Uncategorized

BAPAKKU…..20 TAHUN LALU (atau lebih)


13 Februari….20 tahun yang lalu….(mungkin lebih), tepat malam pertama sholat tarawih.

“Adik mau minta apa bulan puasa tahun ini”

“Adik mau bapak pulang ke rumah. Nemenin adik baca buku sama cerita perang. Terus nanti lebaran sama Bapak, ibu dan Mas Nurul”.

“Sekarang
adik berangkat sholat tarawih sama emak. Doakan bapak cepet sembuh ya.
Biar bisa lebaran dirumah. Ibu ke rumah sakit dulu…..nanti nyusul ya
abis tarawih sama Kang Su. Katanya bapak pingin denger adik sama mas
ngaji. Tadarusan di rumah sakit. Adik mau kan?”

Aku mengangguk. Dan berangkat ke mushola kecil bersama perempuan tua. Mbah ku.

                # aku berusaha mengumpulkan kenangan itu#

“Pak….adik sudah bisa baca Al-Qur’an besar. Udah khatam Juzamma”

Bapak
mengelus rambutku. Aku dan mas nurul duduk di tepi tempat duduk tempat
bapak di rawat. Kami berdua mengaji gentian. Hingga akhirnya bapak
menyuruh aku dan mas nurul pulang.

Bapak kapan pulang? Adik pingin bapak cerita pak Karno lagi”

Aku
masih ingat memeluk bapakku erat-erat. Bapak membalas pelukanku sambil
berpesan agar aku rajin belajar, baca buku dan menjaga ibu. Dia mencium
keningku. Ibu menarik ku dari pelukan bapak. Aku berontak karena tidak
mau berpisah dengan bapak.

“Jangan dikasari Ira. Dia Raja Guk Guk”

Bapak memelukku sekali lagi. “Kenapa adik di panggil Raja Guk Guk”

Dia hanya terdiam, “Adik sekarang pulang sama Mas Nurul. Di antar Kang Su. Jangan pernah sakiti ibu. Ingat pesen bapak Raa”.

Aku mengangguk. Sampai detik ini aku masih ingat tatapan mata bapak saat mengatakan, “Jangan pernah sakiti ibu”

Tengah
malam aku terbangun, dibangunkan oleh bibi saya yang datang dari Bali.
Aku berteriak-teriak bahagia, karena aku pikir dibangunkan untuk sahur.
Melihat rumah terang benderang. Semua jendela besar di rumah terbuka.
Aku berpikir bahwa rumahku ramai. Semua keluargaku  berkumpul. Aku tidak
sahur sendiri. Rumah yang selama beberapa bulan terasa sepi karena
bapak di rumah sakit seperti sebuah rumah yang akan mengadakan pesta.

“Bapak pulang Raa….”

Aku
semakin bahagia. Bulan Ramadhan tepat 13 Februari lengkap. Bapak
pulang. Aku bisa tarawih dan tadarus bersama bapak aku. Aku keluar dari
kamar ke kamar ibu, dia tidak ada. Yang ada hanya Mbah ku yang menangis.

“Emak…bapak pulang ya”

Perempuan tua itu memelukku dan berkata, “Iya Raa. Bapak pulang surga. Ketemu Tuhan”

Aku
tidak tahu apa lagi yang terjadi. Tengah malam itu banyak orang yang
memeluk aku dan Mas Nurul sambil menangis. Aku bingung hingga semuanya
terjawab saat ibu turun dari Ambulans dan diikuti peti mati di
belakangnya. Aku menghambur di pelukan ibu yang saat itu memakai baju
hitam nya dan kerudung putih,”Bapak sudah mati Raa”.

Mati…sebuah
kalimat sederhana untuk anak-anak yang masih berusia 7 tahun. Saat itu
aku hanya berpikir bahwa aku sudah tidak punya bapak. Saat aku masih
belum tahu bagaimana tanggung jawab aku kepada ibu. Aku ikut menangis
karena ibu ku juga menangis memeluk aku dan Mas Nurul.

Aku berbisik sama Mas Nurul, “Mas….kita sudah nggk punya bapak. Bapak sudah mati”. Mas menjawab, “kita Yatim Dek…”.

14. Februari…..(20 tahun lalu) atau lebih

Aku
lebih memilih menggunakan celana pendek, kaos abu-abu gambar sukarno
yang dibelikan bapak dan menggunakan topi motif doreng yang juga di
berikan bapak. Aku memasukkan rambut panjang ku ke dalam topi.

“Raa…mau mandikan bapak buat yang terakhir”.

“Nggak mau. Bapak sudah mati”.

Bu
Ipah, adik emak cuma menangis dan memelukku. Aku berontak dan berlari
menuju sepupu-sepupuku yang berkumpul di pojokkan rumah.Iibu melihat
dengan ekor mata nya mengikuti langkahku. Aku diam. Dari tempat aku
berdiri aku melihat bapak yang di pangku oleh 3 laki-laki. Kau tidak
ingat lagi siapa mereka. Bapak ku di mandikan dengan air bunga. Wangi.
Badan bapak kurus sekali tinggal kulit yang membalut tulang. Semua orang
menangis. Aku menghitung 3 kali. Dan berharap hitungan ke tiga bapak
bangun dan memelukku. Aku tidak peduli bapak ku akan memeluk ku dalam
keadaan telanjang seperti itu. Sampai hitungan ke sepuluh bapak sama
tetap tidak bangun. Aku meneteskan air mata karena harapan agar bapak
bangun ternyata sia-sia. Sepupu laki-laki saya berbisik,”Mbak Ira jangan nangis. Pak De Musa sudah mati”

Tiba-tiba
saya benci dengan kata mati. Karena mati berarti aku tidak bisa lagi
berbicara dengan bapak. Tidak bisa lagi bertemu. Ibu memanggilku dan aku
langsung bebalik berlari sekencang-kencangnya ke lapangan bola belakang
rumah dan menangis sejadi-jadinya tanpa ada orang yang tahu. Saya
berteriak, “Allah…………….kenapa bapak harus mati”.

Kematian pertama yang aku kenal hingga akhirnya aku bersahabat dengan namanya kematian secara berulang-ulang.
Aku
menyelip di antara ratusan orang yang ada di kuburan keluarga. Aku
melihat jasad bapak di bungkus kain putih di masukkan ke dalam lubang.
Aku tahu pasti di rumah semua orang bingung mencari aku. Mereka tidak
bisa melarang aku untuk mengantar bapak yang katanya sudah mati. Aku
terduduk di bawah pohon kelapa sambil menunggu semua orang pergi dari
makam bapakku. Aku ingi baca Al-fatihah di makam bapak ku yang katanya
sudah mati. Setelah makam kosong dan adzan dzhuhur terdengar , aku duduk
di sebelah makam bapakku. Aku hanya bisa membaca Al-fatihah, sambil
bercerita bahwa aku pingin lebaran sama bapak. Aku pingin raportku di
ambilkan bapak. Aku pingin bapak cerita lagi tentang Pak Karno. Tentang
Kahar Muzakar. Tentang peperangan. Semua ceritaku sama bapak terpotong
saat ada seseorang yang menjewer telingaku dan menyuruh ku segera
pulang. Tetanggaku……

Aku pulang gontai dan sampai di rumah semua orang memeluk ku dan kembali lagi menangis. Ibu hanya dia memandangiku, “Adik dari bapak, Bu”.
Ibu tidak menangis seperti orang-orang lain. Dia hanya berkata, “Mandi terus tidur….kalau nggk puasa makan dulu”. Aku menganguk. Aku ingat pesan ayahku, “ Jangan pernah sakiti Ibu Raa”.

Selepas
berbuka puasa, dan tahlil untuk bapak. Rumah sepi. Beberapa saudara
sudah pulang. Aku tidak bisa tidur masih berpikir bagaimana orang bisa
mati. Aku ingin bertanya sama ibu tentang mati. Saat membuka pintu
kamar, aku melihat ibu yang menggunakan mukena menangis sambil memeluk
sebuah photo. Aku menangkap kalimat dari bibir ibu. “Pak…..gimana aku harus besarkan Ira sama nurul seorang diri. Kenapa bapak pergi dulu ninggalin ibu”.
Ibu mengisak………Saya melongokkan kepalaku dan melihat photo aku,
bapak dan Mas Nurul yang ada di pangkuan ibu ku. Aku menutup pintu
pelan-pelan. Ternyata bukan hanya aku yang kehilangan bapak. Tapi juga
ibuku. Aku diam dan naik ke tempat tidur ku di kamar belakang, tidur di
sebelah Mas Nurul. Dalam hati aku berjanji tidak akan pernah menyakiti
ibu ku.

#13 Februari 2012

Aku
mengumpulkan sisa-sisa kenangan itu. Kenangan bersama laki-laki yang
menitipkan darah nya padaku. 20 tahun lalu atau lebih? Aku sendiri lupa
bagaimana wajahnya. Aku hanya ingat mata nya yang tajam seperti mataku.
Alisnya juga lebat. Badannya kecil bahkan tidak akan ada yang menyangka
bahwa dia adalah bagian dari Angkatan Darat Udayana Denpasar Bali. Tidak
sampai 7 tahun aku mengenal bapak ku. Apalagi 7 tahun itu bapak tidak
selalu menemani ku. Mengambilkan raport ku seperti bapak-bapak
teman-temanku yang lain.

Pak……sekarang adik bukan lagi
bocah perempuan berambut panjang yang berwarna merah karena terlalu
sering main di pantai. Bukan lagi bocah yang bercelana pendek,kaos
oblong, topi dan sepeda mini dengan keranjang di depan. Adik bukan lagi
anak-anak yang selalu merajuk saat bapak mau berangkat kerja ke Bali.
Adik sekarang adalah perempuan dewasa yang masih belum bisa di banggakan
oleh bapak dan ibu. Dengan keegoisan adik. Dengan keras kepala yang
katanya di turunkan dari bapak. Adik juga tidak bisa menjalankan amanat
bapak untuk tidak menyakiti ibu. Sudah beberapa kali adik membuat ibu
menangis karena sifat keras kepala adik.

Bapak boleh
protes sama adik karena adik selalu menulis tentang ibu. Bukan karena
adik tidak sayang dengan bapak. Tapi karena adik memang tidak punya
banyak kenangan dengan bapak. Adik tetap anak perempuan bapak, yang
masih sering menangis diam-diam. Pak…..adik kangen sama bapak.

20
tahun lebih bukan waktu yang gampang buat adik hidup tanpa bapak. Lihat
pak…seperti apa adik sekarang. Apakah adik persis ibu atau bapak.
Pak…..dalam perjalanan panjang, adik selalu mencari laki-laki seperti
bapak. Dan adik menemukannya pak. Tingginya, alisnya, rahangnya, apalagi
matanya. Kalau sudah menatap seakan hilang dalam cekungan mata. Dia
baik kan pak…………? Ya dia sangat baik. Baik sekali…..walaupun sampai
sekarang adik masih belum bisa memastikan apakah dia masih mencintai
adik atau tidak. Nanti akan adik kenalkan, “Dear…..ini bapakku.
Bapak …….ini lelakiku. Lihatlah kalian seperti orang kembar hanya saja
warna kulit kalian saja yang sedikit berbeda”
.

Bocah perempuan kecil bercelana pendek memakai topi memarkir sepeda mininya di jalan samping rumahnya.
“Dari mana Raa”
Bocah itu kesulian membawa buku “Di Bendera Revolusi” yang sangat tebal dari keranjang sepeda mini-nya.
“Adik dari makam bapak. Adik baca buku ini disana. Adik kangen Bapak, Bu”.

20 tahun itu telalu berlalu…………………………..

Saya, bapak dan Mas Nurul
Tagged

2 thoughts on “BAPAKKU…..20 TAHUN LALU (atau lebih)

  1. speechless mbak membaca ceritanya… jadi teringat ibu saya yang hampir 100 hari ini meninggalkan kami… semoga mereka yang udah mendahului kita mendapat tempat terbaik di sisiNya… amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *