Catatan, Traveling

1,5 jam! Seblang Olehsari akhirnya nari

Catatan ini saya tulis untuk mengingatkan apa yg terjadi hari ini. Seblang Olehsari yg “hampir” saja gagal mentas. Ribuan penonton termasuk salah satu menteri hrs menunggu 1,5 jam dr jadwal yg ditentukan jam 2 siang.

Selama 1,5 jam saya melihat wajah wajah kekhawatiran bahkan tidak sedikit penonton yang menangis. Melihat bapak & ibu penari Seblang & kakak perempuannya yg pernah menjadi Seblang jg menangis.

Melihat wajah para panitia yg tegang krn acara tersebut jg dihadiri oleh seorang Mentri. Jk gagal maka ceritanya akan berbeda. Semua sibuk mencari apa yg salah hari itu. Pisan uborampe pun diganti. Beberapa orang-orang baru jg dihadirkan. Orang-orang yg selama ini diluar lingkar keturunan Seblang. Melalui media Kang Zaini yg kesurupan.

Jalan dgn pagar manusia jg dibuat menuju ke panggung Payung Agung. Konon untuk jalan para leluhur menuju panggung. Orang orang penasaran apa yg terjadi di bawah Payung Agung.

“Kadung sampe setengah 4 Hing kejiman. Wurung Seblange,” celetuk orang sepuh.

Setengah 4 kurang 3 menit lagi. Tiba tiba nampan yg dipegang penari jatuh. Dia menari pelan satu putaran, dua putaran. Tiba tiba ada energi yg melompat. Penari lincah menari menggerakkan selendangnya mengikuti musik. Semua bersorak. Semua bertepuk tangan.

Hampir satu jam setengah. Dan berarti acara pun mundur dari jadwal awal. Semua berjalan dengan lancar.

Sudah adzan magrib. Samarwulu.

Susi masih menari. Usinya sudah 17 tahun. Ini tahun pertama dia menjadi Seblang menggantikan Fadiah (12), siswa SD yang sebelumnya menjadi Seblang selama tiga tahun berturut-turut sejak 2015 hingga 2017.

Susi masih menari. Matanya terpejam. Dia tetap menari walaupun penonton sudah pulang. Dia menyelesaikan tugasnya hari ini dengan sempurna. Ada atau tidak ada menteri. Ada atau tidak adanya ribuan penonton yang melihatnya. Dia hanya perlu menyelesaikan tugasnya hari itu dan 6 hari kedepan. Yang dia tahu adalah dia punya tugas berat sebagai ujung tombak kepercayaan masyarakat untuk menghilangkan marabahaya di desanya. Sebagai jembatan yang menghubungkan antara Manusia, Sang Pencipta dan Alam.

Saya yang selalu nelangsa tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Ada keajaiban. Ada kesakralan. Ada benang kusut yang sulit sekali terurai dan tidak dipahami oleh akal sehat sekalipun.

Setiap manusia punya cara cara yang berbeda berbicara dengan Sang Maha.

Pulang nduk. Sudah malam..

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *