Catatan, Life Style

Detox Medsos hari pertama : Mati gaya!

Belum juga 24 jam saya meng-uninstall aplikasi facebook dan instagram dari HP saya. Sungguh sungguh berat. Seharian saya memilih di rumah. Menulis satu berita lalu memilih tiduran di kamar. Saat bangun tidur, liat HP duh.. ada rasa nelangsa saat sadar kalo sudah nggak bisa lagi liat liat Facebook dan instagram. Keluar kamar juga bingung mau ngapain. Benar-benar mati gaya. Lihat tumpukan buku dan banyak yang belum dibaca, rasanya nelangsa namun malas sekali membukanya. Benar-benar sedih dan baper. Saya tidak menyangka semacam ini efeknya.

Akhirnya beralih pada majalah Intisari lama yang memuat tentang sejarah klenteng dan membaca cerita misteri tentang pembunuhan seorang milyuner. Selepas itu? kembali lagi bingung mau ngapain. Keluar masuk rumah dan tidak melakukan apa-apa dan akhirnya memilih tidur saja lagi. Saat bangun, keadaan membaik. Lalu memutuskan nonton film Perfume: The Story of a Murderer. Tentang seorang yang memiliki kemampuan penciuman di atas rata-rata dan terobsesi membuat parfum dari aroma 12 perempuan muda cantik yang dibunuhnya. Durasi film dua jam cukup membunuh waktu.

Lalu? melanjutkan film Christopher Robin, seorang anak kecil dari cerita Winnie The Pooh yang sudah dewasa. Sampai selesai? tidak.

Konyol ketika menyadari bahwa saya sangat lapar dan baru sadar jika uang yang ada di tas hanya 3 ribu rupiah yang berarti nggak mungkin bisa saya gofood. Menghela nafas berat dan keluar rumah untuk ke ATM ambil uang cash. Lagi-lagi cobaan kesabaran. ATM rusak dan kartu atm saya terblokir karena memasukkan pasword salah karena tombol angka macet!

3 ribu? nggak ada nasi bungkus seharga itu. Akhirnya? fix saya harus pinjam uang minimal untuk makan malam. Bucan bersedia meminjami saya uang dan sudah jam 9 malam. Hampir semua warung yang saya datangi tutup hingga akhirnya ada warung kecil nasi pecel. Memilih makan di piggir jalan duduk di trotoar sambil membaca website historia. Mungkin ini salah satu penyebabnya. Saya selalu melakukan semuanya seorang diri termasuk makan. Agar tidak merasa sendiri saya selalu stalking media sosial sambil makan. Kebiasaan makan sambil baca buku mengikis karena sedikit kerepotan bagi saya yang selalu makan di luar rumah.

Gusti Allah Maturnuwun…… 8 ribu dan kenyang.

Sebelumnya, Om Angger mengirim pesan ke saya dan mengatakan keputusan saya untuk mundur sementara dari medsos adalah keputusan sepihak.Dari jajak pendapat di instagram host #anggerirajalanjalan akan diganti, katanya bercanda. Dia juga mengirim screenshot komentarnya di facebook

Sumpah. Rasanya ingin saya batalkan komitmen mundur dari media sosial lalu stalking dan ikutan berkomentar. Tapi tidak. Saya harus belajar istiqomah. Ini masalah menyelamatkan kesehatan mental saya. Mundur sementara dari media sosial bukan berarti saya kehilangan teman-teman baik saya di dunia nyata.

Tiba-tiba saya ingat Afi, remaja yang masih duduk dikelas 3 SMA yang menjadi publik figure dalam sekejap mata di dunia maya. Tulisannya menjadi magnet. Dikomentari dan di sharing oleh banyak ribuan orang hingga diundang ke istana. Hingga saat ketahuan tulisannya plagiat, semuanya menjadi terbalik. Pujian menjadi hujatan. Anak remaja yang seharusnya masih bersenang senang dengan dunianya harus menghadapi kejamnya dunia maya.

Hampir 10 tahun lebih saya menggunakan media sosial dan puji syukur banyak hal positif yang saya terima. Menggerakkan komunitas, membuat gerakan bersama-sama hingga berbagi tulisan-tulisan baik. Namun semakin kesini saya merasa ada yang salah dengan diri saya. Bukan media sosialnya yang salah. Tapi saya pribadi. Dan saya ingin menebus kesalahan itu dengan detox medsos selama 2 minggu. Atau mungkin semacam sebuah uji coba dan memilih menjadi kelinci percobaan bagi diri saya sendiri.

Baru 20 jam saya mundur sementara dari media sosial dan menulis catatan ini. Apakah saya menjadi sedikit baik ? entahlah. Tapi kadar kecemasan sudah sedikit berkurang. Termasuk juga sakit kepala yang sebulan ini saya rasakan juga sedikit berkurang. Tidur malam saya juga lebih berkualitas. Mata panda? tidak berubah masih tetap. Namun yang berat dan harus saya jalani adalah rasa kesepian yang luar biasa. Menyergap. Tapi saya yakin bisa melewatinya.

Ini hari kedua. Apakah saya akan baik baik saja? semoga. Karena hari ini saya memutuskan untuk keluar rumah dan liputan seperti biasa.

Ternyata 14 hari itu lama ya. Bisa dibayangkan dirimu yang selalu berpesan jika saya keluar kota,”Kelamaan. Kok kamu nggak pulang-pulang”.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *