja
“.

*hening. Saya semacam Legenda Retno Dumilah saja.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *