Catatan

Dari Glenmore hingga ke Kandangan mencari Suliono

:Bernegaralah dengan bahagia….

Minggu 11 Februari 2018. Jam 1 siang. Saya berhenti di pasar Jajag dalam keadaan basah kuyup. Menembus hujan lebat dari Perkebunan Glenmore diantar Budi, ketika mendengar ada penyerangan umat yang beribadah di Gereja Ludwina dan pelakunya adalah warga Kandangan Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi. Awalnya ragu, karena nama kecamatan yang beredar di media adalah Pesanggarahan.

Di pasar Jajag, saya cek kamera dan laptop dalam keadaan aman. Beruntungnya tas saya anti air, walaupun sedikit air merembah di tas. Hanya buku dan notes saya yang basah. Berlari ke toko baju dan membeli celana baru dan dapat ukuran 7/8. Baiklah. Yang terpenting adalah tidak semuanya basah. Baju atasan sedikit lembab.

Mbak Happy, Ivan, Cofi dan Suudi menjadi teman perjalanan ke Desa Kandangan Kecamatan Pesanggaran yang jaraknya 80 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi. Melewati hutan dan beruntungnya jalan menuju kesana sudah bagus. 3 jam perjalanan hujan lebat. Ini menjawab pertanyaan kawan saya beberapa waktu lalu. Apakah saat hujan wartawan juga tetap berangkat liputan. Jawabannya sudah jelas. Iya.

Kami langsung menuju ke rumah pelaku, di dusun Krajak Desa Kandangan Kecamatan Pesanggaran, Rumah kayu sangat sederhana. Seorang laki-laki tua duduk terdiam di di bangku depan rumah. Wajah dan tatapan matanya kosong. Istrinya berbadan kurus menggunakan daster berwarna coklat sedang menggunakan jilbab instan dan menyuruh kami untuk masuk. Kami ragu-ragu tapi tetap menghormati keluarga untuk duduk di dalam rumah. Sebelumnya, teman kami sudah datang dan diminta pergi oleh keluarga.

Di dalam rumah ada tiga kamar tanpa pintu hanya menggunakan selambu. Saya yakin ukurannya sangat kecil. Di ruang tamu ada beberapa kursi yang juga lusuh. Rumah sederhana yang ditinggali pasangan Mistadji (58) dan Edi Susiyah (54) yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Suliono adalah anak ketiga mereka.

Belum lima menit, ibu kandung Suliono meminta kami keluar setelah tahu kami adalah jurnalis. Baiklah. Kami menghargai keluarga mereka. Saya bisa membayangkan berapa kagetnya mereka ketika mendengar anaknya menjadi pelaku penyerangan gereja. Suliono berasal dari keluarga yang tidak mampu. Bahkan listrik di rumahnya masih belum terpasang dan nyalur dari tetangganya.

Dari cerita tetangganya, Suliono adalah pemuda yang pendiam dan memiliki suara yang merdu saat mengaji. Dia keluar dari Banyuwangi saat lulus SMP dan pergi ke Sulawesi dan tinggal bersama kakaknya. Lulus SMA dia ikut beasiswa bidikmisi sayangnya hanya bertahan dua semester karena beasiswanya ditarik karena nilainya menurun. Suliono memilih mundur dari kampusnya. Ia kemudian pindah dan mondok ke Magelang hingga kemudian melakukan penyerangan di Gereja Lidwina.

Kami pun pergi dari rumah Suliono lalu singgah ke rumah Pak Mubarok mantan kepala desa yang rumahnya hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumah keluarga Suliono. Beliau mempersilahkan kami untuk istirahan dan mengirim berita. Menyediakan kopi dan camilan. Beruntungnya adalah, banyak narasumber yang juga singgah di rumah Pak Mubarok. Bahagialah kami.

Jam setengah 8 malam. Polisi akan memeriksa keluarga Suliono di rumahnya dan sengaja tidak dibawa ke kantor polisi dengan banyak pertimbangan. Saya ikut. Teras rumah Suliono gelap. Saya bertanya kepada tetangga apakah setiap malam seperti itu. Jawabannya iya karena keluarga mereka hanya menyalur listrik untuk sedikit pencahayaan. Ruang tamunya pun minim pencahayaan. Saya nelangsa. Sedih luar biasa.

Ketika polisi akan memeriksa kamar pribadi Suliono, ibu kandungnya mulai histeris. Dia menolak dan meminta polisi untuk keluar rumah. Dan saya yang berdiri di dekat pintu kamar langsung shock saat ibu kandung Suliono membanting tubuhnya sendiri di lantai dan berteriak-teriak histeris menyayat hati.

Saya berpindah keluar rumah dan berdiri di teras menyaksikan semuanya. Merekamnya dalam memori saya. Bayangan saya kembali ke Suliono yang saya liat di video yang beredar sedang membawa pedang di depan Altar. Seandainya saya bisa bertemu Suliono, saya ingin bertanya apakah dia tidak ingat ibu dan bapaknya yang ada di Kandangan saat melakukan aksi itu. Orangtua yang taat beribadah, yang baik dengan tetangga. Yang bekerja keras untuk bertahan hidup. Yang doanya tidak berhenti dan putus untuk keempat anaknya.

Seorang ibu disebelah berbisik kepada saya. “Mbak. Ibunya sudah bolak balik mengingatkan anaknya. Katanya kamu boleh ikut kegiatan apa saja tapi jangan musuhi negara. Ibunya juga pernah bilang ke Suliono kamu jangan jadi teroris.”. Saya menganggukkan kepala.

Jam 9 malam. Semua warga masih berkumpul di depan rumah Suliono. Pak Mubarok meminta kepada warga untuk menjaga Kandangan tetap aman dan kondusif. Banyak doa yang diucapkan para warga yang berkumpul untuk keluarga Suliono agar diberi kekuatan.

Desa Kandangan adalah desa majemuk. Pura, Wihara, Gereja dan Mushola berdiri berdampingan, masyarakat pun adem ayem tanpa pernah ada pergolakan yang melibatkan isue sara.

Jam 12 malam, ,maka kami berlima memutuskan untuk pulang menempuh jalan 80 kilometer lebih dengan rasa lelah luar biasa. Saya yang masuk rumah Sukowidi jam 2 malam lupa bahwa baju saya sudah kering di badan. Saya tidak bisa langsung tidur, dalam bayangan saya masih lekat ibu Suliono yang histeris dan teriakan suaranya membelah malam sunyi di desa Kandangan.

Gusti Allah. Saya menghela nafas dan membaca Al Alfatih untuk menenangkan diri saya sendiri.Malam itu yang saya tahu adalah saya harus tidur walaupun cuma sebentar. Karena jam 7 pagi, perjalanan harus dimulai lagi.

Saya sempat bermimpi bertemu Suliono dan berbisik kepadanya. Mas. Bernegaralah dengan bahagia.

Noted

Catatan ini dibuat untuk merapikan kenangan atas hidup saya.

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *