Uncategorized

17 JULI NATUNA : Saya bahagia walau pun saya harus terisolir dan sendiri

Dari sebuah jendela…… Sky Air
Natuna… Luar biasa! Itu kalimat pertama yang saya ucapkan dengan
bisikan dalam hati saat melintas di atas laut yang seakan hanya berjarak
sejengkal di bawah saya. 1 jam 30 menit menggunakan pesawat foker yang
isinya tidak lebih dari 50 orang. Takut? Iya saya takut! Perjalanan luar
biasa untuk mewujudkan mimpi saya. Turun dari pesawat berulang kali
saya meyakinkan diri bahwa saya tidak bermimpi. Iya … saya sudah berdiri
di tanah Natuna perbatasan Indonesia di bagian Utara. Dan saya seorang
diri … tidak ada satu pun yang saya kenal disini.
Mulai
dari atas pesawat , lensa kamera saya tidak berhenti memidik. Decakan
kagum saya membuat saya menggeleng-gelengkan kepala menikmati surga yang
terhampar di depan mata. Natuna…. Jauh dari apa yang saya bayangkan.
Sepi…. Bahkan terkesan ini bukan sebuah kabupaten tapi sebuah kampong
yang memiliki bandara untuk pesawat. Sederhana dan semuanya berjalan
sangat lambat. Lebih ramai kampong saya di Banyuwangi. Apakah saya bisa
bertahan disini? Saya tersenyum. Saya lebih bisa bertahan di sini di
bandingkan saat saya menginjak Jakarta. Sebentar lalu saya lirik
blackberry saya. Hadoehhh…. Tanpa sinyal. Dan itu berarti akses hubungan
saya keluar hanya bias dapatkan dengan nomer hp dan juga berharap modem
laptop saya berfungsi.
Saya mendapatkan sebuah penginapan
sederhana tapi sangat luar biasa. Sebuah penginapan kecil berbentuk
rumah panggung di lantai dua dan belakang kamar saya adalah laut. Saya
bersorak….. walaupun mewujudkan rumah panggung itu tidak pernah lagi aka
nada tapi paling tidak saya bisa menikmati nya disini. Kamarnya cukup
luas untuk saya seorang diri. Semua ornamennya adalah kayu. Saya
bernafas berat.. ah seharusnya kamu menemani perjalanan saya kali ini.
Sepersekian menit saya membuka laptop untuk menulis dan  saya kembali
bernafas berat kembali. Modem saya sama sekali tidak ada sinyal. Pupus
sudah….. akses internet saya benar-benar mati. Untuk kesekian kalinya
saya harus kehilangan kontak dengan dunia luar sana. Tapi entah kenapa
kali inisaya tidak mempermasalahkannya? Saya hanya menutup laptop
berganti baju dan melanjutkan perjalanan saya ke Batu Sindu. Sebuah
batu  penuh legenda tentang pasangan yang dipisahkan dan akhirnya sang
perempuan tewas di Batu Sindu. Hei… jangan berpikir saya akan ikut
meloncat dari batu itu walaupun saya dalam kedaan galau. Saya juga
melihat dari kejauhan Pulau Senoa, sebuah pulau yang berbentuk seperti
perempuan hamil yang tidur.  Kembali…. Perjalanan yang saya alami
seperti halnya sebuah benang merah dalam kehidupan saya dan saya sangat
menikmatinya.
Natuna…. Sebuah kabupaten yang jauh dari
kata ramai dan hiruk pikuk masalah yang membuat saya menjadi makhluk
asing di lingkungan saya sendiri. Di Natuna saya merasa nyaman, tenang
dan damai walaupun saya tidak menemukan akses internet untuk pribadi
saya.

“Dimana ada internet…”
“Lurus aja kak…. Kanan jalan tapi ya gitu lelet nya banget”
Akhirnya
malam ini lepas jam 9 malam saya terdampar di sebuah warnet dengan
musik yang berdentam keras. Ah.. entah kenapa saya tidak menyukainya.
Padahal beberapa minggu lalu saya menikmati dentuman musik ini dengan
bergoyang. Saya pikir house music yang di putar di warnet ini hanya
mengganggu Natuna yang tenang dan damai. Ah .. sudahlah saya akan akhiri
catatan saya yang tidak seberapa ini.  Saya hanya ingin mengatakan
kepadamu bahwa saya baik-baik saja walaupun tidak penting saya mengabari
kamu bagaimana keadaan saya saat ini.
Yang pasti malam
ini saya benar-benar menikmati sebuah perjalanan yang membuat hati saya
sangat bahagia. Iya sebuah kebahagian yang lupa kapan terakhir saya
rasakan. Kebahagian yang lepas tanpa tekanan. Natuna telah memeluk saya.
“Itu masjid Raya Natuna”
Saya kembali berdecak kagum. Saya merasa melihat Taj Mahal. Sebuah masjid dengan latar belakang gunung ranai.
“Saya ingin sholat disana”
Saya
terpekur dan seakan tidak percaya apa yang baru saja saya katakan. Dan
akhirnya berkali-kali saya kembali bidikkan lensa kamera saya kea rah
masjid itu. Sayangnya saya belum bisa membaginya di sini. Saat saya
menyadari bahwa saya berada di Natuna tanpa akses internet yang memadai.
Tapi biarlah paling tidak saya telah merekamnya dalam otak saya.

Perjalanan ku sampai sejauh ini hanyalah bermodal keyakinan seluruh naluriku…….

Saya membetulkan letak jaket hitam dan tiba-tiba bayang kamu mucul begitu saja.
“wujudkan mimpi kamu Nda…. Teruslah bermimipi”
Dan
saya akan terus bermimpi dengan atau kamu disamping saya.  Natuna peluk
saya …….. Saya bahagia walau pun saya harus terisolir dan sendiri
Natuna, 17 Juli 2012 : 22.00
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *