Uncategorized

17 JUNI: JEMBER SAYA (pernah) TERKURUNG OLEH MASA LALU

Jember……. Jujur tidak
ada niatan saya untuk berkunjung ke kota ini. Kota yang pernah membuat
saya trauma, terluka dan patah hati. Kalau menggunakan istilah Deni,
“berakhir dengan pengkhianatan”. Saya tertawa……..

Saya
pernah hampir 7 tahun lebih tinggal di kota ini. Datang sebagai seorang
gadis lugu yang baru lulus sekolah menengah atas yang mempunyai
cita-cita luar biasa sebagai seorang penulis atau sastrawan. Iya
cita-cita yang tidak lazim bagi teman-teman seusia saya. Hidup prihatin.
Bagaimana caranya saya bisa hidup dengan uang 3000 rupiah per hari.
Mati-matian mengikuti cara pikir mahasiswa yang sangat hebat dalam
pandangan saya di usia belum menginjak 20 tahun. Masih sangat muda. Saya
sempat terkagum-kagum dengan pidato presiden mahasiswa saat itu. Saya
pikir dengan menjadi mahasiswa saya bisa menguasai dunia. Dan
ternyata……….

Sumatra 2 di lantai 2 Jember. Saya memulai
hidup saya. Sendirian….. saat ibu saya meninggalkan saya seorang diri di
dalam kamar kecil yang hanya berisi kasur tipis, lemari kayu yang sudah
rapuh serta meja kayu tua.  Saya menangis semalaman. Saya hanya
berpikir apa bisa saya hidup sendirian dengan suasana benar-benar baru.
Minim fasilitas dengan kamar mandi bersama.

“Kamu bisa Raa…. Kamu Matahari. Matahari itu bersinar di bagian bumi manapun.  Bukankah dimana-mana adalah Bumi Tuhan”


Malam
itu saya berjanji bahwa saya akan menjadi anak perempuan yang pantas di
banggakan oleh ibu saya. Bukan menjadi mahasiswa yang lulus dengan
nilai bagus dan tepat waktu. Dan doa saya ternyata di dengarkan dan
dikabulkan oleh Tuhan saya.

Sastra Indonesia. Jurusan yang
tidak masuk akan memang. Tapi saya suka. Bertemu dengan sahabat-sahabat
luar biasa saya. Saya tumbuh sebagai perempuan dengan jiwa pemberontak.
Tidak mau mengikuti orientasi jurusan. Saya ingat waktu itu ketua
Ikatan Mahasiswa Satra Indonesia memaki-maki saya dan mengancam saya
tidak bisa lulus dan harus ikut tahun depan bersama adik tingkat saya.
Saya hanya diam dan memandang senior saya yang pendek dan berambut
keriting, “Jangan paksa saya…. orientasi ini hanya kegiatan sia-sia dan
nggak ada untungnya buat saya. Dan tidak ada aturan resmi akademik”

Saya
mengawali dengan pemberontakan dan membuat saya mempunyai jarak dengan
kawan seangkatan saya. Biarlah….. dan saya memutuskan menjadi mahasiswa
independent dan tidak memilih berada di bawah bendera mana pun.

Tahun
kedua saya mulai mengenal organisasi itupun masih intern kampus dan
saya mulai gila dengen pengelitian. Lomba karya tulis ilmiah bidang Ilmu
Pengetahuan Campuran sampai tingkat nasional. Dan ibu saya selalu
mendampingi saya. Dia orang yang pertama kali menjadi teman diskusi
saya. Mendampingi saya sat saya menjadi juara ataupun menjadi tempat
sampah saat saya gagal di tingkat nasional. “Ibu selalu bangga dengan
kamu Raa. Ini prestasi luar biasa bukan”. Saya selalu terpekur melihat
ujung sepatu saya saat saya tidak bisa meraih juara 1. Lalu bagaimana
akademik saya? hancur dan saya tidak akan ceritakan disini………

“Adik di tawarin jadi penyiar bu… , tapi nggak di gaji”
“Adik mau?”
Saya mengangkat bahu, “Entahlah… apa bisa adik datang tepat waktu duduk berjam-jam di dalam kotak”
“Itu tantangan buat kamu Raa”

Saya kemudian mengiyakan tawaran sebuah radio swasta yang meminta saya mengajukan surat lamaran sebagi seorang penyiar.

Suatu hari di sekertariat, “Raa… kamu jadi penyiar”. Ketua Presiden Mahasiswa BEM
Saya memonyongkan bibir. Saya menyembunyikan profesi baru saya berbulan-bulan.

“Tidak bisa diteruskan… aktifis itu harus idealis. Kalo kamu jadi penyiar.. semua akan kacau”
“Toh selama ini baik-baik saja kan. Aktifis dan penyiar adalah dua hal yang berbeda. Jangan campuri ranah pribadi saya”
Saya mengeja kata itu, “Aktifis….”. Aktivis apa? Apakah saya pantas di sebut aktivis? Saya memperjuangan apa? Tidak ada……..

Saya
keluar dan memutuskan untuk hidup amphibi. Hidup di dua dunia. Saat
teman-teman saya masih suka dengan nonkrong atau hang out saya sudah
harus bekerja.  Bahkan sahabat-sahabat saya menjauh dan mencap saya
sebagai teman yang sombong!! Biarlah…. Ini hidup yang saya pilih.

Dan
disini saya juga merasakan patah hati yang luar biasa. Saat saya
memutuskan untuk keluar dari kost dan hidup mandiri. Dan ternyata….
Benar kata Deni. Pengkhianatan.  Ketika saya sudah menyerahkan kehidupan
saya. Menyakitkan secara fisik dan batin saya sehingga saya memutuskan
untuk menghilang dari kehidupan di kota Jember. Kembali ke Banyuwangi
dan memulai semuanya sejak nol. Men-delete nama Jember dari kehidupan
saya. Dan parahnya saya tidak mau melintas di kota ini. Jika ada jalur
lain saya akan memilih menggunakan Bali atau atau menggunakan jalur
situbondo. Ataupun harus lewat maka saya akan memejamkan mata dan
memasang music kencang ditelinga saya. Dan semuanya berlalu…….

Suatu hari di Banyuwangi

“Mbak Ira ada tamu di bawah”

Saya
turun dan serasa inginberbaik arah setelah melihat wajah itu. Ada
ketakutan. Ada kebencian. Dan saya melawannya. Saya tersenyum melewati
tangga dan menyalaminya dengan hentakan yang cukup keras
“Kamu tidak bisa menjauh dari saya Diajeng. Kamu  itu milik saya. Kamu butuh saya”

Saya
masih tersenyum dan berbisik di telingan dia, “Saya bukan perempuan
bodoh kamu lagi. Lihat…. Saya bisa kan hidup tanpa kamu. Saya mencintai
kamu tapi saya juga benci kamu perlakukan saya seperti ini. Saya bisa
hidup lebih baik dibandingkan hidup di bawah keposesifan kamu. Silahkan
kamu pulang jika kamu tidak ingin bermasalah dengan saya”
Dia
pergi dan saya berlari ke ruang  kerja saya meneruskan tulisan menjelang
deadline. Ada rasa sakit yang membuat air mata saya menetes. Saya
sangat mencintai laki-laki itu, tapi perlakuan dia terhadap saya membuat
saya harus mengubur mimpi saya di kota Jember. Gila memang… tapi saya
tidak suka larut dalam perasaan saya.

Setelah
bertahun-tahun  akhirnya saya berani menginjak kembali kota ini.  Tidak
ada yang berubah. Hanya beberapa bangunan baru, toko di kampus yang
berganti nama. Menelusuri jalanan kota ini membuat amnesia saya
menghilang. Saya mengingatnya kembali. Dan saya ternyata sudah berdamai
dengan kenyataan. Luar biasa…….
Dan kamu tau, sederhana keinginan
saya. Berharap bertemu dengan kamu di kota kecil ini. Sekedar
menghabiskan kopi di alun-alun Jember seperti yang  dulu sering kita
lakukan bersama setiap malam. Tapi kamu tidak saya temukan di sudut kota
ini.

Pada sebuah malam disudut alun-alun kota Jember.

“Itu adalah masjid….. itu adalah kantor bupati jember. Dan saya akan berdiri disini menunggu kamu pulang diajeng”
“Kalo kita nggak jodoh gimana”
“Kalo diajeng sendiri gimana”
“Saya
akan terus balik ke kota ini. Nanti walaupun kita tidak berjodoh saya
akan ajak anak-anak saya untuk berkunjung di kota ini dan menceritakan
bahwa saya mempunyai sahabat yaitu kamu”
“Aku tidak mau… diajeng itu milik aku”
Kamu
mulai mengeraskan rahang dan saya menepuk pipi mu perlahan. “
Sudahlah….. kita ditemukan oleh waktu dan akan dipisahkan juga oleh
waktu. Jaga emosimu”. Kamu menggenggam jemari saya…..

17 Juni 2012

Saya
berdiri di sudut yang sama di tempat kita berbincang ratusan malam yang
lalu. Berpuluh motor cross berlalu di hadapanku. Dan saya berharap
salah satu nya adalah kamu.

Zack…… semoga kamu baik-baik
saja dengan kehiduanmu. Dan lihat lah saya telah melepas kenangan dan
berdamai dengan kenyataan saat ini. Dan ternyata butuh waktu  waktu 7
tahun menghapus trauma itu.

Lalu terbersit sebuah tanya,
“Apakah saya harus berdamai dengan kenyataan yang terjadi saat ini?
Apakah saya harus memperlakukan Batam sama dengan Jember? Kembali ke
Banyuwangi memulai dari nol dan kembali lagi ke Batam 7 tahun kemudian
dan berdamai serta bersahabat dengan kenyataan? Dan saya tidak kan lagi
menemukan kamu di kota Batam”
Entahlah….. saya kembali mematahkan kegoisan saya satu lagi. Tapi tidak dengan kamu!!!

Saya
dan Mayor…. salah satu keponakan saya. Trouble Maker Junior. “Dia
persis kamu Mbak”. Saya berpikir kenapa hampir sebagian besar keponakan
bersifat seperti saya? Lalu bagaimana Aulia jika dia sempat terlahirkan?
Ah.. kita memang di lahirkan sebagai pemberontak Nak

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *